Waspada, Ini 7 Ciri Pola Asuh Orangtua Gaslighter Menurut Psikolog
- 1. Orangtua tampil beda di depan orang lain
- 2. Sering bingung setelah bicara dengan orangtua
- 3. Menyalahkan anak atas kemarahan mereka
- 4. Tumbuh meragukan penilaian sendiri
- 5. Sering dibandingkan dengan saudara kandung
- 6. Dihukum saat menunjukkan pendapat
- 7. Memelintir fakta untuk menghindari tanggung jawab
Tidak semua pola asuh orangtua disebut sehat. Ada yang tampak penuh kasih, tapi ternyata penuh manipulasi. Misalnya pola asuh orangtua yang melakukan gaslighting.
Gaslighting adalah bentuk manipulasi psikologis yang membuat seseorang meragukan ingatan, perasaan, dan realitas yang mereka alami.
“Gaslighting adalah taktik manipulasi psikologis di mana seseorang sengaja membuat orang lain meragukan ingatan dan persepsinya demi menghindari tanggung jawab,” jelas psikolog dan penulis Dr. Jaime Zuckerman, disadur dari Parade, Senin (22/9/2025).
Jika kamu sering merasa masa kecilmu membingungkan atau penuh rasa bersalah, bisa jadi ada unsur gaslighting di dalamnya.
Berikut beberapa tanda yang bisa menunjukkan bahwa kamu mungkin dibesarkan oleh orangtua gaslighter.
Ciri pola asuh orangtua gaslighter
1. Orangtua tampil beda di depan orang lain
Tanpa sadar, orangtua bisa menanamkan pola asuh gaslighting pada anak. Psikolog sebut beberapa ciri yang perlu diwaspadai sejak dini.
Banyak orangtua gaslighter sangat menjaga citra. Mereka bisa terlihat ramah, penyayang, dan penuh perhatian di depan tetangga, keluarga besar, atau teman.
Namun, di rumah, sikapnya berubah drastis yakni bisa keras, manipulatif, atau bahkan merendahkan anak.
“Perbedaan mencolok ini membuat anak bingung karena mereka melihat dua versi yang sangat berbeda dari orangtuanya,” kata Zuckerman.
Bagi anak, situasi ini membingungkan. Mereka bisa merasa seolah-olah apa yang dialami di rumah tidak nyata karena bertolak belakang dengan apa yang dilihat orang lain.
2. Sering bingung setelah bicara dengan orangtua
Tanpa sadar, orangtua bisa menanamkan pola asuh gaslighting pada anak. Psikolog sebut beberapa ciri yang perlu diwaspadai sejak dini.
Apakah kamu sering merasa bingung dan bersalah, atau merasa ada yang salah paham sehabis bicara dengan orangtua? Hal itu bisa jadi tanda gaslighting.
“Umum bagi korban gaslighting untuk merasa ragu, penuh kebingungan, bahkan seperti kehilangan akal sehat setelah berbicara dengan pelaku, terutama jika pola ini terjadi terus-menerus,” ujar Zuckerman.
Rasa bingung ini bukan kebetulan, melainkan strategi. Gaslighter membuat korban mempertanyakan dirinya sendiri agar semakin bergantung pada mereka untuk mendefinisikan kebenaran.
3. Menyalahkan anak atas kemarahan mereka
Tanpa sadar, orangtua bisa menanamkan pola asuh gaslighting pada anak. Psikolog sebut beberapa ciri yang perlu diwaspadai sejak dini.
Zuckerman menyebutkan, ucapan seperti, “Kamu bikin aku marah” atau, “Lihat, ini semua salahmu” adalah contoh blame-shifting yaitu teknik mengalihkan kesalahan.
“Ini adalah cara strategis orangtua gaslighter menghindari tanggung jawab. Dengan menyalahkan anak, mereka menanamkan rasa bersalah sekaligus mengendalikan emosi anak,” ucap dia.
Dampaknya, anak jadi merasa harus selalu berhati-hati agar tidak memicu emosi orangtua, meskipun sebenarnya bukan kesalahannya.
4. Tumbuh meragukan penilaian sendiri
Tanpa sadar, orangtua bisa menanamkan pola asuh gaslighting pada anak. Psikolog sebut beberapa ciri yang perlu diwaspadai sejak dini.
Gaslighter kerap mengubah cerita sesuai kepentingannya. Mereka bisa menyangkal pernah berkata sesuatu atau menolak mengakui perbuatan yang jelas-jelas mereka lakukan.
“Tujuan utama gaslighter adalah mengontrol narasi anak, membuat mereka merasa tidak mampu mempercayai penilaian atau pandangan mereka sendiri,” tutur Zuckerman.
Akhirnya, anak tumbuh dengan keraguan mendalam pada diri sendiri. Mereka kesulitan mengambil keputusan karena terbiasa meragukan ingatan dan perasaannya.
5. Sering dibandingkan dengan saudara kandung
Tanpa sadar, orangtua bisa menanamkan pola asuh gaslighting pada anak. Psikolog sebut beberapa ciri yang perlu diwaspadai sejak dini.
Jika kamu sering mendengar, “Kenapa kamu enggak bisa seperti kakakmu?”, hal itu bukan sekadar favoritisme, tapi bentuk manipulasi.
Mengunggulkan atau membandingkan salah satu anak termasuk perilaku gaslighting dan bisa merusak hubungan persaudaraan.
“Pola ini menimbulkan rasa malu, rasa bersalah, dan perasaan tidak pernah cukup,” terangnya.
Situasi ini bisa menanamkan luka mendalam. Anak yang dibandingkan merasa gagal, sedangkan yang dijadikan anak emas hidup dengan ketakutan akan kehilangan status tersebut.
6. Dihukum saat menunjukkan pendapat
Tanpa sadar, orangtua bisa menanamkan pola asuh gaslighting pada anak. Psikolog sebut beberapa ciri yang perlu diwaspadai sejak dini.
Jika kamu pernah dihukum, dimarahi, atau diremehkan saat berani menyampaikan pendapat, hal itu bisa jadi tanda kontrol orangtua gaslighter.
“Bagi orangtua gaslighter, opini atau keputusan anak dianggap sebagai bentuk penolakan. Oleh karena itu, anak yang menunjukkan kemandirian sering dihukum atau dibungkam,” kata Zuckerman.
Hal ini membuat anak tumbuh dengan kesulitan mengekspresikan diri karena terbiasa takut dengan konsekuensi.
7. Memelintir fakta untuk menghindari tanggung jawab
Tanpa sadar, orangtua bisa menanamkan pola asuh gaslighting pada anak. Psikolog sebut beberapa ciri yang perlu diwaspadai sejak dini.
Gaslighter bukan hanya berbohong, mereka juga pintar memelintir fakta agar lolos dari kesalahan.
Mereka bisa menyangkal ucapan, mengubah detail cerita, dan memutar balik keadaan seolah-olah anaklah yang salah.
“Memutarbalikkan fakta demi menghindari tanggung jawab adalah fungsi utama gaslighting,” ujar dia.
Akibatnya, korban tumbuh dalam realitas yang kabur dan sulit membedakan mana kebenaran dan mana manipulasi.
Lebih lanjut, menyadari bahwa kamu mungkin dibesarkan oleh orangtua gaslighter memang menyakitkan.
Akan tetapi, memahami pola tersebut bisa membantu kamu melepaskan diri dari dampaknya, membangun kepercayaan diri, dan mengambil kendali atas hidupmu sendiri.
Di saat situasi tidak menentu, Kompas.com tetap berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Ikuti terus update terkini dan notifikasi penting di Aplikasi Kompas.com.