PHK Massal Menurun tapi Lowongan Kerja Hilang Pelan-pelan, Ini Fakta Suram Pasar Kerja di 2025

Ilustrasi gen z bekerja
Ilustrasi gen z bekerja

 Situasi pasar kerja sepanjang 2025 menunjukkan perubahan yang tidak begitu terlihat di permukaan, tetapi sangat terasa bagi para pekerja. Banyak perusahaan memilih cara-cara senyap untuk mempertahankan efisiensi tanpa perlu mengumumkan PHK besar-besaran. 

Akibatnya, masyarakat merasa peluang kerja makin sempit, meski tidak ada gelombang pemutusan hubungan kerja yang diberitakan luas.

Laporan terbaru Beige Book menunjukkan bahwa perusahaan menggunakan berbagai strategi untuk menekan jumlah tenaga kerja. Mereka membekukan rekrutmen, membiarkan posisi kosong tidak diganti, hingga mulai menggantikan sejumlah peran dengan kecerdasan buatan. 

Kondisi ini membuat sentimen pasar kerja merosot, sekalipun angka-angka resmi tidak memperlihatkan lonjakan PHK. Dalam survei Consumer Confidence terbaru, 27,6 persen responden mengatakan pekerjaan tersedia banyak, turun dari 28,6 persen bulan sebelumnya, sementara yang merasa pekerjaan sulit didapat hampir tidak berubah.

Ilustrasi PHK

Beige Book menjelaskan kondisi ekonomi “low-hire, low-fire” yang sempat disinggung Jerome Powell beberapa waktu lalu. “Jumlah pekerja turun sedikit selama periode ini, dengan sekitar separuh distrik melaporkan melemahnya permintaan tenaga kerja," tulis laporan tersebut sebagaimana dikutip dari MSN, Senin, 1 Desember 2025.

Perusahaan juga lebih memilih memangkas jam kerja ketimbang jumlah pekerja. “Beberapa perusahaan menyebut kecerdasan buatan telah menggantikan posisi level pemula atau membuat pekerja yang ada menjadi cukup produktif sehingga kebutuhan rekrutmen baru berkurang,” tulis laporan itu. 

Strategi ini membuat banyak bisnis bisa bertahan tanpa langkah drastis. Contohnya terlihat di distrik St. Louis, ketika sebuah peritel mengalami penurunan penjualan dan memutuskan mengurangi pesanan stok. Untuk menghindari PHK, perusahaan memilih memotong jam kerja karyawan alih-alih mengurangi jumlah staf.

Penurunan belanja konsumen juga terasa di berbagai wilayah. Pelanggan restoran yang dulunya datang setiap hari kini hanya muncul sekali atau dua kali seminggu. Banyak pelanggan juga menurunkan kelas pembelian mereka. Kondisi ini membuat perusahaan menahan kenaikan upah, hanya memberi penyesuaian standar untuk mengikuti biaya hidup. Para pelaku usaha memprediksi jumlah tenaga kerja akan stabil pada 2025 dan rekrutmen baru kemungkinan meningkat pada 2026.

Namun, keadaan tidak sepenuhnya suram. Beberapa analis memandang ada titik cerah di tahun-tahun mendatang. Seiring kebijakan bank sentral yang diperkirakan lebih longgar dan pemulihan aktivitas bisnis, prospek lapangan kerja diproyeksikan mulai membaik. 

“Setelah melemah secara bertahap pada 2025, pasar tenaga kerja akan stabil dan mulai menunjukkan tanda-tanda penguatan kembali sepanjang tahun. Tingkat pengangguran diperkirakan turun menjadi 4,4 persen setelah mencapai 4,5 persen tahun ini,” ungkap Matthew Luzzetti dari Deutsche Bank. 

“Kami memperkirakan permintaan dan rekrutmen akan menguat seiring pertumbuhan ekonomi,” tambahnya. 

Meski begitu, ia mengingatkan bahwa keseimbangan “low-hire, low-fire” yang terjadi saat ini bisa berubah sewaktu-waktu jika perusahaan mulai mengambil langkah lebih agresif.  Namun ia mengingatkan bahwa pertumbuhan tersebut sangat bergantung pada belanja kelompok berpendapatan tinggi yang bisa melemah sewaktu-waktu.