Psikolog Bedah Kasus Child Grooming Aurelie Moeremans, Kurang Perhatian Orang Tua?
Pengakuan Aurelie Moeremans tentang pengalaman child grooming yang ia tuangkan dalam buku memoarnya berjudul Broken Strings masih menjadi perbincangan hangat. Keberanian aktris tersebut membuka luka masa lalunya tidak hanya menyentuh publik, tetapi juga menarik perhatian para ahli psikologi yang mencoba melihat kasus ini dari sudut pandang ilmiah dan emosional.
Salah satu yang angkat bicara adalah psikolog Joice Manurung. Dalam sebuah acara televisi yang dipandu Irfan Hakim, Joice memberikan penjelasan mendalam terkait kondisi psikologis Aurelie serta dinamika emosional yang kerap terjadi pada korban child grooming. Menurutnya, pengalaman hidup yang berat sejak usia muda bisa membentuk daya tahan mental seseorang. Scroll ke bawah untuk simak artikel selengkapnya.
Aurelie Moeremans
“Satu sisi yang saya lihat dari Aurelie, beliau punya daya tahan emosi yang relatif kuat ya. Jadi barangkali bentukan pengalaman hidupnya tuh cukup bergejolak cukup tangguh sehingga dia terbiasa dengan tekanan, terbiasa dengan situasi yang membuat dia tidak merasa nyaman, kemungkinan seperti itu,” jelas Joice Manurung yang dikutip dari tayangan YouTube pada Selasa, 20 Januari 2026.
Namun, ketenangan Aurelie saat menceritakan kisah pahit tersebut juga dinilai sebagai bentuk mekanisme bertahan. Joice menyebut, banyak korban trauma yang tampak kuat di luar, tetapi sebenarnya menyimpan tekanan emosional dalam jangka panjang.
“Namun, sisi lain saya pikir ini upaya dia juga untuk menenangkan dirinya. Jadi banyak orang memilih cara merasionalisasi dan menunjukkan sesuatu yang sifatnya tuh ah gapapa kok saya bisa lalui kok. Satu sisi itu baik karena itu membantu dia bisa melewati, dia menyelesaikan strenya tekanannya. Namun, satu sisi itu kan menimbun sebenarnya,” lanjutnya.
Lebih jauh, Joice menekankan bahwa relasi dalam kasus child grooming kerap disalahartikan sebagai cinta. Padahal, yang terjadi adalah ketergantungan emosi yang terbentuk akibat kebutuhan afeksi yang tidak terpenuhi sejak awal.
“Sebenarnya ini bukan bentuk cinta dalam arti yang sebenarnya ya, tapi bentuk ketergantungan emosi. Jadi kalo biasanya child grooming itu dialami oleh anak-anak yang secara afeksinya memang kurang perhatian atau bentuk attachment atau kedekatan emosional dengan figur terdekat ayah ibu saudara misalnya itu kurang,” tuturnya.
Pelaku, menurut Joice, biasanya sangat jeli membaca kekosongan emosional korban. Mereka lalu hadir sebagai sosok yang memberi perhatian, perlindungan, dan rasa aman semu.
“Sehingga ketika ada sosok lain yang tau ini kelemahannya, masuk ambil celah dia ambil peran yang mirip seperti itu dan memenuhi kebutuhan itu anak ini jadi merasa eh ada yang memenuhi kebutuhan aku, ada yang nyayangin aku, ngelindungin aku, seakan-akan itu perasaan tanda kutip cinta padahal ketergantungan emosi,” jelasnya.
Tak jarang, korban tetap bertahan meski mengalami perlakuan menyakitkan. Joice menjelaskan bahwa kepatuhan tersebut berakar dari ketakutan akan kehilangan figur yang dianggap sebagai pelindung.
“Tapi, kalaupun tanda kutip dia disiksa, itu sebenernya bentuk dia untuk patuh. Jadi kalau dia melawan si pelindung ini menurut dia akan menjauhkan diri dari dia. Dia kehilangan,” ungkapnya.
Rasa takut ditinggalkan inilah yang membuat korban memilih bertahan, meski harus mengorbankan diri sendiri.
“Nah daripada ditinggalkan diabaikan, dia memilih untuk patuh. Patuh ini lah yang kita anggap sebagai tindakan untuk mau disakiti . mau menerima tindakan tidak sewajarnya dan lain sebagainya,” tandas Joice.