Akuisisi Ratusan Triliun Berujung Nestapa, 4.000 Karyawan Perusahaan Iklan Jadi Korban PHK Massal

Ilustrasi PHK
Ilustrasi PHK

 Di tengah dinamika industri periklanan global yang berubah cepat karena teknologi dan tekanan ekonomi, banyak perusahaan raksasa mulai melakukan konsolidasi besar-besaran. Salah satu langkah yang paling mengguncang adalah akuisisi Interpublic Group (IPG) oleh Omnicom, yang memicu gelombang PHK terbesar dalam beberapa tahun terakhir. 

Perombakan ini bukan hanya berdampak pada ribuan pekerja, tetapi juga mengguncang struktur bisnis agensi periklanan tradisional yang selama puluhan tahun mendominasi pasar.

Kabar terbaru menyebut, Omnicom akan memberhentikan lebih dari 4.000 karyawan setelah akuisisi Interpublic Group senilai US$13,5 miliar atau setara Rp224,1 triliun. Tidak hanya itu, tiga merek agensi besar seperti FCB, DDB, dan MullenLowe, juga akan ditutup dan digabungkan ke dalam jaringan TBWA milik Omnicom. 

Akuisisi yang diumumkan pertama kali pada Desember 2024 ini secara resmi menjadikan Omnicom sebagai perusahaan holding periklanan terbesar di dunia berdasarkan pendapatan.

Mengutip laporan dari Financial Express, Kamis, 4 Desember 2025, lebih dari 4.000 posisi akan dipangkas sebagai bagian dari integrasi IPG. PHK ini terutama menyasar peran administratif dan beberapa posisi kepemimpinan.

Setelah restrukturisasi, sekitar 85 persen posisi akan berfokus pada klien, sementara 15 persen sisanya adalah fungsi administratif. Dalam pernyataannya, perusahaan mengatakan bahwa manfaat finansial dari restrukturisasi ini diperkirakan melampaui US$750 juta atau sekitar Rp12,45 triliun, melebihi proyeksi awal yang diberikan kepada investor. 

Kesepakatan akuisisi Interpublic Group rampung pada November 2025 dan menjadi manuver besar untuk memperkuat posisi Omnicom di tengah persaingan ketat. Langkah ini dilakukan untuk menantang dominasi Publicis asal Prancis dan WPP dari Inggris, yang selama ini mendominasi pasar global. 

Sebagaimana diketahui, agensi iklan tradisional kini semakin terdesak oleh perusahaan teknologi besar, terutama karena percepatan penerapan kecerdasan buatan. Hal inilah yang membuat konsolidasi dianggap sebagai langkah krusial untuk mempertahankan daya saing.

Akuisisi ini juga mendapatkan persetujuan regulasi dari berbagai negara. Komisi Persaingan Usaha India memberikan izin pada Juni, disusul persetujuan dari Australian ACCC pada Juli. Persetujuan final datang dari Komisi Eropa pada akhir November, menandai berakhirnya seluruh hambatan hukum.

PHK besar ini bukan kejutan sepenuhnya. Kedua perusahaan memang sudah melakukan pengurangan tenaga kerja selama dua tahun terakhir. Berdasarkan dokumen regulasi yang, Interpublic Group telah memangkas sekitar 3.200 karyawan selama sembilan bulan pertama tahun 2025. Sementara itu, Omnicom juga mengurangi stafnya sebanyak 3.000 orang pada tahun sebelumnya, sehingga total karyawan menjadi sekitar 75.000.