Benarkah AI Jadi Penyebab PHK Massal 2026? Riset Ungkap Faktanya
Gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) yang diklaim dipicu kecerdasan buatan terus menjadi sorotan di awal 2026. Namun riset terbaru menunjukkan realitas yang jauh lebih kompleks.
Di balik narasi “digantikan AI”, mayoritas perusahaan ternyata belum memiliki teknologi yang benar-benar siap untuk menggantikan peran manusia di tempat kerja.
Riset dari Forrester mengungkap adanya jurang besar antara klaim perusahaan dan kesiapan teknologi di lapangan. Banyak perusahaan mengumumkan pengurangan tenaga kerja dengan alasan adopsi AI, padahal sistem AI yang disebut-sebut itu bahkan belum dibangun, apalagi diuji secara matang.
Dalam risetnya, analis Forrester menemukan pola yang berulang. Ketika klien menyatakan akan memangkas karyawan dan menggantinya dengan AI, hampir selalu muncul pertanyaan mendasar: apakah teknologi tersebut benar-benar sudah siap?
"Pertanyaan yang paling sering saya dengar dari klien adalah, CEO kami mengatakan akan melakukan PHK 20 persen karyawan dan menggantinya dengan AI. Bagaimana caranya?" kata J.P. Gownder, Vice President dan Principal Analyst Forrester, sebagaimana dikutip dari HR Executive, Senin, 19 Januari 2026.
Masalahnya, saat Forrester menanyakan kesiapan teknologi yang dimaksud, jawabannya hampir selalu sama. “Ketika kami bertanya apakah mereka punya aplikasi AI yang matang dan tervalidasi untuk menggantikan pekerjaan itu, sembilan dari sepuluh kali jawabannya tidak, dan mereka bahkan belum mulai,” tulis Gownder.
Temuan ini menegaskan bahwa banyak PHK yang dibingkai sebagai transformasi digital, padahal belum didukung fondasi teknologi yang memadai. Meski demikian, Forrester tidak menampik bahwa AI akan berdampak nyata pada dunia kerja dalam beberapa tahun ke depan.
Perusahaan riset ini memproyeksikan 6,1 persen pekerjaan di Amerika Serikat akan hilang akibat AI dan otomasi pada 2030, setara dengan 10,4 juta posisi. Angka ini merupakan revisi signifikan dari proyeksi tahun 2023.
Ilustrasi PHK
Dalam laporan terbaru, generative AI kini menyumbang 50 persen dari potensi kehilangan pekerjaan, naik tajam dari sebelumnya 29 persen. Lonjakan ini didorong oleh kemunculan AI agentic yang mampu menyelesaikan tugas spesifik dengan tingkat akurasi lebih tinggi.
Namun, Forrester menekankan bahwa penghapusan pekerjaan hanyalah sebagian kecil dari gambaran besar.
Riset Forrester menunjukkan bahwa AI akan sangat memengaruhi sekitar 20 persen pekerjaan, angka yang 3,25 kali lebih besar dibandingkan pekerjaan yang benar-benar hilang. Dampak ini bahkan hampir empat kali lipat lebih besar dibandingkan prediksi Forrester pada 2023.
Artinya, AI lebih banyak mengubah cara kerja manusia ketimbang sepenuhnya menghapus peran mereka. Banyak pekerjaan akan mengalami transformasi tugas, alur kerja, dan keterampilan, bukan langsung menghilang.
Forrester juga mengkritik praktik perusahaan yang menggunakan AI sebagai pembenaran PHK tanpa kesiapan teknologi. Dalam banyak kasus, PHK tersebut lebih mencerminkan tekanan finansial ketimbang kebutuhan transformasi digital.
“Jadi, sebagian besar PHK didorong oleh faktor keuangan dan AI hanya dijadikan kambing hitam, setidaknya untuk saat ini,” tulis Gownder.
Pendekatan ini dinilai berisiko, bukan hanya terhadap operasional perusahaan, tetapi juga terhadap kepercayaan karyawan. Menghilangkan posisi tanpa solusi teknologi yang siap dapat memicu kekacauan kerja dan menurunkan produktivitas.
Hingga 2030, Forrester memprediksi bahwa dunia kerja masih akan didominasi manusia. AI memang akan mengambil alih banyak tugas spesifik, tetapi pekerjaan secara utuh tetap membutuhkan peran manusia.