Teka-teki Lubang Raksasa Aceh Akhirnya Terbongkar, Ini Kata Dinas ESDM
Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Aceh membongkar kemunculan lubang raksasa mirip sinkhole di Kampung Pondok Balik, Kecamatan Ketol, Aceh Tengah, Provinsi Aceh.
Keberadaan lubang tersebut menjadi perhatian publik sejak Januari 2026 karena ukurannya yang begitu besar melebihi diameter sinkhole pada umumnya.
Menurut Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Aceh Tengah, Andalika pada Kamis (15/1/2026), lubang di Kecamatan Ketol pertama kali muncul sejak awal 2000-an.
Pergerakan tanah di area lubang pada 2000 hingga 2004 sempat memutus akses jalan Blang Mancung–Simpang Balik sekitar tahun 2006.
Padahal jalur tersebut begitu vital sebagai penghubung Aceh Tengah dan Bener Meriah.
"Beberapa sumber menjelaskan bahwa lubang kecil sudah mulai terbentuk sejak awal tahun 2000-an. Di mana pergerakan tanah terus terjadi secara bertahap sejak 2004," ujar Andalika dikutip dari Antara, Kamis (15/1/2026).
Penyebab Lubang Raksasa Aceh Tengah
Kepala Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Aceh, Taufik, mengatakan bahwa luas awal lubang raksasa di Kecamatan Ketol hanya 7.000 meter persegi.
Meski begitu, luas lubang terus bertambah menjadi 30.172 meter persegi pada 2022.
Taufik mengatakan, wilayah yang menjadi lokasi lubang raksasa tersusun atas batuan vulkanik yang didominasi tufa dan pasir yang mudah lepas.
Kestabilan lereng bisa terpengaruh apabila ada aliran air bawah tanah yang menggerus material ditambah curamnya kemiringan tebing.
"Pada Tahun 2022 melalui Surat Laporan Penyelidikan Kepada Bupati Aceh Tengah No: 360/649 Tanggal 30 Mei 2022 kami memantau luasan gerakan tanah yaitu sebesar 28.000 meter persegi, dan saat ini telah berkembang seluas 30.172 m2 yang telah mencapai badan jalan utama dan terus berkembang ke arah Tenggara," kata Taufik dikutip dari Minggu (1/2/2026).
Terpisah, Kepala Bidang Geologi dan Air Tanah Dinas ESDM Aceh, Ikhlas, menyebutkan bahwa material di wilayah lubang raksasa berkaitan dengan Gunung Api Geureudong yang ada sejak jutaan tahun silam.
Lokasi gunung tersebut berada di Kabupaten Bener Meriah. Namun, statusnya sudah berubah menjadi gunung tidak aktif.
"Kenapa disebut Formasi Gereudong, karena berasal dari material pilokastik Geureudong yang akhirnya sampai ke Aceh Tengah," ujar Ikhlas dikutip dari , Minggu (2/1/2026).
"Material ini bersifat lepas, dan mudah menyerap air sehingga dia jenuh kepada air ketika air hujan datang membebani terhadap daerah itu sendiri, apalagi curah yang terbentuk karena terjadinya beberapa kali erosi hingga terjal dan tegak, itu yang membuat lereng tersebut tidak stabil," tambahnya.
Ikhlas juga menerangkan, hujan lebat yang terjadi pada akhir November 2025 akibat Siklon Senyar juga menyebabkan lereng semakin tidak stabil.
Kondisi tersebut membuat longsoran terus bergerak secara perlahan-lahan.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang