Dedi Mulyadi Turun Tangan Soal Kasus Resbob yang Diduga Hina Suporter Persib

Dedi Mulyadi pakai Lexus LX 600 rayakan kemenangan Persib
Dedi Mulyadi pakai Lexus LX 600 rayakan kemenangan Persib

 Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, akhirnya memberikan respons terkait kegaduhan yang muncul akibat konten viral milik kreator Adimas Firdaus atau Resbob. 

Video yang beredar tersebut memicu kemarahan publik karena Resbob diduga menghina Suku Sunda sekaligus melontarkan ucapan rasis terhadap suporter Persib Bandung, Viking Persib Club (VPC).

Reaksi Dedi Mulyadi muncul setelah seorang warganet mendesaknya untuk memberikan tanggapan atas video tersebut.

Konten kreator rasis hina suporter Persib

Menanggapi hal itu, Dedi Mulyadi menegaskan bahwa kasus Resbob kini sudah berada dalam proses hukum. Ia memastikan persoalan tersebut telah ditindaklanjuti berdasarkan laporan yang sebelumnya dilayangkan oleh perwakilan suporter Persib Bandung. 

"Sedang proses hukum," jawab Dedi singkat di kolom komentar unggahannya.

Pertanyaan serupa terus berdatangan dari berbagai warganet, namun Dedi tetap pada sikapnya. Ia menuturkan bahwa seluruh proses kini ditangani penuh oleh pihak kepolisian. Menurutnya, langkah terbaik adalah menyerahkan kasus dugaan hinaan terhadap Suku Sunda dan Viking tersebut kepada aparat penegak hukum. 

"Sudah dilaporkan, biarkan hukum yang menyentuhnya," tutur mantan Bupati Purwakarta itu.

Dedi menyayangkan tindakan Resbob yang dinilai tak pantas. Ia menilai video tersebut bermula dari komentar yang menyasar suporter Persib, yang identik dengan Bandung dan Jawa Barat. Namun dalam perkembangannya, Resbob kemudian melontarkan pernyataan rasis yang diduga menghina Suku Sunda, sehingga memicu reaksi keras dari masyarakat luas.

Meski memahami kekecewaan publik, Dedi Mulyadi mengimbau agar warga Jawa Barat tidak terjebak dalam kemarahan berkepanjangan. Ia meminta masyarakat tetap bijak dalam merespons situasi seperti ini dan menyerahkan sepenuhnya kepada penegak hukum. Dedi juga menegaskan bahwa sikap rasis semacam ini tidak boleh dibiarkan terjadi lagi di masa mendatang.

"Jangan kotori mulut dan tangan kita lagi," pesan Dedi, berharap kasus ini menjadi pelajaran bagi semua pihak agar lebih bertanggung jawab dalam bertutur di ruang publik.