Jet Tempur Chengdu J-10 Segera Mengudara di Jakarta, Ini Bedanya dengan Rafale yang Dipinang Indonesia, Canggih Mana?

VIVA Militer: Jet tempur Chengdu J-10 militer China, 1. Dua Rival Besar dari Timur dan Barat, 2. Performa dan Daya Jelajah, 3. Mesin dan Efisiensi Daya, 4. Avionik dan Sistem Perang Elektronik, 5. Persenjataan dan Daya Angkut, 6. Stealth dan Ketahanan di Medan Tempur, 7. Biaya dan Efisiensi Operasional, 8. Potensi Upgrade dan Umur Pakai, 9. Relevansi untuk Indonesia
VIVA Militer: Jet tempur Chengdu J-10 militer China

Menteri Pertahanan (Menhan) Sjafrie Sjamsoeddin memastikan bahwa jet tempur Chengdu J-10 asal Tiongkok akan segera mengudara di langit Indonesia.

“J-10 sebentar lagi terbang di Jakarta,” ujar Sjafrie di kantor Kementerian Pertahanan (Kemhan), Jakarta Pusat, Rabu 15 Oktober 2025.

Meski belum menyebutkan secara pasti jumlah unit yang akan dibeli, langkah ini menambah daftar alutsista udara Indonesia yang terus diperkuat.

Namun, kehadiran J-10 memunculkan perbandingan menarik dengan jet tempur asal Prancis, Dassault Rafale, yang juga dikabarkan menjadi bagian dari rencana modernisasi TNI AU.

VIVA Militer: Pesawat Jet Tempur Dassault Rafale

Lalu, seberapa jauh perbedaan keduanya di atas kertas? Berikut ulasan teknisnya.

1. Dua Rival Besar dari Timur dan Barat

Dassault Rafale merupakan jet tempur multirole twin-engine asal Prancis yang mulai beroperasi sejak 2004. Pesawat ini dirancang untuk berbagai misi: mulai dari air superiority, serangan darat, pengintaian, hingga versi nuklir untuk Angkatan Laut Prancis.

Sementara itu, Chengdu J-10C adalah jet single-engine buatan Tiongkok yang dikembangkan sejak 1990-an. Versi terbarunya, J-10C, telah dilengkapi radar AESA, IRST terintegrasi, dan sistem komunikasi data link modern.

Jet ini digunakan secara luas oleh Angkatan Udara China (PLAAF) dan juga diekspor ke Pakistan.

VIVA Militer: Jet tempur siluman Chengdu J-10 Mighty Dragion militer China, 1. Dua Rival Besar dari Timur dan Barat, 2. Performa dan Daya Jelajah, 3. Mesin dan Efisiensi Daya, 4. Avionik dan Sistem Perang Elektronik, 5. Persenjataan dan Daya Angkut, 6. Stealth dan Ketahanan di Medan Tempur, 7. Biaya dan Efisiensi Operasional, 8. Potensi Upgrade dan Umur Pakai, 9. Relevansi untuk Indonesia

VIVA Militer: Jet tempur siluman Chengdu J-10 Mighty Dragion militer China

2. Performa dan Daya Jelajah

Dikutip dari Aviation Week dan Military Watch Magazine, Rafale memiliki kecepatan maksimum Mach 1,8 dengan jangkauan ferry hingga 3.700 km. Combat radius-nya mencapai 1.850 km, artinya Rafale mampu bertahan lebih lama di medan tempur tanpa sering kembali ke pangkalan.

Sedangkan J-10C memiliki kecepatan serupa, Mach 1,8, namun dengan ketinggian operasi maksimum yang lebih tinggi, mencapai 18.000 meter. Combat radius-nya lebih terbatas, berkisar 600–1.200 km tergantung konfigurasi misi.

Dengan demikian, Rafale unggul untuk misi jarak jauh, sementara J-10C menawarkan kelincahan dan kecepatan pada ketinggian ekstrem.

3. Mesin dan Efisiensi Daya

Rafale menggunakan dua mesin Snecma M88-4E yang masing-masing menghasilkan 75 kN dengan afterburner. Desain twin-engine memberi keunggulan dalam keamanan dan stabilitas penerbangan.

J-10C mengandalkan satu mesin AL-31FN buatan Rusia dengan daya dorong hingga 123 kN. Dalam versi terbaru, mesin WS-10 buatan lokal mulai diujicobakan untuk meningkatkan kemandirian produksi Tiongkok.

Namun, konfigurasi single-engine membuat J-10C memiliki risiko lebih besar jika terjadi gangguan mesin di udara.

4. Avionik dan Sistem Perang Elektronik

Keunggulan utama Rafale terletak pada sistem Electronic Warfare (EW) canggih bernama SPECTRA, yang mampu mendeteksi, mengacaukan, dan menanggulangi ancaman radar musuh secara otomatis.

Radar RBE2 AESA dan sistem sensor OSF IR-nya juga terintegrasi dengan baik, memberikan pilot kesadaran situasional yang sangat tinggi.

Jet Tempur Rafale TNI AU, 1. Dua Rival Besar dari Timur dan Barat, 2. Performa dan Daya Jelajah, 3. Mesin dan Efisiensi Daya, 4. Avionik dan Sistem Perang Elektronik, 5. Persenjataan dan Daya Angkut, 6. Stealth dan Ketahanan di Medan Tempur, 7. Biaya dan Efisiensi Operasional, 8. Potensi Upgrade dan Umur Pakai, 9. Relevansi untuk Indonesia

Jet Tempur Rafale TNI AU

Sementara itu, J-10C mengandalkan radar KLJ-10 AESA dan sistem IRST internal. Dikutip dari The Drive War Zone, meski radar ini modern, sistem EW-nya masih mengandalkan pod eksternal seperti KZ900, yang menambah beban dan sedikit mengurangi aerodinamika pesawat.

5. Persenjataan dan Daya Angkut

Rafale dapat membawa hingga 9.500 kg beban senjata di 14 titik gantung eksternal. Persenjataannya meliputi rudal udara-ke-udara MICA dan Meteor BVR, serta rudal jelajah SCALP-EG untuk serangan darat jarak jauh.

J-10C mampu mengangkut sekitar 6.600 kg senjata, termasuk rudal PL-10 dan PL-15. Rudal PL-15 diklaim memiliki jangkauan lebih dari 300 km, menjadi salah satu yang terpanjang di dunia dalam kelasnya.

Menurut Global Security, keunggulan J-10C ada pada integrasi rudal jarak jauh PL-15, sedangkan Rafale menang dalam fleksibilitas jenis senjata dan akurasi sistem serang.

6. Stealth dan Ketahanan di Medan Tempur

Rafale menggunakan material komposit hingga 70 persen, serta desain yang mengurangi pantulan radar (Radar Cross Section). Sistem SPECTRA juga memperkuat kemampuan bertahan dari ancaman rudal dan radar musuh.

J-10C menggunakan Divertless Supersonic Inlet (DSI) untuk menurunkan jejak radar, namun tetap tidak sehalus Rafale dalam aspek low observable.

7. Biaya dan Efisiensi Operasional

Menurut laporan Defense News, harga satu unit Rafale berkisar antara €93 juta hingga €160 juta, dengan biaya operasional sekitar €15.000 per jam terbang.

Sedangkan J-10C dibanderol sekitar US$56 juta per unit dengan biaya operasional diperkirakan di bawah €10.000 per jam. Dari sisi ekonomi pertahanan, J-10C jauh lebih efisien, dengan ketersediaan (availability) di atas 85 persen.

8. Potensi Upgrade dan Umur Pakai

Dassault telah menyiapkan versi Rafale F4 dan F5 dengan peningkatan radar AESA generasi baru dan sistem komunikasi antar pesawat. Umur pakai operasionalnya bisa diperpanjang hingga setelah 2045.

J-10C juga dikembangkan dengan modularitas tinggi, memungkinkan penggantian mesin, radar, dan sistem senjata di masa depan.

9. Relevansi untuk Indonesia

Dengan kondisi geografis Indonesia yang luas dan tantangan pertahanan udara di wilayah maritim, Rafale dinilai unggul untuk operasi jarak jauh dan misi gabungan laut-udara.

Namun, dari sisi efisiensi biaya dan kebutuhan pertahanan cepat, J-10C bisa menjadi opsi menarik, terutama untuk memperkuat armada tempur menengah dengan kemampuan BVR modern.

“Keputusan Indonesia memilih J-10C dapat dipahami dari sisi cost-effectiveness dan kecepatan pengadaan, tanpa harus bergantung penuh pada sistem Barat,” tulis Asia Times dalam analisisnya.

Canggih Mana?

Secara keseluruhan, Dassault Rafale unggul dalam hal avionik, fleksibilitas misi, dan integrasi sistem elektronik. Namun, Chengdu J-10C menawarkan keseimbangan kuat antara performa, persenjataan, dan biaya yang jauh lebih ekonomis.

Pilihan terbaik akhirnya bergantung pada kebutuhan operasional dan strategi jangka panjang Indonesia di kawasan Indo-Pasifik.