Warga Lampung Timur Temukan Jejak Satwa Liar, BKSDA Pastikan Bukan Harimau Sumatera

BKSDA, harimau sumatera, jejak harimau, Warga Lampung Timur Temukan Jejak Satwa Liar, BKSDA Pastikan Bukan Harimau Sumatera

Warga Kecamatan Bandar Sribhawono, Kabupaten Lampung Timur menemukan jejak kaki satwa liar di area perkebunan yang diduganya sebagai jejak harimau sumatera.

Selepas penemuan itu, sejumlah warga dan aparat kepolisian mendatangi lokasi temuan.

Dalam video yang beredar di masyarakat, tampak di atas permukaan tanah gembur yang tertutup dedaunan kering, ada bekas tapak menyerupai kaki hewan berukuran cukup besar.

Kepala Desa Sribhawono, Buih Wisnu Prabowo, membenarkan adanya laporan warga terkait jejak satwa liar tersebut.

“Benar, kami menerima laporan dari salah satu warga bernama Pujiono,” ujar Wisnu, Sabtu (10/1/2026).

Menurut Wisnu, Pujiono menemukan jejak satwa liar itu pada Kamis (8/1/2026) sekitar pukul 09.00 WIB saat hendak menuju ladangnya, dilansir dari Tribun.

Pujiono mengaku berhadapan langsung dengan dua ekor satwa yang diduga harimau, satu dewasa dan satu masih berusia anak-anak.

“Warga kami ketakutan dan langsung naik ke pohon karena melihat dua ekor satwa. Jaraknya sekitar 30 meter,” kata Wisnu.

Khawatir diserang, Pujiono bertahan di atas pohon selama beberapa jam hingga situasi dinilai aman, sebelum akhirnya turun dan melapor ke aparat desa.

Penjelasan BKSDA

Menindaklanjuti laporan dan video yang beredar, Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Bengkulu-Lampung melakukan penelusuran dan analisis langsung di lokasi.

Dilansir dari , Jumat (9/1/2026), PEH Ahli Pertama Seksi KSDA Wilayah III Lampung, Irhamuddin memastikan, jejak kaki tersebut bukan berasal dari harimau sumatera.

“Berdasarkan analisa sementara, jejak kaki yang ditemukan tidak mengarah pada jejak harimau sumatera" ujarnya.

"Karakteristiknya lebih sesuai dengan jejak anjing. Jika pun berasal dari satwa golongan kucing liar, maka lebih mengarah ke macan dahan atau kucing emas, bukan harimau sumatera,” sambung Irhamuddin menegaskan.

Ia menjelaskan, kesimpulan itu didasarkan pada ukuran tapak, bentuk bantalan kaki, serta pola jejak di lokasi.

Selain itu, hingga kini BKSDA juga belum pernah menerima laporan adanya jejak Harimau Sumatera di wilayah tersebut.

“Jika dicurigai berasal dari TNWK (Taman Nasional Way Kambas), tidak ada koridor satwa yang menghubungkan lokasi temuan jejak,” tegasnya.

Namun, kesimpulan ini bersifat sementara dan akan diperkuat melalui pengamatan lanjutan serta pengumpulan data pendukung lainnya di lapangan.

BKSDA mengimbau masyarakat untuk tetap waspada namun tidak panik, serta tidak melakukan tindakan berlebihan, seperti membawa senjata api angin sebagaimana terlihat dalam video yang beredar.  

Berdasarkan karakteristik perilaku satwa, macan dahan sumatera (Neofelis diardi diardi) bukan satwa yang menyerang atau membahayakan manusia.

Masyarakat diharapkan tetap menjaga ketenangan, meningkatkan kewaspadaan secara wajar, serta tidak mengganggu atau melakukan tindakan yang dapat memicu kepanikan.

Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang