Sebelum Jadi Perwira, Taruna Akpol Diterjunkan Pelajari Langsung Penanganan Kasus di Lapangan

Taruna Akpol Tingkat III Batalyon Ksatrya Hawin melakukan tugas kepolisian di lapangan
Taruna Akpol Tingkat III Batalyon Ksatrya Hawin melakukan tugas kepolisian di lapangan

Sebanyak 15 Taruna Akademi Kepolisian (Akpol) Tingkat III Batalyon Ksatrya Hawin mulai merasakan langsung tantangan tugas kepolisian di lapangan.

Mereka menjalani Latihan Kerja (Latja) di Polres Malang selama dua pekan, mulai 6 hingga 20 Juni 2026. Program tersebut menjadi bagian penting dalam proses pembentukan calon perwira Polri sebelum nantinya terjun memimpin satuan di berbagai daerah.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Selama berada di Polres Malang, para taruna tidak hanya mengikuti pembelajaran di ruang kelas. Mereka juga diterjunkan untuk mengamati hingga mempraktikkan berbagai tugas kepolisian yang sehari-hari dihadapi anggota di lapangan.

Mulai dari penanganan lalu lintas, penyelidikan kasus kriminal, patroli keamanan, kegiatan intelijen, hingga pembinaan masyarakat menjadi bagian dari materi yang harus dipelajari para calon perwira tersebut.

Kapolres Malang, Ajun Komisaris Besar Polisi Muhammad Taat Resdi mengatakan latihan kerja menjadi tahapan penting untuk menjembatani teori yang diperoleh di Akademi Kepolisian dengan realitas tugas di lapangan.

“Latja bukan sekadar menjalankan program pendidikan, tetapi menjadi kesempatan bagi para taruna untuk mengaplikasikan ilmu yang telah diperoleh selama di Akademi Kepolisian ke dalam situasi tugas yang nyata di lapangan,” ujarnya, dikutip Jumat, 12 Juni 2026.

Menurut dia, pengalaman lapangan menjadi bekal penting bagi taruna sebelum resmi menyandang pangkat perwira. Sebab, kompleksitas persoalan yang dihadapi kepolisian tidak sepenuhnya dapat dipahami hanya melalui proses pembelajaran akademik.

Karena itu, para peserta Latja akan mengikuti berbagai kegiatan operasional yang mencakup lima fungsi teknis kepolisian, yakni lalu lintas, reserse kriminal, samapta, intelijen dan keamanan (Intelkam), serta pembinaan masyarakat (Binmas).

“Pemahaman terhadap dinamika tugas kepolisian tidak cukup diperoleh melalui pendidikan di kelas. Pengalaman lapangan diperlukan agar para taruna dapat memahami secara langsung peran Polri sebagai pelindung, pengayom, dan pelayan masyarakat,” ujarnya.

Selain memahami tugas teknis kepolisian, para taruna juga dibekali pemahaman mengenai penerapan Program Presisi yang saat ini menjadi konsep utama pelayanan Polri kepada masyarakat.

“Kami berharap para taruna dapat memanfaatkan kesempatan ini sebaik-baiknya untuk memperkaya wawasan, meningkatkan kompetensi, serta membangun karakter kepemimpinan yang profesional dan berintegritas,” kata dia.

AKBP Taat menambahkan, pengalaman yang diperoleh selama Latja diharapkan menjadi modal awal bagi para taruna saat nantinya bertugas sebagai perwira Polri.

“Melalui latihan kerja ini, para taruna diharapkan mampu memahami bagaimana Program Presisi diterapkan dalam pelaksanaan tugas sehari-hari sehingga nantinya siap menjadi perwira yang adaptif terhadap perkembangan dan kebutuhan masyarakat,” katanya.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Selama dua pekan ke depan, para taruna akan mengikuti berbagai kegiatan pembelajaran, observasi, hingga praktik lapangan yang didampingi personel dari masing-masing fungsi kepolisian.

“Kami ingin para taruna mendapatkan pengalaman yang utuh tentang tugas kepolisian di wilayah. Dengan begitu, saat terjun sebagai perwira nanti mereka telah memiliki bekal pengetahuan, keterampilan, dan pengalaman yang memadai,” tutur dia lagi.