Lowongan Kerja Anjlok 30 Persen Usai Kemunculan AI, Inikah Biang Kerok Banyaknya Pengangguran? 

Ilustrasi ribuan pelamar kerja di job fair
Ilustrasi ribuan pelamar kerja di job fair

 Ketika ChatGPT pertama kali diluncurkan pada November 2022, banyak yang memprediksi kecerdasan buatan (AI) akan mengguncang dunia kerja. Dua tahun kemudian, prediksi itu seakan terbukti, setidaknya di Amerika Serikat (AS). 

Grafik ekonomi yang viral di media sosial memperlihatkan perbedaan mencolok antara dua indikator utama, yakni pasar saham AS yang melonjak lebih dari 70 persen, sementara jumlah lowongan kerja justru merosot sekitar 30 persen. 

Data dari Job Openings and Labor Turnover Survey (JOLTS) menunjukkan bahwa jumlah lowongan kerja di AS mencapai puncaknya pada Maret 2022, yaitu 11,5 juta posisi, tertinggi sejak survei tersebut dimulai pada tahun 2000. 

Namun, hingga Agustus 2025, angka itu turun drastis menjadi 7,18 juta, atau turun sekitar 30 persen. Sementara itu, selama periode yang sama, indeks S&P 500 justru melesat dari 3.840 poin menjadi 6.688 poin, meningkat sekitar 74 persen. 

Namun, di balik angka dramatis itu, para ekonom menemukan cerita yang jauh lebih kompleks. Banyak pihak menuding AI sebagai penyebab utama hilangnya lapangan kerja, tetapi data menunjukkan faktor yang lebih kuat, yaitu kebijakan moneter ketat Federal Reserve (The Fed).

Ilustrasi pengangguran.

Sebagaimana diketahui, kenaikan suku bunga pertama dilakukan pada 16 Maret 2022 sebesar 0,25 poin persen, setelah tiga tahun tanpa perubahan. Langkah ini menandai awal dari 11 kali kenaikan suku bunga hingga Juli 2023.

Dampaknya segera terasa. Biaya pinjaman meningkat, investasi melambat, belanja menurun, dan perekrutan pun menurun tajam. Pada September 2025, The Fed mulai menurunkan suku bunga kembali untuk membangkitkan pasar tenaga kerja yang lesu dan mencegah peningkatan pengangguran.

Selain kebijakan moneter, faktor perdagangan dan imigrasi juga ikut menekan pasar tenaga kerja. Kebijakan tarif impor dan pengetatan imigrasi dari pemerintahan Donald Trump meningkatkan biaya produksi dan memperlambat pertumbuhan tenaga kerja. 

Menurut studi dari National Foundation for American Policy, kebijakan tersebut bisa mengurangi tenaga kerja AS hingga 15 juta orang dalam 10 tahun dan menurunkan pertumbuhan ekonomi tahunan hampir sepertiga.

Jika benar AI adalah penyebab utama, seharusnya sektor yang paling dekat dengan teknologi itu menunjukkan penurunan paling tajam. Namun data membuktikan sebaliknya. 

Berdasarkan analisis Preston Mui, ekonom senior di Employ America, sektor informasi yang mencakup programmer, pengembang software, dan pekerja AI, justru mengalami penurunan lowongan paling kecil.

Sebaliknya, penurunan terbesar terjadi di manufaktur, konstruksi, dan energi, sektor yang sangat bergantung pada modal dan tenaga kerja imigran. Sebagai contoh, lowongan di sektor konstruksi anjlok dari 303.000 pada Juli 2025 menjadi 188.000 pada Agustus 2025, terendah dalam hampir satu dekade, atau turun hampir 40 persen dibanding tahun sebelumnya. 

Ironisnya, ketika pasar tenaga kerja melemah, saham-saham perusahaan AI justru melonjak pesat. Laporan JPMorgan mencatat bahwa 75 persen kenaikan S&P 500 dan 80 persen pertumbuhan laba perusahaan sejak November 2022 berasal dari saham terkait AI. Sekitar 30 perusahaan AI kini menyumbang 44 persen dari total nilai pasar S&P 500, menciptakan kekayaan sekitar US$5 triliun atau Rp82.500 triliun bagi rumah tangga Amerika dalam setahun terakhir.

Perusahaan seperti Nvidia, Microsoft, Apple, Amazon, Alphabet, dan Meta memimpin reli saham ini. Beberapa di antaranya bahkan melakukan pemangkasan karyawan sambil terus meningkatkan investasi di bidang AI. Meta, misalnya, memangkas sekitar 3.600 posisi atau 5 persen tenaga kerjanya pada awal 2025.

Namun, analis Lisa Shalett dari Morgan Stanley memperingatkan potensi gelembung ekonomi baru. “Tujuh saham besar kini menguasai lebih dari sepertiga nilai S&P 500, bahkan lebih tinggi daripada era dotcom,” ujarnya, sebagaimana dikutip dari Fortune, Rabu, 5 November 2025.

Sementara itu, penelitian dari Stanford University menemukan bahwa AI memang mulai memengaruhi sebagian pekerjaan, terutama bagi pekerja muda berusia 22 hingga 25 tahun, dengan penurunan 13 persen di profesi yang paling terekspos AI. Tapi di sisi lain, sebagian besar pekerjaan justru bertumbuh, terutama di bidang pengembangan dan pemeliharaan sistem AI.