Menguak Tren Job Hugging, Ketika Karyawan Takut Resign Gara-gara Pasar Kerja Makin Suram
Beberapa tahun terakhir, dunia kerja diwarnai istilah baru yang menggambarkan realitas pahit. Tren itu yakni job hugging atau jika diartikan adalah 'memeluk pekerjaan'.
Fenomena ini menggambarkan kondisi di mana banyak pekerja memilih bertahan di tempat kerja mereka saat ini, bukan karena mereka bahagia atau setia pada perusahaan, melainkan karena takut menghadapi pasar kerja yang semakin tidak menentu.
Setelah masa pandemi melahirkan tren “Great Resignation” atau masa di mana banyak orang berani meninggalkan pekerjaan alias resign karena yakin mudah mendapatkan peluang baru, kini tren itu berbalik arah.
Di tengah meningkatnya penggunaan kecerdasan buatan (AI), penggabungan beberapa posisi menjadi satu, dan meningkatnya angka pemutusan hubunga kerja (PHK), banyak pekerja justru merasa lebih aman untuk bertahan daripada harus menghadapi risiko penolakan saat mencari pekerjaan baru.
Fenomena job hugging ini muncul karena banyak perusahaan membuka lowongan tanpa benar-benar berniat merekrut. Posisi yang diiklankan sering kali hanya formalitas, sementara di sisi lain, beberapa perusahaan justru menggantikan tenaga manusia dengan teknologi.
"Astaga, saya bahkan tidak bisa menyebutnya kompetitif lagi saat ini. Saya sudah mengirimkan begitu banyak lamaran, tetapi hanya mendapat penolakan langsung atau tidak ada kabar sama sekali,” curhat seorang pencari kerja, sebagaimana dikutip dari Independent, Rabu, 5 November 2025.
Ilustrasi Stres Kerja di Hari Senin
Situasi ini menjadi semakin sulit bagi para lulusan baru. Mereka tidak memenuhi syarat untuk posisi senior yang kini menuntut pengalaman tinggi, namun juga kesulitan menemukan posisi pemula, karena sedikit pekerja yang bersedia resign.
Menurut Mary Cavanaugh, Wakil Presiden Senior Manajemen Karier di Keystone Partners, fenomena job hugging didorong oleh rasa takut. “Kenyamanan perlahan berubah menjadi kelengahan,” ujarnya.
“Salah satu dampak negatif dari job hugging adalah ketika seseorang bertahan terlalu lama karena rasa takut dan sikap pasif. Itu tidak membantu perkembangan karier maupun organisasi,” ungkapnya.
Selain rasa takut, faktor ekonomi juga berperan besar. Setelah sistem pensiun di banyak perusahaan dihapus, cara paling umum untuk menaikkan gaji biasanya adalah pindah kerja dan menegosiasikan kenaikan bayaran.
Namun, laporan terbaru dari Bank Sentral Atlanta menunjukkan bahwa kini pekerja yang bertahan justru mendapat kenaikan gaji hampir sama dengan mereka yang berpindah kerja.
Data itu menunjukkan, pada awal tahun 2025, pekerja yang bertahan di tempatnya mengalami kenaikan gaji rata-rata 4,6 persen, sedangkan mereka yang berpindah kerja hanya sedikit lebih tinggi di 4,8 persen. Dengan selisih tipis 0,2 persen, banyak orang memilih tidak mengambil risiko keluar dari pekerjaannya.
Padahal dua tahun sebelumnya, pekerja yang pindah kerja bisa menikmati kenaikan gaji sekitar 7,7 persen, dibandingkan 5,5 persen bagi mereka yang tetap bertahan.
Cavanaugh menegaskan bahwa meski bertahan tampak lebih aman, langkah itu bisa berbalik merugikan jika seseorang akhirnya dipaksa keluar karena PHK. “Lebih baik bergerak dengan perencanaan matang daripada harus pindah karena keadaan,” katanya.
Marie Unger, CEO Emergencies International, juga mengingatkan bahwa tingkat retensi karyawan yang tinggi tidak selalu menandakan loyalitas. “Ketika karyawan hanya bertahan karena takut, perusahaan bisa menghadapi banyak pegawai yang tidak terlibat secara emosional. Kondisi ini dapat merugikan hingga 18 persen dari total gaji tahunan perusahaan,” jelasnya.
Unger mengatakan, perusahaan sebenarnya bisa memanfaatkan tren ini untuk memperkuat keterlibatan karyawan. Berdasarkan penelitian Udemy tentang kebosanan di tempat kerja, sekitar 80 persen responden merasa lebih bersemangat jika diberi kesempatan belajar dan mengembangkan keterampilan.
Survei dari Harvard Business Review juga menemukan bahwa 90 persen responden, baik karyawan maupun eksekutif, percaya bahwa pekerjaan harus memberikan makna dalam hidup. Ia pun menyarankan agar perusahaan membantu karyawan menemukan tujuan dan makna dalam pekerjaan mereka.
“Perusahaan perlu menjelaskan mengapa pekerjaan itu penting dan bagaimana setiap karyawan berkontribusi terhadap tujuan bersama,” kata dia.
Dengan begitu, sambungnya, pekerja tidak hanya bertahan karena takut, tetapi juga karena merasa dihargai dan memiliki peran yang berarti.
Pada akhirnya, job hugging menjadi cerminan dunia kerja modern, ketika rasa aman menjadi barang langka, dan keberanian untuk mengambil langkah baru terasa seperti perjudian besar.