Bullying dan Self-Harm di Sekolah Kini Bisa Dideteksi Pakai AI, Gimana Caranya?
Kasus perundungan hingga isu kesehatan mental di lingkungan sekolah kini semakin menjadi perhatian. Di tengah masifnya penggunaan perangkat digital dalam proses belajar, tantangan baru pun muncul: bagaimana menciptakan ekosistem pendidikan yang bukan hanya modern, tetapi juga aman bagi siswa.
Transformasi digital di dunia pendidikan selama ini sering kali hanya berfokus pada penggunaan perangkat canggih di ruang kelas. Padahal, keamanan digital siswa juga menjadi aspek penting yang mulai banyak diperhatikan sekolah dan orang tua, terutama terkait risiko bullying, cyberbullying, hingga indikasi self-harm di kalangan pelajar. Scroll untuk tahu lebih lanjut, yuk!
Melihat kebutuhan tersebut, solusi smart classroom berbasis Artificial Intelligence (AI) dihadirkan, yang tak hanya mendukung proses belajar digital, tetapi juga dirancang untuk membantu memantau keamanan aktivitas siswa secara real-time.
Teknologi ini hadir melalui educational smartboard yang terintegrasi dengan berbagai perangkat digital seperti tablet dan laptop siswa. Namun yang menjadi sorotan bukan sekadar fitur pembelajaran interaktifnya, melainkan sistem keamanan digital yang mampu membantu mendeteksi aktivitas berisiko selama penggunaan perangkat.
Sistem tersebut diklaim dapat mengenali aktivitas digital yang berkaitan dengan kekerasan, perundungan, hingga pencarian yang mengarah pada self-harm atau ancaman keselamatan lainnya. Dengan adanya pemantauan tersebut, sekolah diharapkan bisa melakukan langkah pencegahan maupun pendampingan lebih cepat sebelum masalah berkembang lebih jauh.
Fenomena meningkatnya kasus bullying dan gangguan kesehatan mental di kalangan pelajar memang menjadi isu yang semakin sering dibahas beberapa tahun terakhir. Kehidupan digital yang kini melekat pada keseharian anak-anak membuat pengawasan terhadap aktivitas online menjadi tantangan tersendiri bagi sekolah maupun keluarga.
Karena itu, digitalisasi pendidikan kini tidak lagi sekadar soal penggunaan teknologi untuk belajar, tetapi juga tentang bagaimana teknologi mampu menciptakan ruang belajar yang lebih aman dan suportif bagi siswa.
Selain fitur keamanan, sistem smart classroom ini juga dilengkapi berbagai teknologi penunjang pembelajaran seperti software kolaborasi digital, pengelolaan perangkat terpusat, hingga server offline yang memungkinkan materi belajar tetap dapat diakses meski tanpa koneksi internet stabil.
Promethean EDXIS sendiri diketahui telah digunakan di jutaan ruang kelas di berbagai negara. Pengalaman global tersebut menjadi salah satu upaya untuk menghadirkan solusi pendidikan digital yang lebih relevan dengan kebutuhan sekolah modern di Indonesia.
"Kerja sama dengan Promethean EDXIS menjadi salah satu langkah ASIX dalam memperkuat pilar solusi kami, AI Education, yaitu menghadirkan teknologi yang dapat mendukung transformasi pembelajaran di Indonesia. Kami percaya bahwa pemanfaatan AI di sektor pendidikan tidak hanya harus mampu menghadirkan perangkat digital, tetapi juga memberikan dampak nyata bagi guru dan siswa,” ujar Andrie Tjioe, CEO dan Presiden Direktur PT ASIX Indonesia Cerdas, dalam keterangannya, dikutip Jumat 22 Mei 2026.
Ke depan, konsep sekolah digital diperkirakan tidak hanya identik dengan kelas modern dan perangkat canggih, tetapi juga kemampuan menciptakan lingkungan belajar yang lebih aman secara emosional dan psikologis bagi para siswa di era digital.