Suram! Laporan Terbaru Ungkap Lulusan Baru 2025 Paling Sulit Cari Kerja dalam Satu Dekade
Memulai karier setelah lulus kuliah selalu menjadi fase penuh harapan, namun tahun ini kondisi tersebut berubah drastis bagi banyak lulusan di Amerika Serikat. Meski ekonomi negara itu masih menambah lapangan kerja, peluang kerja tingkat pemula justru semakin langka.
Generasi muda yang baru menyelesaikan pendidikan tinggi kini harus menghadapi kenyataan bahwa memasuki pasar kerja tidak lagi semudah beberapa tahun lalu.
Banyak dari mereka mengaku sulit mendapatkan peluang kerja pertama yang dapat menjadi pijakan karier jangka panjang. Data terbaru menunjukkan bahwa pasar kerja Amerika sedang memasuki periode yang jauh lebih sulit bagi lulusan baru dibanding satu dekade terakhir.
Berbagai survei dan laporan lembaga riset kredibel mengungkap kesulitan serupa seperti lowongan kerja entry-level semakin menyusut, proses seleksi makin ketat, dan sejumlah perusahaan besar mulai menggantikan tenaga kerja pemula dengan kecerdasan buatan (AI).
Ilustrasi aktivitas / bekerja.
Para ekonom melihat perubahan ini sebagai sinyal serius. Cory Stahle, ekonom senior di Indeed Hiring Lab, mengatakan, saat ini adalah waktu yang sangat sulit untuk mencari pekerjaan. Biro Statistik Tenaga Kerja sendiri melaporkan bahwa ekonomi menambah lebih banyak pekerjaan dari perkiraan pada September lalu, namun angka pengangguran justru naik menjadi 4,4 persen, dan lebih mengkhawatirkan lagi, tingkat pengangguran pada kelompok usia 16 hingga 24 tahun melonjak hingga 10,4 persen.
Oxford Economics menguatkan kekhawatiran tersebut dalam laporannya. Mereka menyebut kondisi pasar kerja saat ini sebagai tantangan besar bagi Gen Z yang baru memasuki dunia kerja. Peningkatan angka pengangguran di usia muda ini bisa menjadi indikator awal bahwa ekonomi sedang melambat atau bahkan menuju resesi.
Salah satu temuan paling mencolok adalah menurunnya nilai gelar sarjana sebagai jaminan masa depan. Selama ini, gelar sarjana selalu dianggap sebagai tiket menuju pekerjaan profesional yang stabil, namun perubahan struktural di pasar kerja membuat asumsi tersebut goyah.
“Untuk pertama kalinya dalam sejarah modern, gelar sarjana bukan lagi jalur yang andal menuju pekerjaan profesional,” ungkap Gad Levanon, kepala ekonom di Burning Glass Institute, sebagaimana dikutip dari CNBC, Selasa, 25 November 2025.
Kondisi semakin sulit terlihat dari data yang memotret nasib lulusan 2025. National Association of Colleges and Employers (NACE) mencatat bahwa lulusan tahun ini mengirim lebih banyak lamaran dibanding angkatan 2024, yakni rata-rata sepuluh lamaran dibanding enam.
Namun ironisnya, mereka justru menerima lebih sedikit tawaran kerja, yakni hanya 0,78 tawaran dibanding 0,83 pada tahun sebelumnya. Survei ini dilakukan pada 1.479 mahasiswa tingkat akhir antara April hingga Mei 2025.
Penelitian lain yang dilakukan Cengage Group juga menampilkan gambaran serupa. Dalam survei mereka yang dilakukan Juni hingga Juli 2025, hanya 30 persen lulusan 2025 yang mendapatkan pekerjaan penuh waktu sesuai bidang mereka. Bahkan dari angkatan 2024, hanya 41 persen yang mencapai hal yang sama.