Diduga Ada Kasus Bullying di Sekolah Jakut, Orang Tua Siswa Ramai-ramai Kirim Karangan Bunga
Sejumlah orang tua siswa mengeluhkan adanya dugaan perundungan atau bullying terhadap anak-anaknya di SPK SDK Penabur Kelapa Gading, Jakarta Utara.
Aksi perundungan itu dialami tiga siswa, masing-masing berinisial G (11), J (10), dan C (10). Mereka mengaku dirundung oleh seorang siswa yang sama dengan inisial EJH.
L selaku salah satu orang tua korban berinisial G, mengatakan aksi perundungan itu dialami sang anak sejak duduk di kelas 2 hingga 4 SD. Bullying yang dialami tak hanya soal fisik tapi juga psikis.
“Ini kasus bullying sudah terjadi bertahun-tahun, yang mengalami anak perempuan saya yang dilakukan oleh temannya sebayanya satu angkatannya, sejak mereka duduk di kelas 2 SD sampai di kelas 4 SD,” kata L dalam keterangannya, Selasa, 2 Desember 2025.
Dia bahkan menyesalkan karena kasus dugaan perundungan ini sempat ditutupi oleh wali kelas kedua siswa dulunya.
Bahkan, kata dia, aksi perundungan ini tetap dilakukan EJH meskipun orang tua sudah melayangkan laporan.
“Saya sudah mencoba berbagai cara, mulai dari internal, dari wali kelas, naik ke wakil kepala sekolah, sampai kepala sekolah tidak ada tindakan tegas, sehingga saya naik ke Ketua Umum Yayasan dengan mendorong melalui Dinas Pendidikan Jakarta,” ungkap dia.
Namun, terduga pelaku hanya dijatuhi sanksi paling ringan berupa teguran lisan oleh pihak sekolah. Padahal, terduga pelaku menurutnya sudah layak diberikan sanksi lebih.
Aksi perundungan ini juga dialami siswa lain berinisial C yang terjadi saat korban sedang bermain dengan teman-teman sekolah di sebuah mal kawasan Kelapa Gading.
Menurut orang tua C, perundungan tersebut terus terjadi karena kerap dibiarkan. Bahkan, orang tua pelaku disebut sempat mengintimidasi pihak sekolah terutama guru.
“Guru juga sudah maksimal melakukan pencegahan, tetapi ada orang tua itu yang berani mengintimidasi guru sekarang,” ungkap dia.
Senada, N (40) yang merupakan orang tua dari korban J ingin agar sekolah bisa menyelesaikan masalah itu dengan baik.
Dia meminta pelaku perundungan untuk koperatif menerima hasil rapat yang sudah diberikan sama sekolah. N mengaku waswas karena hingga saat ini pelaku perundungan masih beraktivitas seperti biasa.
“Perasaan pun tercampur-adukan di dalam kelas, dan bully ini masih tetap berlanjut terus. Anaknya tidak ada perasaan bertobat atau perasaan bagaimana ke korban yang lain,” ungkap N.
Adapun buntut aksi perundungan yang terus berulang, para orang tua mengirimkan sejumlah karangan bunga ke sekolah. Mereka meminta agar kasus perundungan ini bisa diselesaikan secara tuntas.
Para orang tua juga telah melayangkan laporan ke polisi terkait kasus perundungan ini yakni pada pada 5 Maret 2025 dengan LP Nomor : LP/B/439/III/2025/SPKT/POLRES METRO JAKUT/POLDA METRO JAYA.
Kemudian, pada 29 November 2025 dengan LP Nomor : LP/B/2289/XI/2025/SPKT/ POLRES METRO JAKUT/POLDA METRO JAYA.