PHK Meluas, Lowongan Kerja Seret! 1,8 Juta Orang Terjebak Jadi Pengangguran Jangka Panjang

Ilustrasi pengangguran.
Ilustrasi pengangguran.

Ada tren baru di pasar kerja Amerika Serikat. Di tengah angka pengangguran yang tampak stabil dan pertumbuhan lapangan kerja yang masih berjalan, semakin banyak warga yang terjebak dalam pengangguran jangka panjang. Apa artinya? 

Secara resmi, tingkat pengangguran AS turun tipis menjadi 4,3 persen atau sekitar 7,4 juta orang. Pertumbuhan pekerjaan pada Januari juga tercatat lebih kuat dari perkiraan, dengan lebih dari separuh tambahan lapangan kerja berasal dari sektor kesehatan. 

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Namun di balik angka tersebut, 1 dari 4 penganggur atau sekitar 1,8 juta orang telah mencari pekerjaan selama lebih dari enam bulan. Mereka dikategorikan sebagai long-term unemployed oleh Bureau of Labor Statistics.

Dalam banyak kasus, para pencari kerja ini telah menghabiskan tunjangan pengangguran yang rata-rata hanya menggantikan kurang dari 40 persen pendapatan sebelumnya. Artinya, tekanan finansial semakin berat seiring lamanya waktu tanpa pekerjaan tetap.

Tequila Turner, 47 tahun, warga Kansas City, Missouri, menjadi salah satu contoh nyata. Ia kehilangan pekerjaan kontraknya di sektor IT perbankan pada Oktober 2024. Sejak itu, ia mengandalkan proyek lepas dan pekerjaan gig seperti mengantar untuk DoorDash

Pendapatannya pun merosot tajam dari enam digit dolar AS, minimal US$100.000 atau setara Rp1,68 miliar dengan asumsi kurs Rp16.800 per dolar AS, menjadi hanya sebagian kecilnya. Untuk menekan pengeluaran, ia kini tinggal bersama teman.

“Saya berharap orang-orang tahu ini bukan pilihan,” kata Turner, sebagaimana dikutip dari CNBC, Kamis, 19 Februari 2026. “Ini hal baru bagi kami. Ini adalah orang-orang yang telah menafkahi keluarga dan diri mereka sendiri sepanjang hidup mereka,” ujarnya. 

"Kami ingin bekerja," tegas Turner. 

Data menunjukkan sepanjang 2025 perusahaan di AS hanya menambah 181.000 lapangan kerja, jauh di bawah 1,46 juta pada 2024. Pada Januari saja, pengumuman PHK mencapai 108.435 kasus. Lowongan entry-level juga turun sekitar 35 persen pada pertengahan 2025 dibanding Januari 2023, mencerminkan menyusutnya peluang bagi pencari kerja baru.

Nicole Bachaud, ekonom tenaga kerja di ZipRecruiter, menyebut kondisi ini sebagai stagnasi menyeluruh. “Momen yang kita alami sekarang di pasar tenaga kerja adalah stagnasi di seluruh lini bagi pekerja dan pemberi kerja,” ujarnya.

“Pengangguran menjadi lebih seperti status quo dibanding posisi sementara bagi pekerja yang kehilangan pekerjaan,” ungkapnya. 

Tekanan ini juga dirasakan lintas generasi, seperti Gen Z. Chris Fong, 25 tahun, yang terkena PHK dari startup pada Maret 2025, mendapati proses rekrutmen yang semakin panjang dan selektif. 

Bahkan, satu perusahaan mewajibkan delapan tahap wawancara tanpa hasil. “Saya lelah membiarkan perekrut dan perusahaan menilai saya berdasarkan pengalaman sebelumnya,” katanya. “Saya berpikir, saya akan memulai sesuatu sendiri.”

Bagi lulusan internasional seperti Sakshi Patel, 22 tahun, tantangan semakin kompleks. Ia khawatir perubahan kebijakan imigrasi, termasuk pembaruan program visa H1-B dengan biaya aplikasi US$100.000 atau setara Rp1,68 miliar, membuat perusahaan enggan merekrut pekerja yang membutuhkan sponsor visa. 

“Pengangguran jangka panjang masih sering dibicarakan sebagai kekurangan pribadi, padahal kenyataannya semakin menjadi masalah struktural,” ujarnya.

Myriam Samake, 27 tahun, telah melamar lebih dari 150 posisi dalam tujuh bulan terakhir. “Sudah sampai pada titik jika saya mendapat tawaran, saya akan menerimanya 100 persen,” katanya. 

Andrew Bohan, yang kehilangan pekerjaan paralegal pada Agustus 2024, juga membagikan pengalaman yang sama. “Saya suka mengatakan bahwa menganggur bukanlah masalahnya, yang menjadi masalah sebenarnya adalah menjaga pikiran tetap kuat.”

Greg Roth, 52 tahun, juga merasakan perubahan drastis. “Dalam waktu singkat saya berubah dari merasa sangat diminati menjadi merasa sepenuhnya diabaikan,” ujarnya. “Keterampilan saya tidak berubah, jadi entah pasarnya yang berubah, atau memang perekrutan jauh lebih sedikit.”

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Riset menunjukkan kehilangan pekerjaan berkorelasi dengan penurunan kesejahteraan psikologis dan fisik, serta potensi penurunan pendapatan jangka panjang sebesar 5 persen hingga 15 persen dibanding pekerja serupa yang tidak mengalami PHK. 

Tren ini menandakan bahwa pengangguran jangka panjang kini menjadi tantangan struktural baru di pasar kerja Amerika Serikat. Lalu, bagaimana dengan negara-negara lainnya, termasuk Indonesia?