Usia Remaja Paling Rentan Jadi Korban "Child Grooming" di Jakarta, Mengapa?
Remaja di kota Jakarta disebut menjadi usia yang lebih rentan untuk menjadi korban perilaku child grooming.
Hal itu disampaikan oleh Tenaga Ahli Psikolog Klinis Pusat Perlindungan Perempuan dan Anak Provinsi DKI Jakarta Meinita Fitriana Sari.
Meinita menyebut di kota seperti Jakarta, remaja menjadi usia paling rentan menjadi korban child grooming.
"Dengan situasi dan kondisi yang ada di Jakarta, kerentanannya itu berada di usia remaja, karena dia memulai membangun relasi dengan banyak pihak," kata Meinita dalam siniar dikutip dari Antara (28/1/2026).
Meinita mengatakan remaja lebih banyak berinteraksi dengan teman sebaya dibandingkan dengan keluarganya.
Pada fase itulah, remaja harus mempunyai kemampuan untuk bisa menyaring relasi yang sehat dan tidak sehat.
Selain itu, remaja dan anak-anak saat ini juga sudah terpapar teknologi digital, baik media sosial maupun game online, yang berisiko menempatkan mereka terkena online grooming.
"Pelaku pada saat online grooming itu mendekati anak, misalnya lewat chat. Kalau di game online, bisa berkomunikasi lewat chat, atau media sosial untuk membangun kepercayaan, lalu pada akhirnya melakukan kekerasan bentuknya seksual atau child grooming," ujar Meinita.
Child grooming merupakan proses manipulasi oleh orang dewasa dengan membangun kedekatan emosional, membangun kepercayaan terhadap anak, sehingga kontrol mereka terhadap anak menjadi lebih besar, dengan tujuan untuk eksploitasi atau melakukan kekerasan seksual pada anak.
Pada 2025, Pusat Perlindungan Perempuan dan Anak DKI Jakarta menangani total sebanyak 2.269 kasus kekerasan.
Dari jumlah tersebut, kekerasan pada anak mencapai 1.224 kasus, dan dari 1.224 itu, terdapat 673 kasus kekerasan seksual pada anak.
Korban child grooming sering kali tidak sadar jika sedang dimanipulasi
Ahli Psikolog Klinis Pusat Perlindungan Perempuan dan Anak Provinsi DKI Jakarta menyebut usia remaja paling rentan menjadi korban child grooming.
Child grooming menjadi salah satu ancaman serius bagi anak dan remaja karena pelaku bisa memanipulasi untuk melakukan kontak seksual dan memenuhi keinginannya.
Apalagi, dalam kebanyakan kasus child grooming, anak-anak yang menjadi korban tidak menyadarinya.
Praktik child grooming kerap luput dari perhatian karena sering kali disamarkan sebagai bentuk perhatian atau hubungan romantis.
Pelaku sering kali menciptakan ilusi perhatian, cinta, dan penerimaan yang membuat korban merasa dihargai dan dicintai.
Itu membuat korban cenderung melihat segala kebaikan pelaku sebagai bukti cinta, tanpa menyadari manipulasi yang terjadi.
Pelaku juga kerap menggunakan manipulasi emosional dengan memberikan pujian, perhatian, atau hadiah, baik berupa materi maupun ungkapan verbal.
Ditambah, pelaku memanfaatkan anggapan bahwa orang yang baik dan perhatian tidak mungkin memiliki niat buruk.
Di sisi lain, korban juga sering kali merasa nyaman dengan perhatian yang diberikan. Ilusi perhatian tersebut membuat korban bisa taat meskipun pelaku meminta hal-hal yang menyalahi nilai moral atau nilai-nilai keluarga.
Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul:
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang