Menikmati Kuah Bening Gurih yang Melegenda di Soto Basket Malang Sejak 1950

Soto, Malang, Menikmati Kuah Bening Gurih yang Melegenda di Soto Basket Malang Sejak 1950, Paduan Aroma dan Rasa yang Kuat, Soto “Basket”, Tungku Kayu yang Melegenda, Rasa dan Nostalgia, Sang Penjaga Waktu

Ada warung yang menyimpan cerita masa lalu dan juga waktu, dan  Soto Basket adalah salah satunya di antara sekian banyak soto legendaris yang ada di Malang. 

Setiap kali saya melangkahkan kaki ke Jalan Majapahit, lalu memasuki warung ini, rasanya seperti menyusuri lorong ingatan kota dari waktu ke waktu.

Saya pertama kali mengenal Soto Basket bukan dari rekomendasi wisata kuliner atau daftar tempat makan viral. 

Saat masih kecil, saya diajak Bapak dan Ibu ke warung soto ini sesekali di akhir pekan. Hanya bisa hari Sabtu, karena di hari biasa Bapak sibuk bekerja dan saya juga sekolah.

Apalagi kawasan Jalan Majapahit dulu merupakan deretan kios-kios buku, seperti area jalan Wilis saat ini. Soto Basket mampu menjadi pengganjal rasa lapar yang pas selepas berkeliling dari kios ke kios buku. Harga pun sangat ramah di kantong.

Soto, Malang, Menikmati Kuah Bening Gurih yang Melegenda di Soto Basket Malang Sejak 1950, Paduan Aroma dan Rasa yang Kuat, Soto “Basket”, Tungku Kayu yang Melegenda, Rasa dan Nostalgia, Sang Penjaga Waktu

Aneka lauknya yang memanjakan lidah - Dokumentasi pribadi 

Babat rawis yang menjadi lauk pendamping menikmati segarnya Soto Basket pun menjadi lauk yang kucari saat hamil muda anak pertama. Saya ngidam banget babat rawisnya, dan tidak mau babat di tempat lain. Aneh, padahal sejak kecil saya sama sekali tidak suka makan babat karena geli.

Waktu itu di tahun 2001, hampir setiap hari saya rela berpanas, berhujan demi dapat menikmati babat rawis di warung ini, hingga Pak Imam yang saat itu setia melayani di Soto Basket hafal dan sabar memenuhi permintaan saya yang langka ini.

Dan nyatanya, hingga anak saya beranjak dewasa dia suka sekali makan dengan lauk babat rawis, sedangkan saya sendiri kembali ke setelan asal, alias tidak doyan.

Soto, Malang, Menikmati Kuah Bening Gurih yang Melegenda di Soto Basket Malang Sejak 1950, Paduan Aroma dan Rasa yang Kuat, Soto “Basket”, Tungku Kayu yang Melegenda, Rasa dan Nostalgia, Sang Penjaga Waktu

Dokumentasi pribadi 

Paduan Aroma dan Rasa yang Kuat

Di dalam mangkuk sederhana itu, kuah bening mengepulkan asap yang menjadi letak kekuatannya; aroma dan rasa yang berpadu kuat.

Soto Basket tidak menggunakan koya, tidak pula bermain dengan aneka bumbu tambahan. Gurihnya lahir dari kaldu tulang sapi yang direbus lama, dan apa adanya. Irisan daging sapi yang sahaja, taoge segar, daun bawang, taburan bawang goreng merah dan putih yang memancing air liur.

Saat suapan pertama, saya selalu merasakan satu hal yang sama; kuah ringan, namun menempel lama di ingatan. Saya paham mengapa orang-orang datang kembali ke tempat ini, bahkan setelah bertahun-tahun meninggalkan Malang.

Soto “Basket”

Soto Basket bukan warung baru, tetapi telah berdiri sejak 1950, dimulai dari pikulan seorang kakek, bernama H. Sukron yang berjualan di sekitar lapangan basket Jalan Agus Salim, yang sekarang ini menjadi mal Gajahmada Plaza. Dari sanalah nama “Basket” berasal, bukan dari konsep, melainkan dari lokasi dan ingatan pelanggan.

Nama itu bertahan, meski tempat berpindah-pindah. Hingga akhirnya menetap di Jalan Majapahit di seberang Dewan Kesenian Malang (DKM). Soto Basket yang diteruskan oleh Rohman, sang ayah sejak tahun 1994, kemudian dikelola oleh Rahmad Ardiansyah, generasi ketiga yang memilih satu prinsip tidak mengubah resep warisan sejak tahun 2000.

Hingga pada tahun 2004 Soto Basket pindah, bergeser sedikit dari lokasi tersebut sampai sekarang, tepatnya di pojokan gang menuju SDN Kiduldalem 1.

Soto, Malang, Menikmati Kuah Bening Gurih yang Melegenda di Soto Basket Malang Sejak 1950, Paduan Aroma dan Rasa yang Kuat, Soto “Basket”, Tungku Kayu yang Melegenda, Rasa dan Nostalgia, Sang Penjaga Waktu

Tetap sederhana - Dokumentasi pribadi 

Tungku Kayu yang Melegenda

Yang membuat Soto Basket semakin terasa sebagai ruang waktu adalah tungku kayu bakar yang masih digunakan hingga hari ini. Kuah dimasak dalam panci besar, di atas api kayu yang menyala pelan. Mungkin terlihat tidak efisien, namun di situlah rasa sangat dirawat.

Saya sering memperhatikan bagaimana asap tipis mengepul dari panci soto yang besar dan khas, bercampur dengan suara klentingan sendok yang berbaur dengan obrolan singkat pelanggan. Sambil sesekali menusukkan garpu di kepingan tempe goreng, perkedel, aneka jeroan yang melengkapi keakraban.

Suara kemeriuk kerupuk yang beraneka, butiran lembut dan menggoda telur-telur asin di atas piriang menyempurnakan selera dan gairah makan.

Soto, Malang, Menikmati Kuah Bening Gurih yang Melegenda di Soto Basket Malang Sejak 1950, Paduan Aroma dan Rasa yang Kuat, Soto “Basket”, Tungku Kayu yang Melegenda, Rasa dan Nostalgia, Sang Penjaga Waktu

Jeruk nipis hangat teman makan soto paling pas - Dokumentasi pribadi 

Kadang saya menambahkan sedikit sambal dan kecap asin. Rasanya langsung menghangat, tidak hanya di perut, tapi juga di kepala. Seperti diingatkan bahwa makan tidak harus mewah. Rasa ini semakin melekat kuat, apalagi ditambah dengan segelas jeruk nipis hangat.


Rasa dan Nostalgia

Sebagian besar pelanggan Soto Basket di Jalan Majapahit adalah orang dewasa. Pegawai Pemkot dan Pemkab Malang kerap mampir saat jam istirahat. Mereka makan nyaris tanpa banyak bicara dengan irama yang sama setiap saat; waktu istirahat makan tidak pernah lama. Dan warung ini menjadi jeda singkat dari rutinitas yang padat.

Pak Rahmad pernah bercerita bahwa pemain basket yang dulu bermain di lapangan Jalan Agus Salim juga sering datang. Mereka tidak sekadar makan; mereka bernostalgia. Mencari rasa yang dulu akrab di lidah mereka.

Saya semakin menyadari, Soto Basket bukan hanya kuliner, namun lebih pada pancaran ingatan tentang kota yang selalu berubah, tentang lapangan basket yang kini menjadi mal, juga tentang rasa yang tetap tinggal.

Soto, Malang, Menikmati Kuah Bening Gurih yang Melegenda di Soto Basket Malang Sejak 1950, Paduan Aroma dan Rasa yang Kuat, Soto “Basket”, Tungku Kayu yang Melegenda, Rasa dan Nostalgia, Sang Penjaga Waktu

Soto, lauk, dan minuman yang pas di Soto Basket - Dokumentasi pribadi 

Sang Penjaga Waktu

Kini, Soto Basket memiliki beberapa cabang di Kota Malang. Namun, bagi saya, yang di Jalan Majapahit selalu memiliki daya tarik tersendiri. Selain menggunggah memori masa kecil saat Bapak masih ada.

Bisa jadi karena gang sempitnya atau karena tungku kayunya, kopi kentalnya yang pas, atau mungkin karena di tempat inilah saya belajar bahwa rasa yang baik tidak perlu banyak bicara.

Dengan harga Rp 15.000,- per porsi, Soto Basket tidak menjual sensasi palsu. Ia menawarkan sesuatu yang lebih langka yakni keteguhan menjaga rasa.

Di tengah kota yang terus bergerak, Soto Basket berdiri sebagai penanda bahwa tidak semua hal harus berubah agar tetap hidup. Kadang, yang paling abadi justru yang paling sederhana seperti semangkuk soto berkuah bening yang sejak 1950 setia menghangatkan Malang, dan siapa pun yang datang membawa rindu. Salam Lestari! (Yy).

Konten ini merupakan opini/laporan buatan blogger dan telah tayang di Kompasiana.com dengan judul "Sensasi Kuah Bening dan Gurih yang Melegenda di Soto Basket Malang Sejak 1950"

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang