Update Evakuasi Pesawat ATR 42-500, Tim SAR Temukan Jasad Pramugari di Lereng Gunung Bulusaraung

Tim SAR gabungan kembali menemukan satu jenazah yang diduga merupakan pramugari korban kecelakaan pesawat ATR 42-500 di kawasan Gunung Bulusaraung, Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan (Sulsel), Kamis (22/1/2026).
Korban berjenis kelamin perempuan tersebut ditemukan di area yang sulit dijangkau, tepatnya di pinggiran sebuah air terjun di lereng gunung.
Penemuan ini menjadi titik terang dalam proses evakuasi panjang pasca-jatuhnya pesawat maskapai tersebut.
Ditemukan di Pinggir Air Terjun dengan Seragam Pramugari
Komandan Tim Elang 6, Letnan Dua TNI FS Siregar, mengonfirmasi bahwa jenazah yang ditemukan sekitar pukul 10.00 Wita itu masih mengenakan seragam pramugari. Kondisi jenazah saat ditemukan berada di antara bebatuan dan pepohonan di tebing yang curam.
"Mungkin yang bisa kami sampaikan jenis kelamin korban perempuan," ujar FS Siregar kepada awak media, Kamis (22/1/2026).
Siregar menjelaskan, posisi jenazah tersebut terbentur ke sebuah kayu besar di pinggir air terjun. Tubuh korban tetap tertahan di titik tersebut karena adanya vegetasi di sekitar lereng.
"Ada semak-semak yang menahan badan korban, mungkin karena kondisinya yang sudah lima hari kedinginan," lanjutnya.
Teka-teki Identitas Korban, Merujuk Data Manifes
Berdasarkan data manifes pesawat ATR 42-500, tercatat ada dua orang pramugari yang bertugas dalam penerbangan maut tersebut, yakni Esther Aprilita S dan Florencia Lolita Wibisono.
Sebelumnya, jenazah Florencia Lolita Wibisono telah lebih dulu ditemukan pada Senin (19/1/2025) di kedalaman 500 meter dari puncak Bulusaraung.
Jenazah Florencia pun telah diserahkan kepada pihak keluarga di Jakarta. Dengan demikian, kuat dugaan bahwa jenazah perempuan yang ditemukan di pinggir air terjun kali ini adalah Esther Aprilita S.
Evakuasi Ekstrem di Medan 80 Derajat
Tim Elang berhasil evakuasi satu korban pesawat 42-500 ke posko Tompobulu, Kabupaten Pangkep, Kamis (22/1/2026)
Proses evakuasi korban pesawat ATR 42-500 ini berlangsung sangat dramatis. Tim SAR harus menggunakan teknik evakuasi vertikal dengan bantuan Tim Rescue PT Vale karena medan yang sangat ekstrem.Selain kemiringan lereng yang mencapai 80 derajat, tim di lapangan harus berhadapan dengan cuaca ekstrem di puncak Gunung Bulusaraung.
"Tantangan dalam proses evakuasi adalah cuaca dingin dan kabut tebal yang menyelimuti puncak gunung. Medan yang kami lewati memiliki kemiringan sekitar 80 derajat," ungkap FS Siregar.
Berburu Waktu dengan Cuaca (Window Time)
Memasuki hari Jumat (23/1/2026), fokus utama Tim SAR gabungan adalah mengevakuasi lima korban lainnya yang masih berada di area tebing.
Lokasi koordinat jatuhnya pesawat berada pada 04°55’48” Lintang Selatan – 119°44’52” Bujur Timur, sekitar 42 kilometer dari Kota Makassar.
Komandan Lanud Sultan Hasanuddin, Marsekal Pertama (Marsma) TNI Arifaini Nur Dwiyanto, menjelaskan bahwa evakuasi dikebut melalui jalur udara untuk memanfaatkan window time atau jendela cuaca.
“Berdasarkan paparan BMKG, pukul 08.00 hingga 11.00 Wita menjadi window time terbaik. Pada ketinggian maksimal 5.000 kaki, pertumbuhan awan relatif minim,” ujar Arifaini, Jumat (23/1/2026).
Strategi Evakuasi Jalur Udara
Dua helikopter milik Basarnas dan TNI AU dikerahkan untuk menjemput jenazah di puncak gunung yang berada pada elevasi 4.000 hingga 4.200 kaki.
Tim SAR menggunakan sistem tali untuk menarik jenazah dari lereng menuju puncak sebelum diangkut helikopter.
“Medannya sangat terjal, jaraknya sekitar 500 meter. Strateginya menarik korban ke atas (puncak), tidak perlu dibawa turun ke Posko Tompobulu lewat jalur darat yang memakan waktu tiga jam,” pungkas Arifaini.
Hingga berita ini diturunkan, satu jenazah tambahan telah berhasil dibawa ke RS Bhayangkara Makassar melalui jalur darat, sementara lima lainnya sedang dalam proses penarikan menuju titik penjemputan helikopter di puncak gunung.
Artikel ini telah tayang di Tribun-Timur.com dengan judul Pramugari Kedua Korban Pesawat ATR 42-500 Ditemukan di Pinggir Air Terjun
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang