3 Jurusan Kuliah Ini Paling Terancam AI di 2026, Lulusannya Bakal Sulit Dapat Kerja?
Perkembangan kecerdasan buatan (AI) telah mengubah wajah dunia kerja dan pendidikan secara drastis. Profesi yang dulunya stabil kini berpotensi digantikan oleh otomatisasi, sementara keterampilan berbasis AI menjadi syarat utama agar tetap relevan.
Perguruan tinggi perlu menyesuaikan kurikulum mereka, dan mahasiswa harus mempersiapkan diri agar tidak tertinggal.
Menurut World Economic Forum, AI diprediksi akan menghapus hingga 92 juta pekerjaan, sekaligus menciptakan 78 juta pekerjaan baru di ekonomi global. Artinya, jurusan kuliah tertentu yang dulunya diminati bisa menjadi kurang relevan jika tidak diimbangi dengan keterampilan AI.
Melansir dari Forbes, Jum'at, 17 Oktober 2025, berikut tiga jurusan yang diperkirakan paling terancam AI pada 2026.
Ilustrasi wisuda.
1. Akuntansi dan Pembukuan
Jurusan akuntansi dan pembukuan, terutama level entry, berisiko tergantikan AI. Banyak tugas rutin seperti laporan keuangan, penghitungan pajak, dan pembukuan kini bisa diotomatisasi oleh software berbasis AI.
Mahasiswa yang ingin tetap relevan perlu memperluas kemampuan mereka, misalnya dengan menguasai AI untuk keuangan atau analisis data tingkat lanjut. Selain itu, mempelajari peran sebagai penasihat keuangan atau bekerja di manajemen aset dan venture capital bisa menjadi alternatif untuk menambah nilai profesional.
Pendekatan ini memastikan lulusan akuntansi tidak hanya menguasai pekerjaan rutin, tetapi juga siap menghadapi otomatisasi yang terus berkembang.
2. Komunikasi, Marketing, dan Periklanan
Bidang komunikasi dan marketing mengalami transformasi besar karena AI. Penggunaan AI untuk pembuatan konten, strategi pemasaran, media sosial, hingga press release membuat sebagian peran tradisional berisiko berkurang.
Untuk tetap relevan, universitas perlu mengintegrasikan AI dalam kurikulum marketing, PR, dan komunikasi. Mahasiswa harus mempelajari alat-alat AI populer, seperti HubSpot, SEMrush, dan Jasper AI, serta memahami etika penggunaan AI agar konten tetap manusiawi dan sesuai suara perusahaan.
Dengan menguasai AI sekaligus kreativitas strategis, lulusan marketing bisa tetap bersaing dan berinovasi di dunia kerja yang semakin otomatis.
3. Desain Grafis
Generative AI seperti ChatGPT, DALL·E, MidJourney, dan Sora2 memungkinkan siapa saja membuat logo, materi iklan, dan branding secara instan. Ini membuat desain grafis tradisional semakin terancam.
Strategi bertahan bagi lulusan desain grafis adalah mempelajari penggunaan AI untuk meningkatkan kreativitas, bukan menggantikannya. Fokus juga harus pada psikologi visual, strategi desain, dan pemahaman branding agar karya tetap bernilai tinggi.
Pendekatan ini memungkinkan lulusan memanfaatkan AI sebagai alat untuk memperluas kemampuan kreatif dan strategi, bukan sekadar alat otomatisasi.
“Pendidikan telah lama menjadi garis depan mobilitas ekonomi. Jadi jika perguruan tinggi tidak memprioritaskan pendidikan AI dan keadilan dalam kurikulum, mereka tidak hanya mengecewakan mahasiswa, tetapi juga pasar kerja," ungkap Elise Awwad, Presiden dan CEO DeVry University.
Kesimpulannya, jurusan kuliah tradisional tidak cukup untuk menghadapi revolusi AI. Mahasiswa dan profesional harus menguasai keterampilan AI, berpikir strategis, dan menyesuaikan diri dengan teknologi agar tetap relevan di pasar kerja masa depan.