Kronologi 122 Korban Keracunan Program MBG di Agam, Diduga akibat Nasi Goreng

Agam, keracunan MBG, MBG 2025, keracunan MBG di agam, keracunan MBG agam, pelajar di Agam keracunan MBG, Kronologi 122 Korban Keracunan Program MBG di Agam, Diduga akibat Nasi Goreng

Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Agam, Sumatera Barat, mencatat sebanyak 122 warga menjadi korban keracunan massal usai menyantap menu program Makanan Bergizi Gratis (MBG) pada Rabu (1/10/2025).

Kasus keracunan massal ini ditetapkan sebagai Kejadian Luar Biasa (KLB) setelah ratusan korban, mayoritas pelajar, menjalani perawatan di berbagai fasilitas kesehatan.

Berdasarkan data dari akun resmi @diskominfo.agam, korban keracunan ditangani di tiga layanan kesehatan, yakni Puskesmas Manggopoh, RSIA Rizki Bunda, dan RSUD Lubuk Basung.

Rincian Korban Keracunan di Agam

  • Puskesmas Manggopoh: merawat 70 pasien, terdiri dari 66 anak dan 4 dewasa. Dari jumlah tersebut, 4 pasien dirujuk ke RSUD Lubuk Basung dan 3 lainnya ke Puskesmas Lubuk Basung.
  • RSIA Rizki Bunda: merawat 7 pasien anak, dengan rincian 3 masih dirawat, 1 sudah dipulangkan, dan 2 menjalani rawat jalan.
  • RSUD Lubuk Basung: menangani 45 pasien, terdiri dari 40 anak dan 5 dewasa.

Total keseluruhan korban mencapai 122 orang, dengan mayoritas korban merupakan anak-anak penerima manfaat program Makanan Bergizi Gratis (MBG).

Nasi Goreng Diduga Jadi Penyebab

Ketua Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Yayasan Peduli Karakter Anak (YPKA) di Nagari Kampung Tengah, Lubuk Basung, Aulia Korimah, menyebut dugaan sementara penyebab keracunan berasal dari menu nasi goreng dengan telur dadar, tahu goreng, serta lalapan berupa selada dan tomat.

“Untuk memastikan itu, tentu kami harus menunggu hasil pemeriksaan labor dulu,” ujar Aulia, Kamis (2/10/2025).

Menurutnya, sampel makanan sudah dikirim ke BPOM Padang untuk diuji. Ia menegaskan pihaknya tetap bertanggung jawab terhadap korban hingga pulih.

Namun, Aulia membantah anggapan bahwa menu nasi goreng tersebut berasal dari pihak luar.

“Menu itu diracik langsung oleh dapur SPPG, bukan menu jadi dari tempat lain,” katanya.

Kesaksian Korban: Awalnya Tidak Ada Masalah

Salah satu korban, Weri Oktavia, guru TK Aisyah Kampung Tangah, mengaku sempat mencicipi menu nasi goreng sebelum dibagikan kepada murid-muridnya.

“Kalau secara rasa, bentuk, dan bau tidak ada masalah. Saat saya cicipi, semuanya tidak menandakan makanan kedaluwarsa,” kata Weri di RSUD Lubuk Basung, Kamis.

Merasa aman, ia lalu membagikan makanan itu kepada sekitar 15 murid. Namun, malam harinya Weri mengalami pusing dan mual berkepanjangan.

“Saya kira karena kelelahan. Tapi ternyata gejalanya sama seperti keracunan,” ujarnya.

Kesaksian juga datang dari Hanifa, siswi SMP penerima manfaat MBG. Ia menyebut telur dadar yang disajikan terlihat menghitam, meski bukan gosong.

“Warna telurnya agak menghitam, tapi saya yakin itu bukan gosong,” katanya.

Setelah menyantapnya, Hanifa mengalami muntah-muntah, pusing, dan demam tinggi hingga harus dilarikan ke rumah sakit.

Menurut data SPPG YPKA, pada hari kejadian pihaknya mendistribusikan 2.669 porsi nasi goreng ke 27 sekolah mulai dari TK hingga SMP di Lubuk Basung.

“Jumlah sebenarnya ada 3.500 siswa, tapi kemarin satu sekolah libur, jadi berkurang,” jelas Aulia.

Ia menegaskan seluruh bahan baku, pengolahan, hingga distribusi makanan sudah sesuai Standar Operasi Produksi (SOP). Bahkan, menu nasi goreng tersebut sebelumnya sudah pernah disajikan tanpa menimbulkan masalah.

Pemkab Agam Tanggung Biaya Pengobatan

Bupati Agam, Benny Warlis, menyatakan Pemkab akan menanggung seluruh biaya pengobatan korban yang tidak terdaftar sebagai peserta BPJS Kesehatan.

“Yang pasti, kalau mereka tidak mengurus SLHS (Sertifikat Laik Higiene Sanitasi) maka saya yang akan mendatangi langsung, karena ini menyangkut kesehatan masyarakat,” tegas Benny, Jumat (3/10/2025).

Ia mengungkapkan ada tujuh dapur SPPG di Agam yang belum mengantongi SLHS. Untuk itu, dapur-dapur tersebut ditutup sementara hingga memenuhi standar kesehatan yang berlaku.

Kepala Kantor Pelayanan Pemenuhan Gizi (KPPG) untuk wilayah Riau, Kepri, dan Sumbar, Syartiwidya, menyatakan masyarakat bisa melapor jika menemukan permasalahan di dapur SPPG.

“Silakan masyarakat lapor, baik wartawan, orang tua murid, maupun pihak sekolah. Karena tujuan kita sama, yaitu menghadirkan dapur yang sehat, higienis, dan memenuhi standar gizi untuk anak-anak kita,” ujarnya.

Menurut Syartiwidya, laporan dapat disampaikan langsung ke KPPG atau melalui link pengaduan resmi. Jika terbukti melanggar standar sanitasi atau tidak memiliki IPAL, dapur bisa diberhentikan sementara.

Sebagian Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul dan Tribun Padang dengan judul "Siswi di Agam Ungkap Ayam Berdarah Sebelum Keracunan Massal MBG, Guru Sempat Cicipi"