Wayang Kulit Palembang: Warisan Budaya Abad Ke-17 yang Hampir Punah

Wayang Kulit Palembang, Hari Wayang Nasional, Hari Wayang Nasional 7 November 2025, wayang kulit palembang, wayang kulit khas palembang, Wayang Kulit Palembang: Warisan Budaya Abad Ke-17 yang Hampir Punah

Wayang Kulit Palembang, salah satu warisan budaya Indonesia yang telah diakui UNESCO, kini menghadapi tantangan besar: hampir punah.

Untuk menjaga keberlanjutan seni tradisional ini, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Sumatera Selatan (Disbudpar Sumsel) menggelar pertunjukan Wayang Palembang pada Rabu (6/8/2025) di Taman Budaya Sriwijaya, Jakabaring, Palembang.

Pagelaran menampilkan lakon “Petruk Munggah Ratu” yang dibawakan oleh dalang Kiagus Wirawan Rusdi, atau Iwan.

Acara berlangsung dari pukul 10.00 hingga 12.00 WIB dan dihadiri Sekretaris Direktorat Jenderal Perlindungan Kebudayaan dan Tradisi Kementerian Kebudayaan RI, Wawan Yogaswara, sejumlah instansi, serta pelajar SMA. Kehadiran pelajar ini menjadi bagian dari upaya mengenalkan kesenian tradisional sejak dini.

“Wayang Palembang merupakan bagian dari wayang Indonesia, yang merupakan warisan budaya tak benda Indonesia yang telah diakui UNESCO,” ujar Pandji Tjahjanto, Plt Kepala Disbudpar Sumsel.

Ciri Khas Wayang Palembang

Wayang Palembang memiliki keunikan tersendiri dibandingkan wayang Jawa. Durasi pertunjukan lebih singkat dan fleksibel, dialog menggunakan bahasa Palembang, dan cerita tetap banyak diambil dari Mahabharata dan Ramayana dengan sentuhan budaya lokal.

Menurut Wawan Yogaswara, inovasi penting dilakukan untuk menarik generasi muda, salah satunya melalui pengemasan cerita dalam format digital seperti video pendek di media sosial.

“Perlu adanya inovasi dalam memperkenalkan Wayang Palembang. Salah satunya melalui pengemasan cerita dalam format digital,” kata Wawan.

Dalang Kiagus Wirawan Rusdi: Pewaris Tradisi Wayang Palembang

Iwan telah menjadi dalang hampir 20 tahun, meneruskan profesi ayahnya, Muhammad Rusdi Rasyid, dan kakeknya, Muhammad Abdul Rasyid, yang merupakan dalang unggul sejak 1950. Awalnya, Iwan enggan menjadi dalang, namun pada 2004 ia memutuskan melanjutkan tradisi keluarga demi mempertahankan Wayang Palembang.

“Aku pun menggantikan bapak (sebagai dalang) karena sebagai anak tua (anak pertama). Karena tidak ada yang mau,” ungkap Iwan.

Belajar secara otodidak, Iwan menggunakan kaset pita peninggalan ayahnya dan 50 karakter wayang dari UNESCO sebagai panduan. Dalam dua tahun, ia memahami alur cerita dan kini mampu menampilkan pertunjukan sendiri.

“Waktu itu dua tahun belajar otodidak dari 2004 sampai 2006, karena Palembang yang mengajari jadi dalang itu tidak ada. Jadi saya mendengar kaset pita peninggalan Bapak, sampai akhirnya memainkan sendiri,” jelasnya.

Tantangan Pelestarian Wayang Palembang

Profesi dalang di Palembang tidak menjanjikan. Bayaran pertunjukan hanya Rp 2–5 juta, sementara harga satu karakter wayang kulit bisa mencapai Rp 1,5 juta. Satu dalang idealnya memiliki minimal 500 karakter, namun Iwan hanya memiliki 100.

“Sayapun hanya ada 100 (karakter wayang). Sosok dalang wayang Palembang dan Jawa ini berbeda, begitu juga dari penghasilan. Sehingga, hal itu yang menjadikan dalang di sini tidak diminati,” jelas Iwan.

Meski begitu, Iwan tetap menghidupkan sanggar Sri Wayang Kulit Palembang agar anak-anak di kampungnya dapat mengenal tokoh pewayangan. Ia juga menjadi guru bahasa Palembang untuk menutupi kebutuhan keluarga.

“Dulu niat saya sampai umur 50 tahun saja jadi dalang. Namun, karena tidak ada yang menggantikan saya akan tetap jadi dalang sampai akhir hayat,” ujar Iwan.

Warisan Abad ke-17

Wayang kulit yang dimiliki Iwan merupakan warisan keluarga sejak abad ke-17. Ia menolak tawaran untuk memasukkannya ke museum atau dijual ke kolektor, termasuk dari Malaysia.

“Wayang peninggalan bapak masih ada 50 karakter lagi, ada juga yang sudah patah-patah karena termakan usia. Namun, tetap saya rawat karena warisan keluarga,” kata Iwan.

Dengan dedikasi seperti Iwan, Wayang Palembang tetap hidup, menjadi jendela budaya yang menghubungkan sejarah, tradisi, dan identitas Palembang bagi generasi masa kini.

Artikel ini tayang di RRI.com dengan judul Jarang Digelar, Wayang Palembang Perlu Dikenalkan

Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Ikuti terus update topik ini dan notifikasi penting di Aplikasi KOMPAS.com.