Daftar Perusahaan yang Lakukan PHK Massal di 2025, dari Raksasa Teknologi hingga Ritel
Tahun 2025 menjadi periode yang tidak mudah bagi pasar tenaga kerja global. Setelah dunia usaha sempat menikmati lonjakan perekrutan pascapandemi, kini banyak perusahaan justru 'mengencangkan ikat pinggang'.
Efisiensi biaya, ketidakpastian ekonomi, hingga percepatan adopsi kecerdasan buatan mendorong gelombang pemutusan hubungan kerja atau PHK dalam skala besar.
Dampaknya terasa lintas sektor, mulai dari teknologi, energi, otomotif, media, hingga ritel. Tren ini menunjukkan bahwa tekanan ekonomi tidak hanya menghantam satu industri tertentu, melainkan menjadi fenomena struktural yang memengaruhi cara perusahaan mengelola tenaga kerja.
Laporan terbaru bahkan menyebut 2025 sebagai tahun terburuk untuk kabar PHK sejak krisis keuangan global 2009. Menurut laporan dari Challenger, Gray & Christmas, perusahaan-perusahaan di AS memangkas lebih dari 150.000 pekerjaan hanya dalam Oktober 2025.
Angka ini menjadi gelombang PHK bulanan terbesar dalam lebih dari 20 tahun. Tekanan tersebut berlanjut dari tren pengurangan tenaga kerja yang sudah dimulai sejak 2024. Andy Challenger, Chief Revenue Officer Challenger, Gray & Christmas, menjelaskan bahwa berbagai faktor saling bertemu.
“Beberapa industri sedang melakukan koreksi setelah lonjakan perekrutan saat pandemi, tetapi ini terjadi bersamaan dengan adopsi AI, melemahnya belanja konsumen dan korporasi, serta meningkatnya biaya yang mendorong pengetatan dan pembekuan perekrutan,” ujarnya, sebagaimana dikutip dari USA Today, Selasa, 23 Desember 2025.
Ia juga menambahkan bahwa kondisi pasar kerja semakin menantang bagi para korban PHK. Menurut Challenger, mereka yang terkena PHK sekarang semakin sulit untuk segera mendapatkan pekerjaan baru.
Berikut sejumlah perusahaan raksasa yang mengumumkan pemangkasan tenaga kerja dalam beberapa bulan terakhir, dengan alasan yang beragam.
Ilustrasi kantor Amazon
1. Amazon
Amazon mengonfirmasi pada 28 Oktober bahwa mereka memangkas ribuan pekerjaan korporasi. Dalam memo yang ditandatangani Beth Galetti, Senior Vice President of People Experience and Technology Amazon, perusahaan menargetkan pengurangan keseluruhan tenaga kerja korporasi sekitar 14.000 posisi.
Per Desember 2024, Amazon memiliki sekitar 1,5 juta karyawan penuh dan paruh waktu. Dari jumlah tersebut, sekitar 350.000 merupakan karyawan korporasi.
2. ConocoPhillips
Raksasa minyak AS ConocoPhillips menginformasikan kepada karyawannya bahwa perusahaan akan memangkas 20 hingga 25 persen tenaga kerja global sebagai bagian dari restrukturisasi besar. Dennis Nuss, Director of Media Relations ConocoPhillips, menyebut langkah ini sebagai bagian dari melihat bagaimana kami bisa lebih efisien dengan sumber daya yang kami miliki, dengan mayoritas PHK terjadi pada 2025.
Tekanan harga minyak juga berdampak luas di sektor energi. BP memangkas 5 persen stafnya, Chevron melaporkan pemotongan 20 persen, sementara perusahaan jasa minyak SLB juga mengumumkan PHK.
3. General Motors
General Motors memangkas 1.200 pekerjaan pabrik di fasilitas kendaraan listrik Detroit serta 550 pekerjaan di pabrik baterai Ohio. Selain itu, GM menghentikan produksi sel baterai di dua pabrik patungan di Tennessee dan Ohio selama sekitar enam bulan, yang berdampak pada sekitar 1.550 pekerja yang dirumahkan sementara.
Permintaan kendaraan listrik melemah setelah insentif pajak federal sebesar US$7.500 atau setara Rp125,25 juta dihapus pada September.
4. Paramount
Perusahaan media Paramount melakukan PHK dalam beberapa gelombang, baik sebelum maupun setelah proses akuisisi oleh Larry Ellison. Ellison mengumumkan PHK terhadap 1.600 karyawan dalam konferensi dengan investor pada 10 November, di luar 1.000 PHK yang diumumkan Oktober.
Selain itu, sekitar 600 karyawan keluar setelah kebijakan kembali ke kantor, dan perusahaan memangkas 3,5 persen tenaga kerja pada Juni sebelum merger dengan Skydance.
5. Target
Peritel Target berencana memangkas sekitar 1.800 pekerjaan korporasi untuk mengimbangi penjualan yang stagnan. Ini menjadi PHK besar pertama Target dalam satu dekade, setara dengan sekitar 8 persen tenaga kerja korporasi. Posisi di toko dan rantai pasok tidak terdampak.
6. UPS
UPS melaporkan pengurangan total 48.000 karyawan sepanjang tahun ini. Sekitar 34.000 berasal dari operasional, termasuk pengemudi, dan 14.000 dari jajaran manajemen. Perusahaan menyebut sebagian besar pengemudi keluar melalui program pensiun sukarela.
7. Verizon
Verizon memangkas lebih dari 13.000 karyawan, berdampak pada sekitar 20 persen manajemen non-serikat. Untuk membantu transisi, Verizon membentuk Dana Reskilling dan Transisi Karier senilai US$20 juta atau setara Rp334 miliar, yang difokuskan pada pengembangan keterampilan digital dan penempatan kerja.
Itu dia gambaran gelombang PHK yang melanda perusahaan-perusahaan besar sepanjang 2025. Tekanan ekonomi global, perubahan strategi bisnis, hingga adopsi AI membuat dunia kerja memasuki fase baru yang penuh tantangan.