Menuju Kota Global, Jakarta Siapkan Revitalisasi Kota Tua hingga Glodok

kawasan bersejarah Jakarta, Menuju Kota Global, Jakarta Siapkan Revitalisasi Kota Tua hingga Glodok

Revitalisasi Kota Tua, Pasar Baru, dan Glodok diperkirakan membutuhkan waktu panjang.

Pasalnya, tantangan yang dihadapi kawasan bersejarah Jakarta itu tidak hanya terkait pembangunan fisik dan infrastruktur, tetapi juga menyatukan beragam kepentingan masyarakat, pelaku usaha, komunitas, hingga pemilik bangunan bersejarah.

Isu tersebut menjadi salah satu pembahasan dalam sesi Urban Talks bertajuk "Reviving the Future of Pasar Baru, Glodok and Kota Tua" pada Jakarta Future Festival (JFF) 2026 yang berlangsung di CollabHub 01, Galeri Cipta 1, Taman Ismail Marzuki, Jakarta pada Sabtu (6/6/2026).

Revitalisasi dinilai penting karena Kota Tua, Pasar Baru, dan Glodok merupakan bagian dari kawasan cagar budaya yang menyimpan sejarah perkembangan Jakarta.

Sekaligus, mengembangkan kawasan bersejarah tersebut sebagai bagian dari upaya memperkuat identitas Jakarta sebagai kota global yang tetap berakar pada sejarah dan budayanya.

Tantangan revitalisasi untuk Jakarta menjadi kota global

Revitalisasi tidak hanya soal bangunan dan infrastruktur

kawasan bersejarah Jakarta, Menuju Kota Global, Jakarta Siapkan Revitalisasi Kota Tua hingga Glodok

Para narasumber dalam sesi Urban Talks Reviving the Future of Pasar Baru, Glodok and Kota Tua pada Jakarta Future Festival (JFF) 2026 di CollabHub 01, Galeri Cipta 1, Taman Ismail Marzuki, Jakarta, Rabu (3/6/2026).

Direktur Pengembangan Bisnis PT MRT Jakarta, Farchad H. Mahfud mengatakan Kota Tua memiliki karakter yang berbeda dibandingkan kawasan transit oriented development (TOD) lainnya karena dipenuhi bangunan cagar budaya dengan nilai sejarah yang kuat.

"Karena itu, aspek tersebut harus benar-benar diperhitungkan dalam proses penataan kembali Kota Tua," ujar Farchad dalam diskusi mengenai masa depan Kota Tua, Pasar Baru, dan Glodok di Jakarta.

Menurut dia, tantangan revitalisasi tidak hanya menyangkut pelestarian bangunan bersejarah. Saat ini kawasan tersebut juga masih menghadapi persoalan parkir, pedagang kaki lima, hingga penataan ruang publik.

"Pedagang kaki lima ada di mana-mana, dan ini menjadi tantangan utama, yaitu bagaimana menata ulang kawasan sekaligus menyediakan ruang yang layak agar mereka tetap bisa menjalankan aktivitasnya," tambahnya.

Farchad menambahkan, MRT Jakarta yang ditargetkan beroperasi hingga Kota Tua pada 2029 dapat menjadi salah satu penghubung kawasan.

Namun, kehadiran transportasi publik saja tidak cukup untuk menghidupkan kembali kawasan tersebut.

"Yang paling penting adalah jangan membuat mereka takut," kata dia merujuk pada masyarakat dan pelaku usaha yang terdampak revitalisasi.

"Banyak rencana pembangunan yang berpotensi memengaruhi masyarakat yang tinggal di Kota Tua, maupun Pasar Baru. Karena itu, seluruh warga harus dilibatkan dan diajak berkonsultasi," lanjutnya.

Pandangan serupa disampaikan Profesor Praktik Georgetown University, Uwe Brandes. Menurutnya, kawasan bersejarah selalu menjadi tantangan karena melibatkan banyak kelompok dengan kepentingan yang berbeda-beda.

"Kawasan Kota Tua memiliki banyak aktor yang berbeda, mulai dari pemerintah, swasta, masyarakat lama, pendatang baru, kelompok kaya hingga kelompok rentan. Salah satu tantangan terbesarnya adalah bagaimana menyatukan semua pihak tersebut," ujar Uwe.

Menurut Uwe, salah satu kesalahan yang kerap terjadi dalam revitalisasi kawasan bersejarah adalah terlalu fokus pada bangunan, tetapi melupakan manusia yang hidup di dalamnya.

"Kita tidak bisa hanya berfokus pada bangunannya. Kita juga harus memperhatikan perilaku masyarakat, tradisi, dan makna budaya yang hidup di dalam kawasan itu," kata dia.

Kuliner dan kegiatan budaya bisa menjadi kunci revitalisasi

kawasan bersejarah Jakarta, Menuju Kota Global, Jakarta Siapkan Revitalisasi Kota Tua hingga Glodok

Para pengunjung menggambar dan melukis bertema Jakarta dalam rangkaian Jakarta Future Festival (JFF) 2026.

Dalam perbincangannya dengan Kompas.com, Uwe menilai kuliner dapat menjadi salah satu cara paling efektif untuk menghubungkan masyarakat dengan kawasan bersejarah.

"Makanan sangat penting karena menjadi cara budaya untuk menghubungkan manusia dengan suatu tempat dan komunitasnya," ujarnya.

Ia menjelaskan bahwa strategi kuliner tidak hanya berkaitan dengan makanan yang dijual, tetapi juga sejarah dan identitas kawasan itu sendiri.

"Kita perlu melihat sebuah kawasan dari perspektif sistem pangan. Dari mana makanan itu berasal? Apakah makanan tersebut merupakan bagian dari warisan budaya? Apakah memiliki hubungan dengan sejarah kawasan itu?" kata Uwe.

"Festival makanan dan berbagai aktivitas budaya adalah kegiatan yang mempertemukan banyak orang, dan itu sangat penting bagi sebuah kawasan perkotaan," tambahnya.

Selain kuliner, Uwe menyoroti pentingnya pengalaman berjalan kaki. Menurut dia, Kota Tua, Pasar Baru, dan Glodok pada awalnya berkembang sebagai kawasan yang ramah pejalan kaki.

"Saat ini hampir semua orang ingin bepergian dengan mobil, padahal kawasan bersejarah seperti ini sejak awal dirancang untuk pejalan kaki," katanya.

"Karena itu, memikirkan cara menata pengalaman berjalan kaki di kawasan ini menjadi sangat penting" tambahnya.

Tantangan serupa juga disoroti pendiri Post Bloc, Jacob Kaba. Menurutnya, berbagai gagasan penataan kawasan bersejarah sebenarnya sudah ada, tetapi pelaksanaannya tidak selalu mudah karena harus melibatkan banyak pemilik bangunan dan pemangku kepentingan.

Jacob mengaku pernah mengusulkan konsep heritage walk district yang menghubungkan Lapangan Banteng, Pos Bloc, dan Pasar Baru melalui jalur pejalan kaki yang lebih nyaman dan terkoneksi.

Konsep tersebut dapat memperkuat kawasan bersejarah sebagai satu destinasi yang saling terhubung. Namun, penerapannya masih menghadapi berbagai tantangan di lapangan.

"Saya rasa budaya di Indonesia belum siap untuk kawasan yang sepenuhnya bebas kendaraan. Karena itu, kita harus memikirkan bagaimana kendaraan masih bisa mengakses kawasan ini," ujar Jacob.

Ia menambahkan bahwa berbagai usulan konektivitas kawasan juga kerap terbentur kepentingan pemilik bangunan sehingga diperlukan kompromi dan kerja sama antarpihak.

Revitalisasi perlu melibatkan warga lokal

kawasan bersejarah Jakarta, Menuju Kota Global, Jakarta Siapkan Revitalisasi Kota Tua hingga Glodok

Pengunjung menuliskan harapan dan gagasan untuk masa depan Jakarta pada instalasi interaktif di Jakarta Future Festival (JFF) 2026.

Sementara itu, pendiri MET Glodok, Metta Setiandi, menilai kawasan seperti Glodok tidak bisa dipisahkan dari masyarakat yang selama ini hidup di dalamnya.

Menurut dia, kawasan bersejarah akan kehilangan jiwanya jika tidak lagi dihuni dan digunakan oleh komunitas lokal.

"Bahkan jika Glodok masih ada, tetapi tidak ada lagi orang yang tinggal di sana, itu akan menjadi tempat tanpa jiwa," ujar Metta.

Pandangan serupa juga disampaikan oleh Gilang, seorang tourist guide Unit Pengelola Kawasan (UPK) Kota Tua Jakarta.

Menurut dia, Kota Tua sebenarnya sudah memiliki modal kuat sebagai destinasi wisata karena lokasinya strategis, mudah dijangkau transportasi umum, dan dapat dikunjungi secara gratis oleh masyarakat.

Namun, ia menilai keberhasilan revitalisasi tidak hanya bergantung pada pembangunan fisik, melainkan juga kesadaran masyarakat untuk menjaga kawasan secara bersama-sama.

"Yang masih kurang itu kesadaran masyarakat untuk sama-sama menjaga kawasan yang sudah ada. Kalau nanti ada revitalisasi, tentu harus sama-sama dijaga dan diperjuangkan karena semua pembangunan itu untuk kebaikan bersama," ujar Gilang dalam perbincangannya dengan Kompas.com, Sabtu (6/6/2026).

Menurut dia, kawasan yang tertata dan terawat akan mendorong lebih banyak wisatawan datang, yang pada akhirnya ikut menggerakkan aktivitas ekonomi masyarakat setempat.

"Kalau kawasan dijaga, dirapikan, dan dibersihkan bersama, nantinya orang yang datang untuk jalan-jalan, kulineran, atau belanja akan mengikuti dengan sendirinya dan jumlahnya bisa semakin banyak," tambahnya.

Senada dengan itu, peserta diskusi lainnya, Farrah Eriska, menilai revitalisasi kawasan bersejarah harus dimulai dengan merangkul warga yang tinggal di sekitar kawasan tersebut.

Menurutnya, keberadaan masyarakat lokal merupakan elemen penting yang memberi kehidupan pada kawasan seperti Kota Tua, Pasar Baru, dan Glodok.

"Kalau mau merevitalisasi sebuah kawasan, harus ada orang-orangnya dulu supaya ada nyawa. Di sekitar Kota Tua, Pasar Baru, dan Glodok masih ada banyak permukiman warga, dan mereka seharusnya menjadi pihak pertama yang dirangkul," ujar Farrah.

Ia menambahkan, warga sekitar perlu dilibatkan sejak awal agar merasa memiliki kawasan tersebut. Tanpa keterlibatan masyarakat lokal, upaya revitalisasi berisiko kehilangan dukungan dan sulit berkelanjutan.

"Mereka sebenarnya pemilik kawasan itu. Jangan sampai revitalisasi dilakukan tanpa melibatkan mereka. Kalau mereka tidak merasa memiliki, lalu siapa yang akan menjaga kawasan itu?" tambahnya.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang