Bank Raksasa Ini Siap PHK Massal 3.000 Karyawan demi Bertahan dari Akuisisi Asing
Bank asal Jerman, Commerzbank, mengumumkan rencana pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap 3.000 karyawan. Ini merupakan bagian dari strategi mempertahankan independensi perusahaan dari upaya akuisisi bank Italia, UniCredit.
Keputusan tersebut diumumkan Jumat, 8 Mei 2026, bersamaan dengan peningkatan target laba dan pendapatan jangka panjang perusahaan. Langkah ini diambil di tengah memanasnya persaingan antara dua bank besar Eropa tersebut.
Selama beberapa bulan terakhir, Commerzbank dan UniCredit terlibat ketegangan terkait rencana pengambilalihan Commerzbank oleh UniCredit.
Awal pekan ini, UniCredit resmi meluncurkan proposal akuisisi senilai 37 miliar euro atau sekitar Rp740 triliun (kurs Rp20.000) terhadap Commerzbank. Nilai tersebut disebut berada di bawah harga pasar.
Menanggapi langkah tersebut, Commerzbank menilai proposal UniCredit masih belum jelas dan penuh risiko. Rencana yang disampaikan UniCredit masih samar dan mengandung risiko eksekusi yang besar, serta menggunakan narasi menyesatkan yang mendiskreditkan Commerzbank.
PHK 3.000 pekerja ini menjadi gelombang pemangkasan ketiga dalam beberapa tahun terakhir. Sebelumnya, Commerzbank sudah memangkas sekitar 10.000 pekerja atau sepertiga tenaga kerja mereka di Jerman pada awal dekade ini.
Tahun lalu, perusahaan juga mengumumkan rencana pengurangan tambahan sebanyak 3.900 pekerjaan. CEO UniCredit, Andrea Orcel, bahkan secara terbuka menyatakan ingin memangkas besar-besaran kantor pusat Commerzbank di Frankfurt jika akuisisi berhasil dilakukan.
Selain PHK, Commerzbank juga memperkirakan biaya restrukturisasi mencapai 450 juta euro atau sekitar Rp9 triliun. Bank terbesar kedua di Jerman itu berharap target baru yang diumumkan dapat meyakinkan investor bahwa perusahaan masih mampu tumbuh tanpa harus diakuisisi.
Commerzbank kini menargetkan pendapatan sebesar 15 miliar euro atau sekitar Rp300 triliun pada 2028, naik dari target sebelumnya sebesar 14,2 miliar euro atau sekitar Rp284 triliun. Sementara target laba 2028 dinaikkan menjadi 4,6 miliar euro atau sekitar Rp92 triliun, lebih tinggi dibanding target lama sebesar 4,2 miliar euro atau sekitar Rp84 triliun.
Di tengah konflik tersebut, UniCredit kini telah menjadi pemegang saham terbesar Commerzbank dengan kepemilikan hampir 30 persen saham. UniCredit berpendapat, Commerzbank belum memaksimalkan potensinya dan Eropa membutuhkan bank-bank besar untuk menghadapi ketidakpastian geopolitik global.
Namun Commerzbank tetap bersikeras mempertahankan status independennya. Pembicaraan antara pimpinan kedua bank sempat berlangsung awal tahun ini, tetapi akhirnya gagal setelah perayaan Paskah.
Upaya UniCredit juga mendapat penolakan keras di Jerman. Kanselir Jerman, Friedrich Merz, secara terbuka menolak aksi akuisisi agresif di sektor perbankan. “Bukan seperti ini cara memperlakukan institusi seperti bank di Jerman, yakni Commerzbank. Cara seperti ini menghancurkan kepercayaan, bukan membangun kepercayaan baru,” ungkapnya, sebagaimana dikutip dari Reuters, Jumat, 8 Mei 2026.
Pemerintah Jerman sendiri masih memiliki sekitar 12 persen saham Commerzbank setelah menyelamatkan bank tersebut saat krisis keuangan global dua dekade lalu. Sejumlah politisi dan pelaku industri perbankan di Jerman bahkan mendesak pemerintah Berlin menambah kepemilikan saham untuk menghalangi langkah UniCredit.
Di tengah gejolak tersebut, Commerzbank tetap membukukan kinerja keuangan yang kuat. Laba bersih kuartal pertama perusahaan naik 9,4 persen menjadi 913 juta euro atau sekitar Rp18,2 triliun.
Angka itu lebih tinggi dibanding perkiraan analis yang sebelumnya memproyeksikan laba sebesar 868 juta euro atau sekitar Rp17,3 triliun. Perseteruan Commerzbank dan UniCredit kini menjadi salah satu pertarungan terbesar di sektor perbankan Eropa, sekaligus ujian bagi Jerman dalam mempertahankan salah satu bank komersial terbesar yang tersisa di negara tersebut.