PHK Massal Bakal Berlanjut, Riset Ungkap 200.000 Pekerjaan Terancam Tersingkir saat Adopsi AI Kian Masif

Ilustrasi PHK.
Ilustrasi PHK.

Gelombang adopsi kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) kian masif dan mulai meninggalkan jejak besar di pasar tenaga kerja global. Fenomena pemangkasan hubungan kerja (PHK) menjadi bukti nyata kekuatan AI menggeser berbagai profesi bahkan ratusan ribu pekerjaan diprediksi dalam tiga hingga lima tahhun ke depan.

Sepanjang tahun 2025, perusahaan besar di berbagai negara menyebut adopsi AI sebagai alasan PHK massal lebih dari 50.000 pekerjaan. Jumlah rilnya disinyalir lebih besar.

Di sektor e-commerce, Amazon mengumumkan 14.000 pemangkasan karyawan korporasi pada Oktober 2025. Kepala Sumber Daya Manusia Amazon, Beth Galetti, mengatakan AI merupakan teknologi paling transformatif. 

Gelombang PHK juga melanda sektor manufaktur dan teknologi. Intel memangkas ribuan posisi sepanjang tahun 2025. 

Kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI).

Raksasa teknologi Microsoft turut melakukan pemecatan besar-besaran sebanyak 13 persen tenaga kerja atau sekitar 6.000 karyawan pada Mei 2025. Langkah ini disusul pemutusan hubungan kerja tambahan pada Juni dan Juli 2025 yang dilakukan di tengah komitmen Microsoft menggelontorkan dana  belanja modal sebesar US$80 miliar setara Rp 1.342,3 triliun (estimasi kurs Rp 16.780 per dolar AS) untuk investasi AI pada tahun fiskal 2025.

Tren pemangkasan karyawan diperkirakan masih akan terus berlanjut akibat adopsi AI di berbagai perusahaan besar global. Laporan Bloomberg Intelligence memperkirakan bank-bank global berpotensi memangkas hingga 200.000 pekerjaan dalam tiga hingga lima tahun ke depan.

Raksasa teknologi asal Amerika Serikat (AS), IBM, mengumumkan rencana memangkas ribuan posisi pada kuartal IV-2025. Keputusan ini seiring pergeseran fokus ke bisnis perangkat lunak bermargin tinggi.

"Pengurangan karyawan tersebut memengaruhi persentase satu digit persentase dari tenaga kerjanya," ungkap Manajemen IBM dikutip dari The Bussiness Times pada Senin, 22 Desember 2025. 

HP juga menargetkan pengurangan 4.000 hingga 6.000 karyawan untuk merampingkan operasional dan mengadopsi AI dalam pengembangan produk hingga tahun 2028. CEO HP, Enrique Lores, mengatakan tim pengembangan produk, operasional internal, dan layanan pelanggan akan terdampak.

Dampak AI juga terasa di sektor periklanan. Pada 1 Desember 2025, Omnicorn mengumumkan PHK lebih dari 4.000 karyawan yang menyasar peran administratif dan sebagian posisi pimpinan sekaligus mengonsolidasikan sejumlah merek agensi iklan setelah mengakuisisi Interpublic Group (IPG) senilai US$13 miliar. 

Di industri perbankan Asia Tenggara, DBS Group yang memiliki tenaga kerja 41 ribu berencana mengurangi sekitar 4.000 staf kontrak dan temporer dalam tiga tahun ke depan. Mantan CEO DBS, Piyush Gupta, menyatakan langkah tersebut terjadi karena AI semakin mengambil alih pekerjaan manusia.

"Pengurangan alami seiring dengan berakhirnya peran sementara dan kontrak dalam beberapa tahun ke depan," kata Manajemen DBS. 

Tak hanya perusahaan teknologi, sektor logistik, ritel, media, dan telekomunikasi juga terdampak. UPS telah memangkas 48.000 posisi dan menargetkan menghapus 1.800 peran. 

Sementara Verizon menyiapkan pemangkasan sekitar 15.000 pekerjaan. Konsultan global McKinsey pun mengurangi ratusan posisi di divisi teknologi akibat otomatisasi berbasis AI.

Amazon bahkan berencana memangkas hingga 30.000 karyawan secara global. Deretan pemangkasan ini menegaskan bahwa AI tidak lagi sekadar alat bantu produktivitas, melainkan telah mengubah struktur biaya dan strategi bisnis perusahaan global.