Seluruh Korban Pesawat ATR 42-500 Ditemukan di Gunung Bulusaraung, Evakuasi Tahap Akhir
Tim SAR gabungan kembali menemukan satu jenazah korban kecelakaan pesawat ATR 42-500 di kawasan Gunung Bulusaraung, Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan, Kamis (22/1/2026).
Korban berjenis kelamin perempuan dan ditemukan di area ekstrem di sekitar air terjun.
Temuan ini menambah daftar korban yang berhasil dievakuasi dari lokasi jatuhnya pesawat yang hilang kontak sejak 17 Januari 2026.
Proses pencarian dan evakuasi masih terus berlangsung dengan mengandalkan jalur udara karena kondisi medan dan cuaca yang sulit.
Korban ditemukan di area air terjun Gunung Bulusaraung
Komandan Tim Elang 6, Letnan Dua TNI FS Siregar, mengatakan jenazah perempuan tersebut ditemukan sekitar pukul 10.00 WITA. Korban mengenakan seragam pramugari.
"Mungkin yang bisa kami sampaikan jenis kelamin korban perempuan," ujar FS Siregar, dikutip dari Tribunnews.con, Kamis (22/1/2026).
Ia menjelaskan, jenazah ditemukan di pinggir air terjun dengan posisi terhalang batang kayu dan semak-semak.
semak yang menahan badan korban, mungkin karena kondisinya yang sudah lima hari kedinginan," terangnya.
Berdasarkan data manifes, hanya terdapat dua pramugari dalam penerbangan tersebut, yakni Esther Aprilita S dan Florencia Lolita Wisibono.
Jenazah Florencia sebelumnya telah ditemukan pada Senin (19/1/2026) di kedalaman sekitar 500 meter dari puncak gunung dan sudah diserahkan kepada keluarga di Jakarta.
Evakuasi dilakukan secara vertikal di medan ekstrem
FS Siregar mengatakan proses evakuasi jenazah dilakukan menggunakan metode vertikal dengan bantuan Tim Rescue PT Vale. Medan di lokasi sangat terjal dan menyulitkan pergerakan tim.
"Kemiringan Bulusaraung ini, medan yang kami lewati sekitar 80 derajat," ujarnya.
Selain medan, cuaca dingin dan kabut tebal juga menjadi tantangan utama dalam operasi pencarian dan evakuasi di puncak Gunung Bulusaraung.
Cuaca jadi penentu evakuasi lima korban lainnya
Sementara itu, proses evakuasi lima korban lain dikebut dengan memanfaatkan jendela cuaca pagi.
Komandan Lanud Sultan Hasanuddin, Marsekal Pertama TNI Arifaini Nur Dwiyanto, mengatakan evakuasi difokuskan melalui jalur udara karena cuaca di wilayah pegunungan cepat berubah.
"Berdasarkan paparan BMKG, pukul 08.00 hingga 11.00 WITA menjadi window time terbaik," kata Arifaini, Jumat (23/1/2026).
Ia menjelaskan, pada ketinggian maksimal 5.000 kaki, pertumbuhan awan relatif minim sehingga memungkinkan helikopter melakukan evakuasi dari puncak gunung yang berada di ketinggian 4.000 hingga 4.200 kaki.
"Jalur evakuasi darat menuju helipad dinilai tidak efektif karena membutuhkan waktu sekitar tiga jam," ujarnya.
Helikopter dikerahkan, evakuasi dilakukan bertahap
Sejak pukul 05.00 WITA, tim SAR gabungan bergerak dari bawah membawa lima paket jenazah menuju puncak.
Penarikan dari lereng ke puncak diperkirakan memakan waktu hingga tiga jam.
Dalam operasi ini, dua helikopter milik Basarnas dan TNI AU dikerahkan. Evakuasi dilakukan bertahap tanpa menunggu seluruh korban tiba di puncak.
"Begitu satu atau dua jenazah tiba di puncak, langsung dijemput helikopter," kata Arifaini.
Selain itu, pesawat modifikasi cuaca dijadwalkan terbang lebih awal untuk menekan pertumbuhan awan di area evakuasi.
Total korban dievakuasi bertambah
Dari data Basarnas, hingga Jumat (23/1/2026), tujuh jenazah korban telah berhasil dievakuasi melalui jalur udara dan diserahkan ke tim DVI di RS Bhayangkara Makassar.
Kepala Basarnas RI Marsekal Madya TNI Mohamad Syafii mengatakan seluruh korban berhasil dievakuasi dalam kondisi medan yang sangat terjal.
"Kita berhasil mengevakuasi seluruh korban," ujarnya, dikutip dari , Jumat (23/1/2026).
Pesawat ATR 42-500 milik Indonesia Air Transport diketahui membawa 10 orang, terdiri dari tujuh awak pesawat dan tiga penumpang dari Kementerian Kelautan dan Perikanan, saat hilang kontak dalam penerbangan dari Yogyakarta menuju Makassar.
Sebagian artikel ini telah tayang di Tribunnews.com dengan judul Tim SAR Temukan Jenazah Perempuan Berseragam Pramugari di Pinggir Air Terjun.
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang