Agam Rinjani Ikut Evakuasi Korban Pesawat ATR 42-500, Dapat Dukungan Warganet Brasil

operasi SAR, pencarian korban, kecelakaan pesawat, Agam Rinjani Ikut Evakuasi Korban Pesawat ATR 42-500, Dapat Dukungan Warganet Brasil

Agam Rinjani, pemandu di Gunung Rinjani, ikut berpartisipasi dalam operasi pencarian dan penyelamatan (SAR) korban kecelakaan pesawat ATR 42-500 yang terjadi di Gunung Bulusaraung, Pangkep, Sulawesi Selatan, Sabtu (17/1/2026).

Pria yang memiliki nama lengkap Abdul Haris Agam ini menjadi perhatian publik setelah terlibat dalam evakuasi jenazah seorang pendaki asal Brasil, Juliana Marins, yang terjatuh dari tebing Rinjani pada Juni 2025.

Agam telah menyiapkan diri untuk operasi SAR ini dengan membawa berbagai peralatan penyelamatan, termasuk alat rappelling yang digunakan untuk menuruni tebing.

Dalam unggahan di Instagram pribadinya, ia mengekspresikan niatnya untuk membantu proses evakuasi tersebut, sambil meminta doa agar semua korban segera ditemukan.

Unggahannya tersebut menarik perhatian banyak warganet, terutama dari Brasil, di mana banyak yang memberikan dukungan dan doa untuk keselamatan Agam yang disampaikan dalam bahasa Portugis.

Operasi pencarian korban kecelakaan pesawat ATR 42-500 ini melibatkan tim SAR gabungan yang terdiri dari 10 personel dari Basarnas Makassar, Korpasgat TNI AU, BPBD Kota Makassar, Brimob, Pramuka Peduli, dan Jasdam.

Tantangan proses evakuasi

Tim SAR gabungan menghadapi tantangan besar dalam mengevakuasi korban pertama yang terjebak di dahan pohon dalam jurang yang dalam, di mana lokasi tersebut tidak jauh dari titik yang diduga menjadi tempat pesawat menghantam gunung.

Tim SAR menggunakan teknik rappelling untuk menurunkan diri mereka sekitar 100 meter menuju dasar jurang, di dekat puing-puing pesawat.

Proses tersebut membutuhkan waktu dua hingga tiga menit untuk setiap anggota tim.

Setibanya di lokasi, mereka melakukan penyisiran sejauh 200 meter mengikuti aliran air.

Korban pertama ditemukan pada hari Minggu (18/1/2026) pukul 13.43 Wita, dalam posisi tersangkut di tebing.

Proses evakuasi jenazah berlangsung selama satu jam karena posisi yang sulit dijangkau.

Meskipun tim telah berusaha keras untuk membawa jenazah ke atas, kondisi cuaca yang buruk dan kekurangan peralatan menjadi kendala yang cukup menyulitkan.

Setelah berdiskusi, tim memutuskan untuk mengubah rute evakuasi ke arah kampung terdekat.

Namun, perjalanan menuju kampung terhenti setelah tiga jam, karena cuaca semakin memburuk.

Mereka akhirnya harus bermalam di lereng yang berisiko longsor sambil menjaga jenazah.

Evakuasi dilakukan secara estafet

Pada hari Senin (19/1/2026), tim pertama menyerahkan jenazah kepada tim lanjutan.

Evakuasi dilakukan secara estafet menuju beberapa titik sebelum akhirnya dibawa ke RS Bhayangkara Makassar untuk identifikasi lebih lanjut.

500 yang dioperasikan oleh Indonesia Air Transport ini mengangkut tujuh kru serta tiga pegawai Kementerian Kelautan dan Perikanan (KPP) yang sedang melakukan misi pengawasan.

Pesawat hilang kontak saat mendekati Bandara Sultan Hasanuddin di Makassar. Dugaan awal, pesawat menabrak tebing Gunung Bulusaraung sebelum jatuh.

Benda diduga black box sudah ditemukan 

operasi SAR, pencarian korban, kecelakaan pesawat, Agam Rinjani Ikut Evakuasi Korban Pesawat ATR 42-500, Dapat Dukungan Warganet Brasil

Tim SAR gabungan temukan Black Box pesawat ATR 42-500 milik IAT, di Gunung Bulusaraung, Sulsel, Rabu (21/1/2026)

Sementara itu, pada hari ini, Rabu (21/1/2026), tim SAR menemukan benda yang diduga black box dari pesawat ATR 42-500.

Asisten Operasi Kodam XIV/Hasanuddin Kolonel Inf Dody Triyo Hadi menyampaikan bahwa tim khusus yang dikerahkan telah menemukan benda yang diduga sebagai black box pesawat ATR 42-500 yang mengalami kecelakaan di Gunung Bulusaraung, Sulawesi Selatan.

Ia menyebutkan, perangkat yang ditemukan tersebut berada di dalam potongan badan pesawat bagian ekor dan kondisinya masih utuh.

"Alhamdulillah bentuknya utuh. Ada di dalam potongan bagian ekor," kata Dody di Maros, Rabu (21/1/2026), dilansir dari Breaking News KompasTV.

Dody menjelaskan, saat ini tim di lapangan tengah membawa benda yang diduga black box itu menuju posko.

"Sekarang sudah bisa kita lepas dari dudukannya dan sedang proses turun menuju posko kita di Desa Tompobulu ini," ucapnya.

Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang