Lowongan Kerja Anjlok, Outlook Rekrutmen 2026 Tembus Titik Terendah

Ilustrasi melamar kerja.
Ilustrasi melamar kerja.

 Ketidakpastian ekonomi global yang terus berlanjut mulai memberikan dampak signifikan terhadap pasar tenaga kerja Singapura. Setelah beberapa periode menunjukkan ketahanan yang kuat, pelaku usaha kini terlihat lebih berhati-hati dalam mengambil keputusan penambahan tenaga kerja. 

Situasi ini semakin jelas terlihat setelah ManpowerGroup merilis survei Employment Outlook terbarunya. Banyak perusahaan di Singapura kini memasuki fase pemetaan ulang strategi tenaga kerja.

Dalam survei tersebut, outlook ketenagakerjaan bersih Singapura untuk kuartal pertama 2026 tercatat hanya sebesar 15 persen. Angka ini dihitung berdasarkan selisih antara perusahaan yang berencana menambah tenaga kerja dan yang berencana mengurangi staf. 

Posisi tersebut mencerminkan penurunan lima poin dibandingkan kuartal sebelumnya dan merosot 11 poin dibanding periode yang sama tahun lalu. Kondisi ini juga menandai titik terendah sejak kuartal pertama 2022, ketika angka outlook berada di level yang sama. 

Walaupun masih menunjukkan sentimen positif, capaian ini menempatkan Singapura berada di bawah rata-rata global yang mencapai 24 persen. Perubahan sikap perusahaan terlihat jelas pada pola rencana rekrutmen. 

Sebagian besar dari 504 perusahaan yang disurvei kini lebih memilih mempertahankan jumlah tenaga kerja. Data menunjukkan bahwa 46 persen perusahaan berencana menjaga jumlah staf tetap sama, meningkat cukup signifikan dari 34 persen pada kuartal pertama 2025. 

Di sisi lain, hanya 32 persen perusahaan yang berencana menambah staf, jauh lebih rendah dibandingkan 45 persen pada periode yang sama tahun lalu. Sementara itu, 18 persen perusahaan memproyeksikan pengurangan tenaga kerja dan 4 persen mengaku belum dapat memastikan arah keputusan mereka dalam waktu dekat.

Ilustrasi Singapura.

Country Manager ManpowerGroup Singapore, Linda Teo, menyebut dinamika ini sebagai masa periode penyesuaian ulang. “Lebih banyak perusahaan kini fokus mempertahankan jumlah staf atau menunda keputusan perekrutan sambil menunggu perkembangan kondisi ekonomi," ujar Linda Teo, sebagaimana dikutip dari The Business Times, Rabu, 10 Desember 2025.

”Sementara mereka yang tetap merekrut melakukannya secara strategis, didorong oleh kebutuhan pertumbuhan organisasi, inisiatif keberagaman, dan upaya menjaga keunggulan kompetitif,” sambung Teo.

Ia menjelaskan bahwa sebanyak 23 persen perusahaan yang memilih mempertahankan headcount masih menunggu situasi ekonomi sebelum membuat keputusan perekrutan baru. Alasan utama di balik kehati-hatian ini adalah tekanan ekonomi. 

Di antara perusahaan yang belum menentukan rencana perekrutan, 43 persen menyebut kondisi ekonomi yang tidak pasti sebagai faktor utama. Sementara itu, perusahaan yang berencana mengurangi tenaga kerja memberikan beragam alasan, mulai dari tantangan ekonomi yang disebut oleh 30 persen responden, perubahan pasar yang menurunkan kebutuhan jumlah pekerja yang disampaikan oleh 31 persen perusahaan, hingga inisiatif efisiensi operasional seperti konsolidasi peran yang juga dicatat sebesar 30 persen. 

Restrukturisasi perusahaan dan rightsizing menjadi faktor lain yang memengaruhi keputusan pengurangan staf. Lalu, pada sisi yang lebih optimistis, perusahaan yang masih berniat merekrut menempatkan pertumbuhan organisasi sebagai pendorong utama. Sebanyak 39 persen menyampaikan bahwa penambahan tenaga kerja diperlukan untuk mendukung ekspansi, sementara 34 persen menyebut inisiatif keberagaman menjadi alasan penting. 

Sebagian lainnya, yakni 31 persen, mengaku membutuhkan tenaga kerja tambahan untuk memperkuat keunggulan kompetitif. Perusahaan juga menyebut keinginan untuk memasuki lini bisnis baru, mengisi posisi yang baru saja ditinggalkan, dan mengisi lowongan lama sebagai faktor pendukung rencana rekrutmen.

Meskipun secara keseluruhan outlook tenaga kerja mengalami pelemahan, beberapa sektor justru menunjukkan tren positif. Sektor keuangan dan asuransi mencatat outlook tertinggi dengan angka 33 persen, meningkat 23 poin dibanding kuartal sebelumnya. 

Sebaliknya, sektor manufaktur menunjukkan pelemahan cukup tajam dengan outlook hanya 10 persen setelah turun 13 poin. Perbedaan ini menunjukkan bahwa dinamika perekrutan dipengaruhi karakteristik industri masing-masing, di mana sektor finansial yang lebih adaptif terhadap inovasi digital mampu mempertahankan kebutuhan tenaga kerja.

Jika dibandingkan secara global, posisi Singapura terlihat jauh lebih berhati-hati. Rata-rata outlook perekrutan dunia berada di angka 24 persen, dengan Asia Pasifik dipimpin oleh India yang mencatat outlook sangat kuat sebesar 52 persen, sementara Brasil berada di puncak global dengan 54 persen. 

Di sisi lain, Hong Kong menjadi pasar paling konservatif di kawasan dengan outlook hanya 1 persen, dan China mencatat penurunan terbesar secara kuartalan dengan turun sembilan poin menjadi 24 persen.