AI Disebut Biang Kerok PHK Massal, Survei Beberkan Faktanya
Gelombang pemutusan hubungan kerja atau PHK yang dikaitkan dengan kecerdasan buatan (AI) semakin sering muncul dalam narasi bisnis global. Namun, riset terbaru menunjukkan realitasnya tidak sesederhana 'AI menggantikan pekerja manusia'.
Banyak perusahaan ternyata memangkas tenaga kerja bukan karena AI sudah terbukti bekerja luar biasa, melainkan karena ekspektasi besar terhadap potensinya di masa depan.
Dalam beberapa tahun terakhir, AI generatif kerap disebut sebagai penyebab melambatnya perekrutan dan meningkatnya PHK, terutama di sektor teknologi, layanan pelanggan, serta pekerjaan entry-level dan pemrograman. Sejumlah CEO besar bahkan telah menyatakan bahwa banyak pekerjaan kerah putih akan segera hilang.
Namun, di balik pernyataan tersebut, muncul pertanyaan penting, apakah AI benar-benar sudah menggantikan pekerjaan dalam skala besar?
Untuk memahami situasi sebenarnya, dilakukan survei terhadap 1.006 eksekutif global pada Desember 2025 mengenai bagaimana AI memengaruhi bisnis dan keputusan terkait jumlah karyawan. Hasilnya menunjukkan bahwa AI memang terkait dengan sebagian PHK, tetapi hampir semuanya dilakukan sebagai langkah antisipasi.
Artinya, kehilangan pekerjaan dan perlambatan perekrutan itu nyata, tetapi banyak perusahaan masih menunggu AI generatif benar-benar memenuhi janjinya. "Dampak ekonomi AI di banyak organisasi dinilai belum signifikan, sehingga penghematan biaya melalui PHK besar-besaran sebenarnya belum sepenuhnya berbasis hasil kinerja AI," demikian dikutip dari laporan HBR, Senin, 2 Februari 2026.
Salah satu kekeliruan umum adalah, menganggap AI langsung mengambil alih satu profesi secara penuh. Kenyataannya, AI biasanya hanya menjalankan tugas-tugas spesifik.
Misalnya, peraih Nobel Geoffrey Hinton pernah menyatakan pada 2016 bahwa sangat jelas AI akan mengungguli ahli radiologi manusia dalam lima tahun. Namun satu dekade kemudian, tidak ada bukti bahwa satu pun ahli radiologi kehilangan pekerjaan karena AI. Hal itu karena mereka melakukan banyak tugas lain selain membaca hasil pemindaian, bahkan, saat ini yang terjadi justru kekurangan tenaga radiologi.
Selain itu, menentukan pekerjaan mana yang benar-benar bisa diambil alih AI bukan hal mudah. Dibutuhkan eksperimen terkontrol dan pengukuran disiplin untuk menilai dampak produktivitas AI. Meski ada bukti awal peningkatan produktivitas individu di beberapa pekerjaan, misalnya peningkatan kinerja pemrograman sekitar 10–15 persen, namun, mengubah kenaikan produktivitas individu menjadi proses bisnis yang jauh lebih efisien dan berkualitas tinggi secara menyeluruh terbukti sulit.
Hasil survei menunjukkan 44 persen responden menyebut AI generatif sebagai teknologi AI yang paling sulit dinilai nilai ekonominya, lebih sulit dibanding AI analitik, deterministik, maupun agentic AI. Meski begitu, 90 persen responden mengatakan perusahaan mereka memperoleh nilai moderat hingga besar dari AI secara umum.
Soal tenaga kerja, datanya cukup mencolok. Mayoritas perusahaan telah melakukan pengurangan karyawan tingkat rendah hingga sedang atau besar sebagai antisipasi dampak AI. Sebanyak 29 persen lainnya merekrut lebih sedikit orang dari biasanya karena memperkirakan AI akan berperan lebih besar. Hanya 2 persen perusahaan yang sudah melakukan pengurangan besar terkait implementasi AI, serta 9 persen lainnya tidak yakin soal besaran atau alasan pengurangan karyawan terkait AI.
Temuan ini menunjukkan fenomena “AI mengambil pekerjaan” sebagian bersifat artifisial. Eksekutif mungkin sungguh percaya AI akan mengotomatisasi skala besar di masa depan, atau sekadar menjadikan AI alasan yang terdengar lebih modern untuk PHK dibanding sekadar pemotongan biaya.
"Mengaitkan PHK langsung dengan AI membawa konsekuensi. Karyawan yang tersisa bisa merasa mereka akan segera kehilangan pekerjaan juga, sehingga enggan bereksperimen meningkatkan pekerjaan mereka dengan AI. Klaim berlebihan tentang AI sebagai penyebab PHK juga bisa menumbuhkan sinisme terhadap teknologi ini," tulis laporan HBR.
Di tingkat masyarakat, sikap terhadap AI bisa makin negatif. Survei 2025 menunjukkan separuh warga Amerika lebih khawatir daripada antusias terhadap peningkatan penggunaan AI dalam kehidupan sehari-hari. Kekhawatiran ini berpotensi membuat konsumen menjauh dari produk dan layanan berbasis AI. Beberapa perusahaan bahkan dilaporkan harus merekrut kembali pekerja setelah PHK yang dikaitkan dengan AI menghadapi kritik publik.