Chat Pengguna dengan AI Jadi Bahan Iklan di Facebook dan Instagram

Meta, induk perusahaan Facebook dan Instagram, mengumumkan langkah besar yang akan mengubah cara iklan ditampilkan kepada pengguna.
Mulai 16 Desember 2025, Meta akan menggunakan data percakapan pengguna dengan produk AI miliknya, termasuk Meta AI chatbot, untuk mempersonalisasi konten dan iklan di aplikasi mereka.
Pengumuman ini disampaikan langsung melalui laman resmi Newsroom Meta pada Rabu (1/10/2025).
“Kami akan mulai mempersonalisasi rekomendasi konten dan iklan berdasarkan interaksi orang dengan fitur AI generatif kami,” tulis Meta dalam keterangannya.
Notifikasi resmi kepada pengguna akan digulirkan sejak 7 Oktober 2025 lewat pemberitahuan di aplikasi maupun e-mail, sebelum kebijakan baru ini berlaku penuh.
AI jadi senjata baru untuk targetkan iklan
Ilustrasi iklan di Instagram.
Selama bertahun-tahun, Meta membangun bisnis iklan dengan cara membuat profil detail pengguna, mulai dari demografi, minat, hingga interaksi di media sosial. Kini, interaksi dengan AI akan menjadi sinyal baru yang membuat iklan jadi lebih personal.Sebagai contoh, jika seorang pengguna berbincang dengan Meta AI tentang hobi mendaki (hiking) gunung, sistem akan membaca minat itu.
Dampaknya, pengguna bisa mulai melihat iklan perlengkapan hiking, rekomendasi grup pecinta alam, atau postingan teman yang terkait jalur pendakian.
Langkah ini sebenarnya bukan kejutan. Dengan lebih dari 1 miliar orang menggunakan Meta AI di seluruh ekosistem Meta (Facebook, Instagram, WhatsApp, Messenger, hingga aplikasi Ray-Ban Meta smart glasses) setiap bulannya, Meta memiliki sumber data baru yang kaya dan sangat personal.
Banyak pengguna yang terbiasa melakukan percakapan panjang dan detail dengan chatbot, sehingga memberi perusahaan gambaran lebih akurat tentang minat dan kebutuhan mereka.
Meta menyebut langkah ini bertujuan meningkatkan relevansi iklan dan konten yang muncul di feed. Namun bagi pengguna, ini sekaligus jadi pengingat bahwa percakapan dengan Meta AI bukanlah ruang privat sepenuhnya.
Ada pengecualian
Menu Meta AI di Instagram yang baru tersedia.
Meta menjelaskan, data interaksi dengan AI akan digunakan lintas produk dalam ekosistem Meta, selama pengguna menautkan akunnya di Accounts Center.Misalnya, jika akun WhatsApp tidak ditautkan, percakapan dengan AI di WhatsApp tidak akan dipakai untuk menyesuaikan iklan di Instagram atau Facebook.
Meta juga menegaskan bahwa percakapan soal topik sensitif tidak akan digunakan untuk iklan. Itu termasuk pandangan politik, kesehatan, keyakinan agama, orientasi seksual, ras, asal-usul etnis, hingga keanggotaan serikat pekerja.
“Apabila orang berbicara dengan Meta AI tentang topik seperti pandangan agama, orientasi seksual, pandangan politik, kesehatan, ras atau asal-usul etnis, keyakinan filosofis, kami tidak menggunakan topik tersebut untuk menampilkan iklan,” jelas Meta.
Bagi pengguna, perubahan ini bisa berarti iklan akan terasa semakin “nyambung” dengan obrolan sehari-hari, bahkan jika topiknya hanya sempat dibicarakan di ruang chat dengan AI.
Cara memutus hubungan akun Instagram dan Facebook.
Di sisi lain, kebijakan ini kembali memunculkan perdebatan soal privasi. Selama ini, sebagian pengguna percaya bahwa Instagram atau Facebook menyadap mikrofon ponsel untuk menayangkan iklan relevan.
Meta berkali-kali membantah tuduhan itu, termasuk yang terbaru bos Instagram Adam Mosseri sendiri lewat sebuah video Reels.
Kini, dengan masuknya data dari AI, algoritma penargetan iklan di aplikasi keluarga Meta diyakini bakal semakin canggih.
Meski begitu, Meta tetap memberi kendali kepada pengguna lewat Ads Preferences dan Feed Controls untuk mengatur jenis iklan yang ingin mereka lihat atau sembunyikan.
Tidak semua negara akan merasakan kebijakan baru soal penargetan iklan berdasarkan riwayat chat dengan AI ini, sebagaimana dihimpun KompasTekno dari Meta Newsroom, Kamis (2/10/2025).
Meta menyebut aturan privasi di Uni Eropa, Inggris, dan Korea Selatan membuat kebijakan personalisasi iklan berbasis AI ini tidak berlaku di wilayah tersebut. Namun di mayoritas pasar global, termasuk Indonesia, fitur ini akan diaktifkan.