Kegiatan Alam Bisa Bentuk Karakter Anak dan Remaja, Gak Melulu Harus Belajar di Ruang Kelas
Pengasuhan anak dan remaja tidak hanya berbicara soal pemenuhan kebutuhan dasar, tetapi juga tentang bagaimana membentuk karakter, mental, dan rasa percaya diri mereka sejak dini.
Hal inilah yang tercermin dalam pengalaman 31 remaja panti asuhan yang mengikuti program pelatihan karakter Outward Bound Indonesia (OBI) Masa Depan Cerah di kawasan alam terbuka Waduk Jatiluhur, Purwakarta, Jawa Barat. Scroll untuk tahu lebih lanjut, yuk!
Selama enam hari, para remaja berusia 14–18 tahun tersebut menjalani pembelajaran berbasis pengalaman langsung di alam. Mereka tidak hanya diuji secara fisik, tetapi juga dilatih untuk mandiri, bekerja sama, mengambil keputusan, serta menghadapi tantangan dengan sikap positif. Pendekatan seperti ini dinilai relevan dalam dunia parenting, terutama bagi anak-anak yang tumbuh tanpa pendampingan orang tua secara utuh.
Direktur Eksekutif OBI, Neil Laksmana Kusumowidagdo, menjelaskan bahwa program ini dirancang untuk menjawab kebutuhan dasar anak-anak panti asuhan akan figur panutan dan ruang pembelajaran karakter yang nyata.
“Kami melihat banyak anak panti asuhan, khususnya anak yatim, tumbuh tanpa figur role model yang bisa menjadi panutan. Karena itu, di setiap kelompok kami tempatkan mentor yang hadir bukan hanya sebagai pendamping, tetapi juga sebagai role model. Tujuan kami adalah membangun karakter mereka agar lebih tangguh, kreatif, dan resilient,” jelas Neil dalam keterangannya, dikutip Minggu 11 Januari 2026.
Para peserta dibagi ke dalam kelompok kecil dan didampingi mentor yang berperan layaknya orang dewasa pendukung dalam pola asuh. Mereka menjalani aktivitas seperti hiking, high rope, canoe orienteering, hingga berkemah. Anak-anak juga belajar memasak sendiri, mendirikan tenda, membaca peta, hingga mengelola perlengkapan pribadi. Aktivitas ini secara tidak langsung menanamkan nilai tanggung jawab dan kemandirian—dua hal penting dalam proses tumbuh kembang remaja.
Koordinator Program Masa Depan Cerah, Adinda, menyebut adaptasi peserta berlangsung cepat.
“Menariknya, anak-anak hampir tidak mengalami kendala berarti. Adaptasi hanya di hari pertama. Setelah itu mengalir lancar. Karena terbiasa hidup mandiri di panti asuhan, kemampuan mereka mengurus diri sendiri seperti memasak juga sudah sangat baik,” jelas Adinda.
Dari sisi anak, pengalaman ini menjadi ruang belajar yang berkesan. Raya (16), salah satu peserta asal Jakarta, mengaku mendapatkan banyak pelajaran hidup.
“Seru! Banyak tantangan yang didapat dari hari pertama. Kita belajar kerja sama dengan teman, critical thinking, problem solving lalu malamnya berkemah. Banyak pengalaman baru yang belum pernah saya alami sebelumnya, seperti rafting. Saya sangat gembira bisa ikut program ini,” ujar Raya.
Program ini ditutup dengan sesi refleksi dan wisuda, menandai selesainya proses belajar yang tidak hanya berfokus pada hasil, tetapi pada perjalanan. Neil menegaskan bahwa setiap anak berhak mendapatkan kesempatan bertumbuh dan memiliki harapan.
“Program Masa Depan Cerah adalah bentuk OBI bahwa setiap anak Indonesia, termasuk anak-anak panti asuhan, berhak mendapatkan kesempatan untuk bertumbuh, menemukan potensi dirinya, dan memiliki harapan akan masa depan yang lebih baik, creating a better future, one child at a time,” ujarnya.
Dalam perspektif parenting, pengalaman berbasis alam seperti ini menunjukkan bahwa pembentukan karakter tidak selalu harus terjadi di ruang kelas. Dengan pendekatan yang tepat, lingkungan alam dan pendampingan yang hangat dapat menjadi sarana efektif untuk menumbuhkan anak yang tangguh, mandiri, dan berani menghadapi masa depan.