Bangunan Rapuh, Tim SAR Evakuasi Korban dengan Gali Lubang 60 Cm di Reruntuhan Ponpes Sidoarjo
Tim SAR gabungan harus bekerja keras mengevakuasi para santri yang terjebak di reruntuhan bangunan Pondok Pesantren Al Khoziny, Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur.
Proses penyelamatan dilakukan dengan menggali lubang sempit di bawah beton karena kondisi bangunan yang rapuh tidak memungkinkan penggunaan alat berat.
Direktur Operasi Basarnas Yudhi Bramantyo menjelaskan, metode ini terpaksa dipilih demi keselamatan para korban dan petugas.
"Galian dalam kondisi terbatas untuk dilewati dari segi diameter galian hanya 60 centimeter dengan kedalaman 80 centimeter. Personel harus merayap dalam posisi tengkurap tiga jam setiap shift agar bisa mencapai lokasi korban," ujarnya di Jakarta, Kamis (2/10/2025) dikutip dari Antara.
Mengapa Alat Berat Tidak Digunakan?
Kondisi bangunan yang rapuh membuat penggunaan alat berat menjadi sangat berisiko. Tim SAR Terpadu khawatir getaran dari alat berat dapat memicu runtuhan tambahan yang membahayakan korban maupun petugas penyelamat.
Kepala Kantor SAR Surabaya Nanang Sigit menuturkan, pembukaan akses menuju korban dilakukan secara manual.
Tim dibagi ke dalam beberapa regu kecil untuk menggali lubang mini yang memungkinkan mereka menjangkau suara atau tanda kehidupan korban.
Melalui lubang sempit tersebut, tim juga menyalurkan oksigen, air minum, makanan, dan obat-obatan kepada korban yang masih hidup. Komunikasi terus dijaga agar para korban tetap tenang menunggu proses evakuasi.
"Proses evakuasi harus dilakukan dengan presisi dan kehati-hatian tinggi," ujar Nanang.
Kondisi Ponpes Al Khoziny, Sidoarjo usai ambruk, Selasa (30/9/2025).
Basarnas menegaskan bahwa penggunaan alat berat baru akan dilakukan jika dipastikan tidak ada lagi tanda-tanda kehidupan di bawah reruntuhan.
Hingga saat ini, operasi SAR masih difokuskan pada penyelamatan korban yang kemungkinan masih hidup.
Tim gabungan terdiri dari Basarnas, TNI, Polri, BPBD, PMI, dan sejumlah relawan. Mereka bekerja secara bergantian selama 24 jam untuk mempercepat proses penyelamatan.
Berapa Banyak Korban yang Sudah Ditemukan?
Upaya evakuasi membuahkan hasil. Hingga Rabu (1/10/2025) malam, Tim SAR gabungan berhasil menemukan tujuh korban tambahan, sehingga total korban yang telah dievakuasi mencapai 18 orang.
Dari jumlah itu, dua santri ditemukan meninggal dunia, sedangkan lima lainnya berhasil diselamatkan.
Beberapa korban yang selamat antara lain Haikal Muhammad Wahyudi, Al Fatih, Putra, dan Rosi. Mereka kini menjalani perawatan di RSUD Notopuro. Sementara itu, dua korban meninggal dunia masih dalam proses identifikasi.
Yudhi menyebut, operasi pencarian akan terus dilanjutkan. Tim menghadapi tantangan besar karena kondisi reruntuhan yang tidak stabil.
"Setiap getaran berisiko memicu runtuhan tambahan. Karena itu kami mengutamakan kehati-hatian agar korban maupun petugas tetap selamat," jelasnya.