Microsoft Bakal PHK Massal di Awal 2026? Posisi Ini Paling Rawan Terdampak
Memasuki kuartal pertama 2026, industri teknologi global tengah menyoroti langkah strategis Microsoft yang berpotensi berdampak besar terhadap tenaga kerjanya. Setelah 2025 yang penuh gejolak dengan lebih dari 15.000 pegawai terdampak PHK, muncul rumor tentang kemungkinan pengurangan staf di Microsoft yang bisa menjadi bagian dari strategi untuk merampingkan struktur korporat.
Tren ini sejalan dengan pergeseran dunia kerja, di mana kecerdasan buatan (AI) semakin menjadi pusat inovasi, sementara peran manusia dalam beberapa fungsi terasa semakin berkurang.
Tahun 2025 dianggap sebagai tahun yang ‘menguatkan’ industri teknologi, tetapi 2026 diprediksi akan menjadi tahun penuh ujian bagi perusahaan-perusahaan besar. Dunia kerja yang baru tampaknya menempatkan AI sebagai aktor utama.
“AI seolah menulis naskah, menjadi sutradara, sekaligus memainkan setiap peran yang dulu dipegang manusia,” demikian ulasan beberapa analis industri, sebagaimana dikutip dari HR Digest, Kamis, 8 Januari 2026.
Meskipun belum ada konfirmasi resmi, analis memperkirakan Microsoft bisa mengumumkan PHK di awal 2026, terutama di tim Azure, Gaming, dan Sales. Sebuah insinyur Azure Cloud Operations mengatakan kepada HR Digest.
“Ada perasaan yang berkembang bahwa mandat kembali ke kantor (RTO) bukan soal kolaborasi. Mereka tahu, jika memaksa semua orang kembali, sejumlah pegawai akan memilih keluar sendiri,” tulis analis.
Faktor utama yang mendorong potensi PHK adalah dorongan untuk efisiensi operasional dan pivot besar ke investasi AI. CEO Satya Nadella berulang kali menekankan bahwa ukuran Microsoft yang besar, lebih dari 220.000 pegawai, menjadi ‘kerugian besar’ dalam perlombaan AI.
Kepala Eksekutif Microsoft Satya Nadella.
Dengan merampingkan hierarki dan lapisan manajemen, perusahaan berharap bergerak lebih cepat dalam pengembangan dan penerapan AI. Selain itu, berdasarkan laporan internal dan forum industri, PHK kemungkinan akan menargetkan posisi non-inti, bukan pengembang AI inti.
Area yang paling berisiko termasuk lapisan manajemen dan middle management. Tahun lalu, fokus serupa terlihat saat PHK menimpa manajer menengah dan posisi non-teknis. Departemen Azure juga berpotensi terdampak karena penyesuaian efisiensi operasi cloud, sementara tim Gaming dan Xbox bisa ikut terdampak jika target pendapatan tidak tercapai.
Perusahaan tetap melindungi perekrutan di area AI dan tim produk inti. Namun, pegawai yang bertahan diprediksi menghadapi beban kerja lebih tinggi dan risiko burnout akibat micromanagement yang meningkat.
Rumor terbaru menyebut PHK Microsoft 2026 bisa menimpa 5–10 persen dari total pegawai, yaitu sekitar 11.000 hingga 22.000 posisi di seluruh dunia. Ada juga perkiraan konservatif 3–4 persen (6.000–9.000 pegawai), mirip dengan PHK Juli 2025.
Jika terjadi, PHK diperkirakan akan dilakukan secara bertahap mulai 18 Januari 2026, untuk menghindari pengumuman massal dan menjaga dampak site-specific di bawah 50 orang per lokasi. Namun di sisi lain, pendapatan bersih kuartalan perusahaan mencapai hampir US$30 miliar (setara Rp501 triliun).