Mata Lebam Siswi di Palembang Disebut Akibat Pertusis, Benarkah Begitu?

Palembang, mata lebam, palembang, mata siswi sd di palembang lebam, Mata Lebam Siswi di Palembang Disebut Akibat Pertusis, Benarkah Begitu?, Apa Itu Pertusis?, Dokter Spesialis Mata: Bukan Karena Pukulan, Dokter Lain Ragukan Diagnosis Pertusis, Kasus Masih Dalam Proses Penyelidikan

Kasus viral siswi SD Negeri 150 Palembang berinisial F (7) yang mengalami mata merah dan lebam terus menjadi perhatian publik.

Setelah ramai dugaan kekerasan di sekolah, kini muncul keterangan medis berbeda dari pihak puskesmas yang menangani sang anak.

Melalui unggahan di akun Instagram Wali Kota Palembang, @ratudewa, dokter dari Puskesmas Gandus menyebut kondisi mata merah pada F merupakan dampak dari suspek batuk pertusis.

Menurut dokter puskesmas, F sempat dibawa ibunya berobat pada 27 Oktober 2025. Saat itu, sang ibu menjelaskan bahwa anaknya sempat demam selama seminggu dan mengalami kemerahan di sebagian kecil mata kiri yang sudah tampak bengkak.

Setelah diperiksa menggunakan stetoskop, ditemukan bunyi berisik pada paru-paru disertai batuk berulang. Dari hasil tersebut, dokter menyimpulkan F mengalami gejala suspek batuk pertusis atau rejan.

Apa Itu Pertusis?

Dikutip dari Ayo Sehat, pertusis merupakan penyakit pernapasan menular yang disebabkan oleh bakteri Bordetella pertussis. Penyakit ini dikenal sebagai batuk rejan, ditandai dengan batuk hebat diikuti suara tarikan napas bernada tinggi seperti “whoop”.

Gejala awalnya menyerupai flu biasa, namun berkembang menjadi serangan batuk parah yang dapat berlangsung berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan. Pada anak-anak, pertusis dapat menimbulkan komplikasi serius jika tidak segera ditangani.

Dokter Spesialis Mata: Bukan Karena Pukulan

Sementara itu, dokter spesialis mata dari Rumah Sakit Fatimah dan RSMH Palembang, dr Riani Erna SpMK, memberikan penjelasan berbeda. Ia menilai kondisi mata F tidak menunjukkan tanda-tanda akibat kekerasan fisik.

“Jika dilihat dari sisi medis, F bukan korban kekerasan pemukulan di sekolah,” ujar dr Riani.

Menurutnya, pada kasus kekerasan biasanya luka hanya muncul di satu mata, bukan di kedua mata seperti yang dialami F.

Riani juga menjelaskan bahwa kondisi tersebut bisa saja terjadi karena peradangan akibat infeksi atau virus, bukan efek benturan.

“Awalnya mata merah dan radang itu jika dibiarkan akan membuat mata menjadi lebih merah dan radang yang mengakibatkan selaput mata berdarah,” katanya.

Ia menambahkan, bila disebabkan kekerasan atau pukulan, maka luka biasanya hanya tampak pada satu sisi. Namun dalam video yang beredar, kedua mata F tampak merah dan bengkak.

“Itu bukan akibat pukulan dan juga bukan karena terlalu banyak menggunakan handphone,” tegas Riani.

Menurut analisisnya, peradangan tersebut disebabkan oleh infeksi dan lemahnya sistem imun. Kondisi serupa sering dialami penderita infeksi saluran pernapasan atas (ISPA).

Riani menuturkan, kondisi itu tidak berbahaya dan tidak menyebabkan kebutaan, meski membutuhkan waktu penyembuhan cukup lama.

“Yang perlu diwaspadai yakni jangan mengucek mata terlalu kuat karena bisa menggores kornea. Kalau kornea tergores, itu yang bisa mengganggu penglihatan,” ujarnya.

Dokter Lain Ragukan Diagnosis Pertusis

Meski begitu, sejumlah tenaga medis menyoroti keterangan tersebut. Dokter gigi drg Mirza Mangku Anom melalui unggahan Instagram-nya menilai ada kejanggalan dari klaim bahwa mata lebam F disebabkan oleh batuk pertusis.

Mirza membagikan tangkapan pesan dari seorang dokter spesialis anak yang menyebut bahwa ciri pertusis seharusnya ditandai dengan batuk yang masih terus berlangsung.

“Kalau pertusis, sampai sekarang pun anaknya pasti masih batuk. Pertusis tidak hilang secepat itu. Itu namanya raccoon eye, dua bola mata terkena trauma tumpul,” tulis dokter tersebut dalam pesan yang dibagikan Mirza.

Rekan-rekan sejawatnya pun disebut meragukan diagnosis itu. “Kalau dari sisi bedah agak sulit mendiagnosis pasti pertusis, karena pertusis punya gejala lain yang lebih menonjol,” tambahnya.

Dokter Mirza juga menyoroti pengakuan F yang sempat menyebut dirinya dianiaya guru yang memakai cincin.

“Misalkan memang benar itu pertusis, lalu kenapa adik itu bisa menyebutkan bahkan yang melakukan adalah ‘bu guru yang pakai cincin’? Kenapa?” ujarnya.

Ia mengimbau agar pihak medis berhati-hati dalam menyampaikan diagnosis terutama dalam kasus yang menjadi sorotan publik.

“Saya belum dapat informasi pasti apakah benar ada dokter puskesmas yang memeriksa dan menyatakan itu pertusis. Tapi saya menyarankan untuk berhati-hati dalam menegakkan diagnosis,” kata Mirza.

Kasus Masih Dalam Proses Penyelidikan

Kasus dugaan kekerasan terhadap siswi SD Negeri 150 Palembang ini kini tengah ditangani oleh pihak kepolisian. Orangtua korban telah melaporkan peristiwa tersebut setelah menemukan kondisi mata anaknya lebam sepulang sekolah.

Dalam laporannya, ibu korban menuturkan bahwa anaknya sempat bercerita dipukul oleh guru yang mengenakan cincin. Pihak keluarga juga telah menjalani pemeriksaan dan menyerahkan bukti visum ke penyidik.

Menanggapi hal itu, dokter Mirza Mangku Anom menyebut bahwa proses hukum telah mulai berjalan.

“Saya barusan banget dapat kabar dari teman-teman di sekitar sana bahwa prosesnya sudah berjalan. Mari kita tunggu hasilnya, keadilan harus ditegakkan bagi siapa pun,” tulisnya di Instagram Story.

Pihak kepolisian juga masih mengumpulkan keterangan dari sekolah, guru, dan tenaga medis untuk memastikan penyebab pasti kondisi mata F.

Sementara itu, Pemerintah Kota Palembang menyatakan akan mendampingi keluarga dan memastikan penanganan kasus berlangsung transparan.

Publik kini menunggu hasil penyelidikan resmi untuk menjawab apakah benar kondisi mata lebam F disebabkan oleh infeksi batuk pertusis atau faktor lain seperti trauma fisik.

Sebagian artikel ini tayang di TribunSumsel.com dengan judul Dokter Mirza Ragukan Penyebab Mata Bocah Siswi SDN 150 Palembang Merah & Lebam karena Alami Pertusis

Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Ikuti terus update topik ini dan notifikasi penting di Aplikasi KOMPAS.com.