Gagal Menikah, Mira Sumanti Ungkap Manfaat Journaling untuk Menyembuhkan Luka
Ketika pernikahan yang sudah direncanakan matang batal terlaksana, Mira Sumanti harus menghadapi salah satu fase paling berat dalam hidupnya, yaitu gagal menikah.
Di tengah rasa kehilangan, kecewa, dan berbagai emosi yang datang bertubi-tubi, ia menemukan satu cara sederhana yang membantunya bertahan dengan menulis jurnal.
Bagi Penulis Buku Swipe Therapy itu, journaling bukan sekadar aktivitas mencatat peristiwa sehari-hari.
Menulis menjadi ruang aman untuk menuangkan perasaan yang sulit diungkapkan kepada orang lain, sekaligus membantu memahami emosi yang muncul setelah gagal menikah.
Melalui halaman-halaman jurnal, Mira tidak hanya menemukan cara untuk melepaskan beban emosional, tetapi juga menemukan benang merah yang kemudian mengantarkannya menulis sebuah buku.
Kebiasaan menulis yang sudah dimulai sejak remaja
Penulis Buku Swipe Therapy, Mira Sumanti.
Mira mengaku sudah menyukai journaling sejak masih duduk di bangku sekolah menengah atas. Kebiasaan itu bahkan masih tersimpan hingga sekarang.
"Aku memang senang journaling dari dulu, bahkan belum lama ini aku ke rumah orangtuaku nemuin jurnal aku dari SMA. Isinya ternyata curhatan percintaan aku pada waktu itu," jelas Mira saat ditemui Kompas.com di Jakarta Selatan, Jumat (29/5/2026).
Saat menemukan kembali jurnal lamanya, Mira seolah melihat potongan-potongan perjalanan hidup yang pernah ia lalui.
Tulisan-tulisan lama itu menjadi pengingat bahwa mencatat perasaan sudah lama menjadi cara baginya untuk memproses berbagai pengalaman emosional.
Karena itulah, ketika menghadapi kegagalan menikah, ia secara alami kembali kepada kebiasaan yang sudah dikenalnya sejak lama.
Journaling untuk melepaskan beban emosi
Penulis Buku Swipe Therapy, Mira Sumanti.
Setelah hubungan yang seharusnya berujung di pelaminan kandas, Mira merasa perlu memiliki ruang untuk meluapkan berbagai emosi yang bercampur aduk dalam dirinya.
"Bahkan setelah putus, aku kembali journaling. Ini jadi kebiasaan sekaligus media untuk curhat karena membantu merilis emosi aku banget," ujarnya.
Di tengah proses pemulihan, jurnal menjadi tempat bagi Mira untuk menuliskan apa pun yang dirasakannya tanpa tekanan dan tanpa penilaian dari siapa pun.
Bagi Mira, kegiatan menulis tidak harus menghasilkan kalimat yang rapi atau mengikuti aturan tertentu. Yang terpenting adalah memberi ruang bagi emosi untuk keluar.
Perlahan, apa yang awalnya terasa begitu berat mulai menjadi lebih ringan. Setiap halaman yang terisi membantu dirinya memahami kesedihan yang sedang dihadapi dan menerima bahwa proses pemulihan memang membutuhkan waktu.
Dari jurnal menjadi cermin untuk mengenal diri sendiri
Penulis Buku Swipe Therapy, Mira Sumanti.
Tidak hanya membantu melepaskan emosi, journaling juga menjadi sarana refleksi bagi Mira.
Ketika membaca kembali tulisan-tulisannya, ia menemukan banyak hal yang sebelumnya tidak disadari saat sedang berada di tengah situasi yang menyakitkan.
"Dari tulisan-tulisan itu aku juga jadi memahami diriku, kenapa aku sebegitu sedihnya, kenapa suatu hal men-trigger aku. Ketika dibaca ulang aku tahu bahwa itu prosesnya dan it all make sense," ungkapnya.
Membaca ulang jurnal membuat Mira bisa melihat perjalanan emosinya dengan lebih jernih.
Ia mulai memahami alasan di balik berbagai reaksi yang muncul dan menyadari bahwa rasa sedih yang dialaminya merupakan bagian dari proses yang wajar.
Seiring berjalannya waktu, jurnal tersebut berubah menjadi semacam dokumentasi perjalanan batin yang merekam prosesnya dari titik terendah hingga perlahan bangkit kembali.
Ketika catatan pribadi berubah menjadi buku
Di tengah kebiasaan menulis itu, sebuah ide muncul dari orang terdekatnya. Sang adik menyarankan dia untuk mengubah tulisan jurnalnya menjadi sebuah buku.
Ide tersebut terus tersimpan di benaknya. Meski demikian, saat itu ia belum mengetahui bagaimana kisah hidupnya akan berakhir.
"Aku tahu ini akan aku jadikan buku suatu hari nanti, tapi aku belum tahu endingnya. Makanya, aku tetap jalani hidup, dating, ketemu banyak orang dari dating app, hingga akhirnya aku pindah ke Singapura dan merasa ketemu ending-nya," ujarnya.
Mira kemudian terus menjalani hidup, membuka diri terhadap pengalaman baru, bertemu banyak orang, dan melanjutkan proses penyembuhan yang tidak selalu berjalan lurus.
Catatan-catatan yang semula hanya menjadi tempat curhat pribadi berkembang menjadi fondasi bagi buku Swipe Therapy.
Buku tersebut tidak hanya memuat kisah tentang kegagalan cinta, tetapi juga perjalanan seseorang untuk memahami diri sendiri melalui proses menulis, refleksi, dan keberanian untuk terus melangkah maju setelah mengalami kehilangan yang mendalam.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang