Bukan Kurang Lowongan, Ini Alasan Cari Kerja Makin Sulit di Era AI
Pasar tenaga kerja Amerika Serikat (AS) tengah melambat. Di saat yang sama, teknologi kecerdasan buatan (AI) justru semakin agresif masuk ke proses rekrutmen, mulai dari surat lamaran yang dihasilkan otomatis hingga wawancara tanpa pewawancara manusia.
Seperti kita tahu, saat ini, cara orang melamar pekerjaan berubah drastis, dan tidak selalu ke arah yang lebih baik. Alih-alih mempermudah pencocokan antara kandidat dan perusahaan, penggunaan AI dalam perekrutan justru memunculkan keluhan dari kedua belah pihak.
Pencari kerja merasa prosesnya dingin dan tidak manusiawi, sementara perusahaan kewalahan menghadapi banjir lamaran yang semakin sulit disaring secara adil.
Lebih dari separuh organisasi yang disurvei oleh Society for Human Resource Management mengaku telah menggunakan AI untuk merekrut pekerja sepanjang 2025. Di sisi lain, sekitar sepertiga pengguna ChatGPT dilaporkan memanfaatkan chatbot OpenAI tersebut untuk membantu pencarian kerja mereka.
Namun, riset terbaru menunjukkan hasil yang ironis. Pelamar yang menggunakan AI dalam proses melamar justru lebih kecil kemungkinannya untuk diterima, sementara perusahaan menerima volume lamaran yang jauh lebih besar.
“Kemampuan (perusahaan) untuk memilih pekerja terbaik saat ini bisa jadi lebih buruk akibat AI,” kata Anaïs Galdin, peneliti Dartmouth yang ikut menulis studi tentang dampak model bahasa besar (LLM) terhadap surat lamaran, sebagaimana dikutip dari CNN, Senin, 22 Desember 2025.
Ilustrasi interview kerja
Galdin bersama rekan penelitinya, Jesse Silbert dari Princeton, menganalisis surat lamaran dari puluhan ribu aplikasi kerja di Freelancer.com. Mereka menemukan bahwa setelah ChatGPT diperkenalkan pada 2022, surat lamaran menjadi lebih panjang dan lebih rapi.
Namun, perusahaan justru semakin tidak menganggap surat lamaran sebagai faktor penting. Akibatnya, pembeda antara kandidat yang benar-benar berkualitas dan pelamar lainnya menjadi kabur. Alhasil, tingkat perekrutan menurun, begitu pula rata-rata gaji awal.
“Jika kita tidak melakukan apa pun untuk memperbaiki aliran informasi antara pekerja dan perusahaan, maka hasilnya akan terlihat seperti ini,” kata Silbert, merujuk pada temuan studinya.
Lonjakan jumlah pelamar membuat perusahaan semakin mengandalkan otomatisasi, termasuk pada tahap wawancara. Survei Greenhouse pada Oktober lalu menunjukkan 54 persen pencari kerja di AS pernah menjalani wawancara yang dipimpin AI.
Wawancara virtual memang melonjak sejak pandemi 2020. Kini, banyak perusahaan menggunakan AI untuk mengajukan pertanyaan. Namun, hal itu tidak otomatis membuat prosesnya lebih objektif.
“Algoritma bisa meniru, bahkan memperbesar, bias manusia,” kata Djurre Holtrop, peneliti yang mengkaji penggunaan wawancara video asinkron, algoritma, dan LLM dalam perekrutan. “Setiap pengembang perlu benar-benar waspada terhadap hal itu.”
Daniel Chait, CEO Greenhouse, memperingatkan bahwa penggunaan AI di kedua sisi, pelamar dan perusahaan, telah menciptakan “lingkaran kehancuran”.
Meski menuai kritik, perusahaan tetap agresif mengadopsi teknologi ini. Pasar teknologi rekrutmen diperkirakan tumbuh hingga US$3,1 miliar, atau sekitar Rp51,77 triliun, pada akhir tahun ini.
Namun, penolakan mulai bermunculan. Legislator negara bagian, serikat pekerja, dan individu khawatir AI dapat memicu diskriminasi dalam perekrutan. Presiden AFL-CIO, Liz Shuler, menyebut penggunaan AI dalam rekrutmen sebagai sesuatu yang “tidak dapat diterima”.
Meski AI membuka cara baru dalam menganalisis CV dan berpotensi memberi peluang bagi kandidat yang sebelumnya terabaikan, banyak pihak tetap merindukan unsur manusia dalam rekrutmen. Jared Looper, manajer proyek IT dari Utah, mengaku pengalaman diwawancarai AI terasa sangat dingin.
“Rasanya kaku,” katanya.
Selain itu, Looper kini khawatir mereka yang belum mampu beradaptasi dengan proses rekrutmen baru ini akan tertinggal. “Banyak orang hebat akan tertinggal,” ungkapnya.