Erick Thohir dan Harapan Baru Diplomasi Olahraga Indonesia

erick thohir, Menpora, Erick Thohir dan Harapan Baru Diplomasi Olahraga Indonesia

PRESIDEN Prabowo Subianto resmi memberhentikan Erick Thohir sebagai Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dan mengangkatnya sebagai Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Kabinet Merah Putih (KMP) sisa periode masa jabatan 2024-2029 di Istana Negara, Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat, Rabu (17/9).

Menyusul pengangkatan Erick sebagai Menpora tersebut, sebagian masyarakat yang menilainya sebagai “penurunan” kelas.

Bila sebelumnya Erick memimpin Kementerian yang mengelola aset raksasa bernilai ribuan triliun rupiah dan menjadi pusat strategis ekonomi negara, kini ia harus memimpin kementerian yang skalanya lebih kecil dan hanya di ranah pembinaan olahraga dan kepemudaan.

Untuk menjawab pertanyaan tersebut, mari kita lihat ketentuan-ketentuan yang terdapat dalam Undang-Undang Nomor 39 tahun 2008 tentang Kementerian Negara.

Dalam pertimbangan UU tersebut disebutkan bahwa Presiden sebagai pemegang kekuasaan pemerintahan menurut Undang-Undang Dasar Negara Repubik Indonesia (UUD NRI) Tahun 1945 dalam menjalankan tugasnya dibantu oleh menteri-menteri negara yang membidangi urusan tertentu di bidang pemerintahan.

Dalam pasal 4 ayat 2, urusan tertentu dalam pemerintahan yang dimaksud terdiri atas: a. urusan pemerintahan yang nomenklatur Kementeriannya secara tegas disebutkan dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945; b. urusan pemerintahan yang ruang lingkupnya disebutkan dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945; dan c. urusan pemerintahan dalam rangka penajaman, koordinasi, dan sinkronisasi program pemerintah.

Kemudian dalam Pasal 5 ayat (3), disebutkan bahwa urusan pemerintahan dalam rangka penajaman, koordinasi, dan sinkronisasi program pemerintah meliputi urusan perencanaan pembangunan nasional, aparatur negara, kesekretariatan negara, badan usaha milik negara, pertanahan, kependudukan, lingkungan hidup, ilmu pengetahuan, teknologi, investasi, koperasi, usaha kecil dan menengah, pariwisata, pemberdayaan perempuan, pemuda, olahraga, perumahan, dan pembangunan kawasan atau daerah tertinggal.

Merujuk ketentuan-ketentuan tersebut di atas, tampak bahwa Kementerian BUMN dan Kemenpora sama-sama berada dalam satu kelompok kementerian yang menangani urusan pemerintahan dalam rangka penajaman, koordinasi, dan sinkronisasi program pemerintah. Dengan demikian tidak ada sebutan “naik” atau “turun” kelas jabatan.

Oleh karena itu, daripada mempersoalkan naik turunnya kelas jabatan menteri, ada baiknya kita melihat pertimbangan Presiden Subianto dalam mengangkat Erick sebagai Menpora dan harapan yang ingin dicapai oleh Pemerintah? Setidaknya ada dua pertimbangan utama.

Pertama, pengangkatan Erick sebagai Menpora tidak terlepas dari pertimbangan politik dan dinamika Kabinet yang mencerminkan kompromi politik.

Seringkali seorang menteri ditempatkan di posisi tertentu bukan karena “lebih rendah”, tapi karena kebutuhan politik atau keseimbangan kekuasaan di kabinet.

Kedua, pengangkatan Erick sebagai Menpora dalam rangka penajaman, koordinasi dan sinkronisasi strategi dan program Pemerintah di bidang kepemudaan dan olahraga.

Di bidang kepemudaan, terdapat sekitar 131 juta pemuda yang menjadi basis bangsa yang harus dibangun kapabilitasnya untuk bersaing secara global.

Di bidang olahraga, Indonesia kerap tertinggal prestasinya di berbagai event internasional dan kurangnya keterlibatan di berbagai organisasi olahraga internasional.

Oleh karenanya tampak keinginan kuat dari Presiden Prabowo untuk membawa olahraga Indonesia ke panggung global, sebagai bagian dari diplomasi olahraga, bukan sekadar sebagai peserta.

Bagi Indonesia, kehadiran di panggung olahraga global memberikan posisi strategis. Pertama, memberi akses diplomatik ke jaringan internasional yang luas.

Kedua, membuka peluang ekonomi dari industri olahraga. Ketiga, memperkuat posisi tawar Indonesia dalam isu-isu politik global, karena olahraga kerap menjadi pintu masuk diplomasi.

Sebagai pintu masuk, diplomasi olahraga bukan semata soal prestise pribadi atau pencitraan pemerintah. Lebih dari itu, ia adalah strategi soft power untuk menempatkan Indonesia pada peta dunia.

Menjadikan olahraga bukan semata arena kompetisi, melainkan juga panggung diplomasi dan cara bangsa ini hadir di dunia dengan penuh percaya diri.

Dalam kaitan ini, Indonesia, dengan politik luar negeri bebas aktifnya, memiliki potensi memainkan peran dalam meredakan ketegangan geopolitik.

Melalui olahraga, Indonesia dapat mendorong kerja sama lintas negara tanpa harus terjebak dalam politik blok. Misalnya, dalam forum ASEAN, Indonesia aktif mengusulkan integrasi agenda olahraga kawasan untuk memperkuat identitas bersama.

Dalam kaitan ini, pengangkatan Erick sebagai Menpora dirasakan sangat tepat untuk mencapai tujuan di atas. Hal ini mengingat ia memiliki dimensi personal dan branding yang dikenal luas di kancah internasional sebagai pengusaha sekaligus figur olahraga.

Perjalanan Erick di bidang olahraga internasional bukan cerita baru dan ia memiliki personal branding dan passion-nya di bidang ini.

Saat ini ia adalah Ketua Umum PSSI. Sebelumnya, saat dipercaya sebagai Ketua Panitia Asian Games 2018, ia sukses mengemas pesta olahraga itu bukan hanya sebagai ajang kompetisi, tetapi juga branding nasional.

Indonesia dipuji karena mampu menggelar event dengan standar internasional, menghadirkan wajah ramah, kreatif, dan penuh energi.

Erick juga sosok yang dapat masuk ke FIFA Council, duduk di IOC dan menjadi figur Asia Tenggara yang punya akses pada isu-isu besar dan pengambilan keputusan global olahraga, termasuk potensi bidding tuan rumah, seperti tampak dari keputusan FIFA untuk memilih Indonesia sebagai tuan rumah Piala Dunia U-17 2023.

Untuk itu, kiranya pengangkatan Erick sebagai Menpora dapat menghadirkan harapan baru diplomasi olahraga Indonesia yang lebih aktif, sebagaimana aktifnya Presiden Prabowo dalam melakukan kunjungan ke berbagai negara dan forum internasional.

Diplomasi olahraga di bawah kepemimpinan Erick kiranya dapat menyuarakan kepentingan nasional secara lebih lantang, percaya diri, dan strategis di hadapan dunia.

Indonesia, yang dulu lebih sering menjadi penonton dalam diplomasi olahraga, ke depan diharapkan mulai tampil sebagai pemain aktif.

Di saat situasi tidak menentu, Kompas.com tetap berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Ikuti terus update terkini dan notifikasi penting di Aplikasi Kompas.com.