BERITA FOTO: Banjir Bandang Sisakan Tumpukan Kayu yang Kepung Desa-desa di Aceh Tamiang
Banjir bandang yang melanda Kabupaten Aceh Tamiang meninggalkan dampak besar bagi ribuan warga.
Salah satu desa yang paling terdampak adalah Desa Menang Gini, di mana tumpukan kayu-kayu gelondongan menutup akses jalan dan membuat wilayah tersebut benar-benar terisolasi.
Kondisi ini menyebabkan bantuan bagi korban banjir Sumatera sulit dijangkau, sementara kebutuhan warga semakin mendesak setelah lebih dari sepekan bencana terjadi.
Apa Penyebab Warga Terisolasi Setelah Banjir Bandang?
Seorang bocah berjalan meniti kayu-kayu yang memenuhi area Pondok Pesantren Darul Mukhlishin pascabanjir bandang di Desa Tanjung Karang, Karang Baru, Kabupaten Aceh Tamiang, Aceh, Jumat (5/12/2025). Usai sepekan setelah bencana banjir bandang, akses menuju Desa Tanjung Karang masih terhambat akibat banyaknya tumpukan pohon dan lumpur tebal dari Sungai Tamiang sehingga bantuan sulit masuk ke wilayah tersebut. ANTARA FOTO/Erlangga Bregas Prakoso/app/foc.
Tumpukan material banjir berupa kayu gelondongan dan lumpur tebal menjadi hambatan utama.
Kayu-kayu tersebut memenuhi area pemukiman hingga fasilitas pendidikan, seperti yang terjadi di Pondok Pesantren Darul Mukhlishin di Desa Tanjung Karang, Karang Baru.
Sepekan setelah banjir bandang, akses menuju desa tersebut masih terputus karena material yang terbawa arus Sungai Tamiang menutup seluruh jalur darat.
Akibatnya, warga terpaksa berjalan belasan kilometer hanya untuk mendapatkan makanan dan minuman.
Jalur darat yang tertutup membuat mereka tidak memiliki pilihan lain selain menembus hutan atau menyusuri wilayah perbukitan demi bertahan hidup.
Foto udara menampilkan tumpukan kayu-kayu memenuhi area Pondok Pesantren Darul Mukhlishin pascabanjir bandang di Desa Tanjung Karang, Karang Baru, Kabupaten Aceh Tamiang, Aceh, Jumat (5/12/2025). Aceh Tamiang Disebut Kota Zombie usai Banjir, Ini 5 Fakta Kondisinya
Wilayah Mana Saja yang Masih Sulit Dijangkau?
Juru Bicara Pemkab Aceh Tamiang, Agusliyana Devita, menjelaskan bahwa terdapat tujuh kecamatan yang hingga kini masih sulit diakses.
“Umumnya desa yang sulit dijangkau berada di bagian hulu dan sebagian hilir,” ujar Agusliyana, Jumat (5/12/2025).
Ketujuh kecamatan tersebut meliputi:
- Kecamatan Kejuruan Muda
- Kecamatan Sekerak
- Kecamatan Rantau
- Kecamatan Bendahara
- Kecamatan Tamiang Hulu
- Kecamatan Seruway
- Kecamatan Karang Baru.
Seorang bocah berjalan meniti kayu-kayu yang memenuhi area Pondok Pesantren Darul Mukhlishin pascabanjir bandang di Desa Tanjung Karang, Karang Baru, Kabupaten Aceh Tamiang, Aceh, Jumat (5/12/2025). Usai sepekan setelah bencana banjir bandang, akses menuju Desa Tanjung Karang masih terhambat akibat banyaknya tumpukan pohon dan lumpur tebal dari Sungai Tamiang sehingga bantuan sulit masuk ke wilayah tersebut.
Di Kecamatan Kejuruan Muda, beberapa desa yang terisolasi antara lain Desa Suka Makmur, Alur Selebu, Tanjung Genteng, Geranggam, dan Alur Mentawak. Di Kecamatan Sekerak, seluruh desa masih sulit diakses karena tertutup material banjir.
Sementara itu, untuk Kecamatan Rantau, desa yang terdampak mencakup Benua Raja, Kampung Durian, Bukit Suling, Ingin Jaya, Suka Rakyat, Suka Jadi, Suka Mulia, Suka Rahmat, Jamur Labu, dan Jamur Jelatang.
Kecamatan Bendahara meliputi wilayah seperti Rantau Pakam, Teluk Halban, Teluk Kepayang, Teluk Kemiri, Kampung Raja, Kuala Penaga, Tanjung Binjai, dan Mesjid Bendahara.
Di Kecamatan Tamiang Hulu, dua desa yang masih terisolasi ialah Desa Rongoh dan Alur Tani 1. Adapun di Kecamatan Seruway terdapat desa Kuala Pusung Kapal, Kampung Baru, Gelung, Paya Udang, dan Muka Sungai Kuruk. Sementara di Kecamatan Karang Baru, desa yang paling terdampak adalah Desa Menanggini.
Kondisi Kampung Sekumur, Kecamatan Karang Baru, Aceh Tamiang, menjadi salah satu daerah paling parah terdampak banjir bandang pada akhir November 2025.
Bagaimana Jalur Bantuan Bisa Masuk ke Wilayah Terdampak?
Dengan kondisi akses darat yang tertutup, distribusi bantuan hanya dapat dilakukan melalui tiga cara: udara, sungai, dan berjalan kaki.
“Yang jalan kaki digotong bantuannya, karena tidak bisa masuk kendaraan roda dua,” jelas Agusliyana.
Bantuan tahap pertama telah disalurkan melalui metode tersebut. Namun, proses distribusi tetap terkendala keterbatasan bahan bakar minyak (BBM).
Para camat juga melaporkan bahwa hanya satu SPBU yang masih beroperasi, yaitu SPBU Seumadam, itupun berada jauh dari pusat kota.
“Harapannya SPBU segera aktif untuk memudahkan mobilisasi logistik dan transportasi evakuasi,” tambahnya.
Kondisi Kampung Sekumur Kecamatan Sekerak pascabanjir sumatera.
Apakah Bantuan Sudah Tersalurkan ke Pengungsi?
Menurut laporan camat masing-masing wilayah, penyaluran bantuan telah sampai ke titik pengungsian dan posko di kampung-kampung.
Namun, distribusi ini masih perlu diperkuat agar menjangkau masyarakat yang belum bisa keluar dari desa mereka.
“Kita berharap masyarakat dapat melaporkan diri ke posko atau dapur umum kampung yang dibangun untuk mendapatkan makanan, karena distribusinya melalui kampung-kampung,” tutur Agusliyana.
Sejumlah warga melewati kayu-kayu yang memenuhi area Pondok Pesantren Darul Mukhlishin pascabanjir bandang di Desa Tanjung Karang, Karang Baru, Kabupaten Aceh Tamiang, Aceh, Jumat (5/12/2025). Usai sepekan setelah bencana banjir bandang, akses menuju Desa Tanjung Karang masih terhambat akibat banyaknya tumpukan pohon dan lumpur tebal dari Sungai Tamiang sehingga bantuan sulit masuk ke wilayah tersebut. ANTARA FOTO/Erlangga Bregas Prakoso/app/foc.
Salurkan bantuan Anda untuk korban banjir Sumatera lewat tautan donasi ini: https://kmp.im/BencanaSumatera
Sebagian artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "".
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang