Saat AI Picu PHK Massal, Perusahaan Kecil Pakai Strategi Ini untuk Bertumbuh
Gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) akibat kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) menjadi salah satu isu paling mengkhawatirkan sepanjang 2025. Berbagai laporan menyebutkan bahwa pengumuman PHK global telah kembali ke level pandemi, sehingga memicu kekhawatiran luas tentang masa depan tenaga kerja di era otomatisasi dan teknologi canggih.
Namun di balik narasi suram tersebut, data terbaru menunjukkan cerita yang berbeda. Tidak semua perusahaan merespons tekanan ekonomi dan kemajuan AI dengan memangkas karyawan.
Justru, perusahaan kecil dan menengah menemukan cara lain untuk bertahan, bahkan memperkuat posisi mereka dengan menjadikan AI sebagai alat pengganda produktivitas, bukan pengganti manusia.
Menurut riset dari Upwork Research Institute, perusahaan dengan jumlah karyawan antara 10 hingga 499 orang sebagian besar berhasil menghindari PHK skala besar yang mendominasi pemberitaan sepanjang tahun ini.
Padahal, tekanan eksternal tidak bisa dibilang ringan. Awal 2025, World Economic Forum melaporkan bahwa 41 persen organisasi global berencana memangkas tenaga kerja seiring pesatnya perkembangan AI. Pada paruh kedua tahun ini, enam dari 10 pemimpin bisnis bahkan menyatakan rencana pengurangan jumlah karyawan.
Meski demikian, memangkas biaya tenaga kerja bukan satu-satunya strategi bertahan. Riset Upwork menemukan bahwa perusahaan kecil dan menengah justru memilih jalur berbeda, yaitu memanfaatkan AI untuk mengubah skala bisnis, bereksperimen secara cepat, serta berinvestasi pada talenta yang fleksibel.
Ilustrasi robot dan manusia bekerja bersama
Hasilnya, hampir setengah pemimpin perusahaan tetap mempertahankan tingkat kepercayaan tinggi sepanjang guncangan ekonomi 2025. Ini menunjukkan bahwa pendekatan mereka bukan hanya berbeda, tetapi juga lebih tangguh.
Jadi, alih-alih menjadikan AI sebagai alasan untuk mengurangi jumlah karyawan, perusahaan kecil memosisikan teknologi ini sebagai force multiplier. Dalam praktiknya, tim pemasaran menggunakan AI generatif untuk menyusun draf kampanye, sementara manusia tetap berperan menyempurnakan suara merek dan kreativitas.
Di sisi lain, agen AI dapat menangani proses awal persetujuan pengadaan, sehingga tim keuangan bisa fokus pada strategi. Pendekatan ini dinilai realistis. Jumlah pemimpin perusahaan yang berencana memperluas penggunaan AI agent juga meningkat 12 poin persentase tahun ini.
Melansir dari Fortune, Jum'at, 19 Desember 2025, riset Upwork mencatat bahwa 60 persen perusahaan kecil dan menengah yang menanamkan budaya eksperimen dalam organisasinya melaporkan hasil kepuasan pelanggan yang sangat baik sepanjang 2025.
Ukuran organisasi yang lebih ramping membuat perubahan bisa dieksekusi dalam hitungan minggu, bukan bulan. Hal ini menjadi keunggulan signifikan dibandingkan perusahaan besar yang sering kali terhambat birokrasi.
Di 2026, pola pikir “menambah karyawan” mulai bergeser menjadi “mengakses orang yang tepat, saat dan dengan cara yang tepat”. Pergeseran ini semakin relevan ketika AI mulai meresap ke seluruh fungsi organisasi.
Model tim campuran menjadi solusi efektif. Karyawan tetap menjaga pengetahuan institusional, sementara talenta eksternal menyediakan keahlian spesifik, seperti pemrograman AI dan data science, yang belum tentu tersedia di internal perusahaan.
Tekanan biaya dan perubahan struktural memang nyata. Namun memangkas tenaga kerja bukanlah strategi berkelanjutan. World Economic Forum memperkirakan bahwa meski 92 juta pekerjaan akan tergeser secara global hingga 2030, sekitar 170 juta pekerjaan baru justru akan tercipta.