Street Food Bangkok Terancam Digusur, Nasib Pedagang Jadi Sorotan

Street Food Bangkok Terancam Digusur, Nasib Pedagang Jadi Sorotan

Bangkok selama ini dikenal sebagai surga street food di Asia. Tidak heran, karena daya tariknya ini, Bangkok berhasil menjadi salah satu negara dengan tempat kuliner terenak versi Tripadvisor 2026.

Namun belakangan, nasib para pedagang kaki lima di Bangkok mulai tidak menentu. Kabarnya, pemerintah kota Bangkok memperketat aturan terhadap pedagang jalanan dengan alasan agar kota lebih tertib.

Kebijakan itu membuat banyak pedagang harus pindah dari pinggir jalan menuju pusat jajanan khusus atau hawker centre yang telah disediakan pemerintah.

Pedagang khawatir kehilangan mata pencaharian

Dilansir Kompas dari South China Morning Post pada Jumat (8/5/2026), salah satu pedagang di kawasan Chinatown Bangkok, Looknam Sinwirakit, mengaku khawatir dengan aturan baru tersebut.

Ia pernah didenda 1.000 baht atau sekitar Rp 500 ribu karena dianggap menghalangi jalan saat berjualan kue ketan goreng seharga 50 baht.

Meski berisiko terkena denda, kawasan Chinatown tetap dipilih karena ramai wisatawan dan pembeli lokal.

“Kami juga butuh mencari nafkah. Tidak adil kalau langsung menggusur pedagang,” ujarnya.

Kekhawatiran serupa juga dirasakan Wong Jaidee, pedagang durian yang sudah berjualan lebih dari 20 tahun di Bangkok.

Ia mengaku belum memiliki rencana cadangan jika suatu saat harus pindah lokasi.

“Biaya hidup di Bangkok mahal. Kami belum tentu bisa bertahan,” kata Wong.

Jumlah pedagang kaki lima terus berkurang

Data dari Bangkok Metropolitan Administration (BMA) menunjukkan jumlah pedagang keliling di Bangkok turun lebih dari 60 persen sejak 2022. Sekitar 10.000 pedagang kini sudah tidak lagi berjualan di jalanan.

Sebagian pedagang memilih pindah ke pusat jajanan resmi yang konsepnya mirip hawker centre di Singapura. Namun tidak sedikit juga yang akhirnya menutup usaha karena aturan semakin ketat atau pendapatan menurun.

Meski begitu, pemerintah Bangkok menyebut proses relokasi dilakukan secara bertahap dan pedagang diberi waktu mencari lokasi baru.

Pemerintah juga mulai membuka beberapa pusat kuliner baru. Salah satunya berada di dekat Taman Lumphini yang baru dibuka pada April lalu.

Di tempat tersebut, para pedagang kini menyewa kios dengan biaya sekitar 60 baht per hari atau sekitar Rp 30 ribu.

Disisi lain, ada beberapa pedagang yang merasa diuntungkan dengan kebijakan baru pemerintah Thailand ini. Beberapa pedagang mengaku kondisi berdagang di pusat kuliner baru terasa lebih nyaman karena tersedia akses listrik dan air yang lebih memadai.

Panissara Piyasomroj, penjual mi yang sebelumnya berjualan di sekitar Taman Lumphini sejak 2004, mengatakan tempat barunya terasa lebih bersih dan rapi.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang