Penuh Ketegangan, Cerita Dokter Amputasi Nur Ahmad di Reruntuhan Bangunan Ponpes Al Khoziny

Bangunan di Ponpes Al Khoziny Sidoarjo ambruk pada Senin, (29/9)
Bangunan di Ponpes Al Khoziny Sidoarjo ambruk pada Senin, (29/9)

 Proses evakuasi korban ambruknya bangunan mushola di Ponpes Al Khoziny Sidoarjo masih menyisakan cerita. Salah satunya adalah proses amputasi yang dilakukan terhadap korban berusia 14 tahun bernama Nur Ahmad.

Nur Ahmad diketahui harus menjalani operasi amputasi langsung di bawah reruntuhan bangunan tersebut. Proses amputasi yang dilakukan oleh tiga dokter dari RSUD R. T. Notopuro Sidoarjo, juga bukan tanpa risiko keselamatan. Lantas bagaimana detik-detik proses operasi amputasi tersebut berlangsung?  Dokter spesialis ortopedi dan traumatologi RSUD R. T. Notopuro Sidoarjo, dr. Larona Hydravianto mengungkap momen-momen tersebut.

Dalam program Kabar Petang TvOne, dr. Larona sempat mengungkap Senin lalu dirinya yang sempat mendapat telefon dari direktur RSUD R. T. Notopuro Sidoarjo, terkait dengan adanya satu korban yang berada di bawah reruntuhan dan kemungkinan membutuhkan tindakan amputasi di tempat.

”Sekitar pukul 7 direktur RS saya menelfon memberitau beliau ada di lokasi bersama bapak bupati, dinkes, basarnas dan tim penolong lain. Ada info satu korban hidup yang dalam posisi di bawah reruntuhan yang kemungkinan membutuhkan tindakan amputasi di tempat karena tidak bisa dikeluarkan atau ditarik keluar. Mendengar itu saya langsung ke tempat kejadian,” kata dia seperti dikutip dari tayangan YouTube TvoneNews, Selasa 7 Oktober 2025.

Lebih lanjut diungkap oleh dr. Larona yang ditemani oleh Kepala Dinas Kesehatan setempat sempat melakukan assesment awal terhadap kondisi Nur Ahmad. Saat itu kata dr. Larona korban dalam keaaan sadar namun hanya bisa merespon dengan suara lemas.

”Jadi waktu itu saya mencari pastikan kesadaran Nur Ahmad bagaimana, Nur Ahmad ini sadar sempat saya panggil cuman jawabannya ’iya,iya aduh, aduh’ dengan suara yang pelan. Kaki bisa bergerak walaupun lemah kemudian tangan kiri dan tangan kanan ada gerakan. Problem memang di lengan kiri saya coba mendekat dan cek nadi di lehernya ada masih ada nadinya walau lemah detaknya, kemudian cek nadi di tangannya juga lemah lalu saya terus lebih dekat ke area lengan kiri,” ungkap sang dokter.

Lantaran kondisi tanganya tergencet dan sulit untuk dikeluarkan dirinya memutuskan untuk melakukan tindakan operasi. Keputusan ini diambil lantaran demi menyelamatkan nyawa korban.

”Saya berpikir iya memang harus diamputasi dengan pertimbangan keadaan shock, kemudian kita tidak tau sampai kapan bisa mengangkat ini sehingga kalau nanti kondisinya akan memburuk dan ancamannya nyawa korban. Saya putuskan ini harus diamputasi,” jelas dia.

Saat ingin melakukan operasi amputasi di tempat, dirinya ditawari untuk menggunakan alat yang seadaanya. Namun ditolaknya lantaran keamanan dan keselamatan korban, karena ditakutkannya jika menggunakan alat seadanya malah bisa memperburuk keadaan korban.  

”Saya menolak karena nanti akan malah memperburuk keadaan. Saat itu saya tidak ada alat yang proper untuk menghentikan pendarahan. Saya cuman bawa elastic band aid tidak terlalu rapat dan pisau yang tidak tajam itu malah nanti kita kesulitan,”kata dia.

Saat itu dirinya kemudian meminta waktu dan langsung menhubungi dokter di RSUD R. T. Notopuro Sidoarjo. Dirinya meminta sejumlah alat pembedaahan yang lengkap dan instrumen medis untuk tindakan amputasi.

Saat dua dokter dari RSUD R. T. Notopuro Sidoarjo datang, mereka juga harus dihadapkan pada ancaman bangunan yang ambruk. Sebab saat itu, pihak tim penolong ingin mencoba mengangkat puing-puing bangunan tersebut.

”Jadi saya sempat berargumen dengan tim penolong karena saat itu mau dicoba dikatrol lagi. ini pertaruahannya kalau itu diangkat kemudian tim medis di bawah itu berisiko kita kerubuhan makanya saya minta untuk tidak melakukan percobaan mengangkat lagi nanti kita masuk aja,” cerita dia.

Niat dari tim kemudian diurungkan, dan dirinya serta dua dokter dari RSUD R.T Notopuro Sidoarjo kemudian melakukan proses amputasi di lokasi. Setidaknya butuh waktu 15-20 menit proses amputasi dilakukan untuk bisa mengeluarkan korban.

”Kita masuk lagi bertiga saya, dr. Aron dan dr. Fahruk. Jadi dr. Aron mengambil posisi paling depan yang dekat dengan korban dengan lengan tersebut, di sampingnya dr. Fahruk dan di sampingnya dr. Fahruk dan di belakang dr. Aron saya dan saya membantu mengarahkan tindakan amputasi tersebut. Setelah itu sekitar 15-20 menit akhirnya pasien bisa kita keluarkan,” jelas dia.

Ponpes