Bareskrim Sampai Turun Gunung Terkait Kasus Bullying Tewaskan Siswa SMPN 19 Tangsel

Direktur PPA/PPO Bareskrim Polri Brigjen Nurul Azizah
Direktur PPA/PPO Bareskrim Polri Brigjen Nurul Azizah

Badan Reserse Kriminal Polri sampai turun tangan mengawal pengusutan kasus dugaan perundungan (bullying) yang menewaskan MH (13), siswa SMPN 19 Tangerang Selatan (Tangsel).

Direktorat PPA dan PPO Bareskrim Polri menyatakan telah memberikan asistensi penuh kepada pihak kepolisian wilayah yang menangani kasus ini. Hal itu diungkap Direktur PPA dan PPO Bareskrim Polri, Brigadir Jenderal Polisi Nurul Azizah.

"Pasti ya kita lakukan asistens dan back up," kata dia, Selasa, 18 November 2025.

Nurul menegaskan pihaknya memastikan seluruh penanganan berjalan sesuai aturan perlindungan anak. Termasuk melakukan pengawasan terhadap proses penyelidikan dan pendampingan terhadap keluarga korban.

“Pertama, penanganan kasus secara cepat dan terukur. Kami melakukan asistensi terhadap jajaran wilayah untuk memastikan setiap laporan perundungan, terutama yang melibatkan anak, ditangani secara profesional, berperspektif korban, dan sesuai UU SPPA," kata dia.

Sebelumnya diberitakan, polisi bergerak cepat mengusut kasus dugaan perundungan (bullying) yang menimpa MH (13), siswa SMPN 19 Tangerang Selatan (Tangsel).

Total, sebanyak enam saksi telah diperiksa termasuk guru, untuk mengungkap apa yang sebenarnya terjadi sebelum korban akhirnya meninggal dunia. Hal itu diungkap Kepala Seksi Hubungan Masyarakat Polres Tangsel, Ajun Komisaris Polisi Agil.

“Penyidik sudah meminta keterangan klarifikasi dari beberapa saksi ada 6 (enam) termasuki guru pengajar,” kata dia, Minggu, 16 November 2025.

Adapun insiden yang menimpa MH terjadi pada 20 Oktober 2025 di ruang kelas saat jam istirahat. Korban diduga dipukul menggunakan bangku besi oleh teman sekelasnya. Sehari setelah kejadian, MH mulai mengeluhkan sakit kepala dan tubuhnya.

Saat keluarga melakukan pendalaman, barulah terungkap bahwa MH bukan sekali dua kali mengalami perundungan. Ia disebut sering dipukul, ditendang, dan menjadi sasaran kekerasan fisik oleh teman sekelasnya.

Kakak korban, Rizki, mengungkapkan bahwa adiknya sempat dirawat di sebuah rumah sakit (RS) swasta di Tangsel, sebelum akhirnya dirujuk ke RS Fatmawati, Jakarta Selatan, akibat kondisi yang terus memburuk.

Meski telah menjalani perawatan intensif di RS Fatmawati, kondisi MH tidak membaik. Satu minggu kemudian, keluarganya menerima kabar duka. Polisi memastikan penyelidikan akan terus dilanjutkan. Semua pihak yang relevan akan dimintai keterangan untuk mencari titik terang dari dugaan bullying yang berujung maut ini.