Dedi Mulyadi soal Guru Tampar Siswa di Subang: Percayakan pada Guru, tapi Tanpa Kekerasan

Dedi Mulyadi, guru tampar siswa, guru tampar murid, guru di subang tampar siswa, Dedi Mulyadi soal Guru Tampar Siswa di Subang: Percayakan pada Guru, tapi Tanpa Kekerasan

Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi menegaskan pentingnya saling menghormati antara guru dan orangtua dalam mendidik anak. Pernyataan ini disampaikan menyusul kasus guru SMP Negeri 2 Jalancagak, Kabupaten Subang, yang viral karena diduga menampar siswa.

Dalam video yang diterima Kompas.com, Dedi bertemu langsung dengan kepala sekolah dan guru IPS Rana Saputra, yang terlibat dalam insiden tersebut. Dari penjelasan guru, tindakan itu dilakukan karena siswa berinisial ZR (16) melakukan pelanggaran berulang di sekolah.

“Merokok, kemudian berkelahi, mengganggu kelas yang lain, terakhir loncat,” kata Dedi, Rabu (5/11/2025).

Menurut Dedi, pendidikan anak adalah tanggung jawab bersama antara sekolah dan keluarga.

“Tugas guru adalah mendidik siswanya. Kemudian tugas orangtua juga mendidik anaknya. Ketika di sekolah, anak menjadi tanggung jawab guru, ketika di rumah menjadi tanggung jawab orangtua. Dua-duanya harus saling menghargai,” ujarnya.

Guru Harus Tegas, Tapi Tidak Kasar

Dedi meminta agar orangtua mempercayakan pendidikan anak kepada guru di sekolah, tetapi mengingatkan bahwa kekerasan bukanlah solusi dalam proses belajar mengajar.

“Kalau dititipkan di sekolah, percayakan pada guru. Kalau guru-gurunya agak keras sedikit, orangtuanya juga harus bisa menyadari kenapa kekerasan itu terjadi. Tetapi juga guru harus menyadari, tidak semua hal bisa diselesaikan dengan kekerasan,” tegasnya.

Mantan Bupati Purwakarta itu berharap kasus ini menjadi pelajaran berharga agar komunikasi antara sekolah dan orangtua semakin baik.

“Yang penting semangat, jangan pernah takut, terus mengajar dengan baik dan tegas,” katanya.

Kronologi: Bermula dari Aksi Lompat Pagar

Sebelumnya, video seorang orangtua yang menegur guru di SMPN 2 Jalancagak viral di media sosial setelah diunggah oleh akun Instagram @mangdans_, milik Deni Rukmana (38), ayah dari ZR.

Dalam video tersebut, Deni menegur keras guru Rana karena diduga menampar anaknya seusai upacara.

“Lah ini anda main gampar-gampar aja. Pak Dedi tolong lah,” kata Deni dalam video. Rana kemudian menjawab, “Laporin saja ke Pak Dedi Mulyadi, saya tunggu.”

Pihak sekolah kemudian menjelaskan bahwa peristiwa itu bermula saat ZR dan tujuh temannya melompati pagar sekolah untuk bolos. Guru Rana menegur dan memberi tindakan disiplin berupa tamparan ringan.

“Iya, delapan orang. Guru hanya menampar pelan. Itu dilakukan setelah upacara dan anak-anak belum bubar,” kata Wakil Kepala Sekolah Bidang Sarana dan Prasarana SMPN 2 Jalancagak, Yaumi Basuki, Rabu (5/11/2025).

Sudah Dimediasi dan Saling Memaafkan

Menurut Yaumi, pagar sekolah baru selesai dibangun dua minggu lalu dan sudah diingatkan agar dijaga. Namun beberapa siswa tetap melompati pagar, sehingga guru khawatir pagar yang baru itu kembali rusak.

“Kejadian kemarin itu sebenarnya bentuk kesalahpahaman antara orangtua siswa dan pihak sekolah. Kami ingin menegakkan kedisiplinan, namun kami juga tidak membenarkan adanya kekerasan fisik,” ujarnya.

Setelah kejadian, pihak sekolah langsung memediasi guru dan orangtua ZR pada Selasa (4/11/2025).

“Kemarin sudah ada pertemuan, sudah saling memaafkan. Guru yang bersangkutan dan orangtua sudah saling menerima,” kata Yaumi.

Meski demikian, orangtua siswa tetap mengunggah video kejadian tersebut di media sosial.

“Kami tidak bisa melarang, itu hak beliau. Tapi pada hari Selasa masalah sebenarnya sudah selesai dan sudah ada kata maaf,” ujarnya.

Pihak sekolah menyatakan akan mengevaluasi cara pembinaan terhadap siswa agar ke depan tidak ada lagi tindakan disiplin yang melibatkan kekerasan fisik.

“Kami akan mencari solusi bagaimana mendisiplinkan tanpa kekerasan fisik,” kata Yaumi.

Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Ikuti terus update topik ini dan notifikasi penting di Aplikasi KOMPAS.com.