Meta Indonesia Ungkap AI bikin Iklan Makin Nempel, Pengguna Facebook dan Instagram Naik Tajam

Country Director Meta Indonesia Pieter Lydian Sutiono.
Country Director Meta Indonesia Pieter Lydian Sutiono.

Meta Indonesia menyatakan bahwa teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) telah secara signifikan meningkatkan performa iklan di platform-platformnya.

"AI membantu mesin rekomendasi kami bekerja lebih baik, sehingga interaksi pengguna meningkat. Dampaknya terasa langsung bagi pengiklan," kata Country Director Meta Indonesia Pieter Lydian Sutiono di Jakarta, Rabu, 10 Desember 2025.​​​​​​

Ia menjelaskan bahwa penggunaan AI pada sistem rekomendasi Meta menghasilkan peningkatan waktu penggunaan sebesar lima persen di Facebook dan enam persen di Instagram pada kuartal terakhir tahun ini. Menurutnya, peningkatan tersebut berpengaruh pada efektivitas distribusi konten maupun iklan.

Pieter juga menyampaikan bahwa pengiklan kini dapat merasakan efisiensi biaya hingga sembilan persen dalam biaya per konversi ketika menggunakan produk kampanye berbasis AI seperti Advantage+.

Sistem tersebut memungkinkan penyesuaian otomatis terhadap target audiens, format kreatif, maupun penempatan iklan tanpa perlu pengaturan manual berulang. Ia menjelaskan bahwa AI dapat menyesuaikan elemen visual berdasarkan preferensi pengguna, memindahkan penempatan iklan lintas aplikasi Meta, sampai membuat variasi kreasi dalam jumlah besar secara otomatis.

Menurutnya, proses tersebut sebelumnya memerlukan banyak waktu dan tenaga dari pengiklan maupun agensi. "Bayangkan ketika perubahan terjadi saat kampanye berjalan, AI bisa menyetel ulang secara otomatis. Itu yang membuat proses lebih efisien dan hasilnya lebih optimal," jelas dia.

Pieter menilai adopsi AI di sektor periklanan oleh perusahaan besar maupun pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah berlangsung cukup cepat dan baik. "Kami melihat AI bukan hanya meningkatkan efisiensi, tetapi juga membuka peluang pertumbuhan baru bagi bisnis," paparnya.

Bukan itu saja. Meta mendorong terciptanya demokratisasi kecerdasan buatan (AI) melalui pengembangan teknologi yang lebih aman, transparan, dan dapat diakses oleh seluruh pengguna.

“Teknologi itu tidak boleh hanya dikuasai oleh segelintir orang. AI harus bisa dimanfaatkan semua orang, dan distribusi Meta AI yang sudah melampaui 1 miliar pengguna menunjukkan arah itu,” ungkap Pieter.

Meta telah mencatat lebih dari 1 miliar pengguna aktif bulanan Meta AI sebagai bagian dari ekosistem aplikasi Meta yang menaungi 3,4 miliar pengguna global dari Instagram, Facebook, dan WhatsApp. Ia menyebut pencapaian ini menjadi tonggak penting dalam upaya memperluas akses masyarakat terhadap teknologi AI.

Dirinya juga menjelaskan bahwa Meta membangun AI dengan lima prinsip utama, yakni mitigasi risiko, perlindungan privasi, transparansi dan kontrol pengguna, garis akuntabilitas yang jelas, serta akses yang terbuka bagi semua kalangan.

Prinsip-prinsip ini disebut menjadi dasar pengambilan keputusan Meta dalam pengembangan produk berbasis AI. Pieter mengatakan, perkembangan AI saat ini baru memasuki fase awal, meski pemanfaatannya sudah signifikan bagi pengguna.

Meta melihat tren adopsi AI yang sangat cepat, terutama pada generative AI, multimodal AI yang mampu mengolah berbagai jenis input seperti teks dan gambar, serta agentic AI yang memungkinkan sistem menjalankan instruksi secara otomatis.

Ia menambahkan bahwa Meta akan terus berinvestasi untuk membangun teknologi AI yang lebih inklusif, aman, dan relevan bagi pengguna dengan menghadirkan fitur yang bermanfaat dalam layanan sosial, komunikasi, hingga konsumsi informasi.

“Adopsinya sangat cepat, baik oleh pekerja maupun perusahaan. Kami ingin menjadi pelaku, bukan sekadar pengamat, karena AI akan membentuk masa depan interaksi digital,” ujar Pieter.