Penjelasan Pakar IPB soal Telur Ayam Fertil Tidak Layak Konsumsi dan Dilarang Diperjualbelikan
Guru Besar Ilmu Ternak Unggas Institut Pertanian Bogor (IPB) Prof Niken Ulupi mengatakan, telur ayam pedaging bibit atau fertil ternyata tidak layak dikonsumsi dan diperjualbelikan.
Ia menjelaskan, telur tersebut tidak layak diedarkan karena sifatnya yang gampang rusak.
“Telur fertil yang tidak memenuhi syarat untuk ditetaskan tidak boleh dijual di pasar. Kualitasnya rendah, masa simpannya pendek, dan mudah membusuk,” ujar Niken dalam keterangan resmi yang diterima Kompas.com, Jumat (30/10/2025).
Alasan Telur Ayam Fertil Tidak Aman Dikonsumsi Menurut Pakar IPB
Niken menerangkan, telur ayam pedaging bibit memiliki perbedaan dengan telur konsumsi secara umum.
Telur konsumsi yang dijual di pasar berasal dari industri ayam petelur komersial.
Jenis telur tersebut berasal dari seluruh ayam betina yang menghasilkan telur infertil tanpa pembuahan.
Sementara itu, telur fertil yang disebut tidak aman dikonsumsi asalnya dari ayam betina yang dibuahi pejantan.
Hal tersebut menyebabkan telur fertil mengandung embrio di dalamnya.
“Telur jenis ini membutuhkan penyimpanan bersuhu rendah,” kata Niken.
“Jika dibiarkan pada suhu ruang, embrio dapat berkembang sebagian dan membuat telur cepat busuk,” sambungnya.
Di sisi lain, tujuan pemeliharaan ayam berbeda-beda, seperti untuk menghasilkan telur atau daging.
Oleh sebab itu, ada beberapa galur ayam yang berkembang, baik ras maupun lokal.
Niken mengatakan, ayam petelur komersial dipelihara supaya menghasilkan telur konsumsi.
Sedangkan, ayam pedaging komersial seperti broiler dipelihara khusus untuk daging.
“Ayam broiler komersial hanya dipelihara singkat, sekitar lima minggu, lalu dipotong. Jadi ayam pedaging tidak sampai bertelur,” jelasnya.
Lebih lanjut, Niken menyampaikan, ayam pedaging bibit atau breeder broiler dipelihara khusus untuk menghasilkan telur tertunas (fertil).
Telur tersebut nantinya ditetaskan menjadi bibit broiler komersial.
Telur-telur inilah yang disebut telur fertil karena dihasilkan dari induk betina yang dibuahi pejantan.
Meski kandungan gizinya, terutama protein dan asam amino esensial, tidak jauh berbeda, risiko kerusakan telur fertil lebih tinggi dibanding telur konsumsi.
Karena alasan itulah, telur fertil tidak diperuntukkan untuk konsumsi masyarakat umum.
Dampak lain jika penjualan telur dari industri pembibitan dapat menyebabkan stabilitas harga telur konsumsi di pasaran menjadi terganggu.
“Pemahaman ini penting agar masyarakat dapat memilih telur yang aman, bergizi, dan sesuai peruntukannya,” tutupnya.
Daya Tahan Telur Fertil
Dikutip dari laman resmi UGM, Rabu (20/5/2020), telur fertil memiliki daya tahan yang lebih rendah dari telur infertil.
Telur fertil dapat bertahan selama tujuh hari, sedangkan telur ayam ras dari peternak layer bisa awet hingga 30 hari di suhu ruangan.
Meski begitu, tidak ada perbedaan kandungan gizi pada kandungan fertil dan infertil.
Telur ayam mengandung protein bernilai tinggi, lemak, dan vitamin, seperti A, B, D, E.
Telur juga mengandung zat besi, fosfor, selenium, dan asam amino lengkap yang dibutuhkan tubuh.
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Ikuti terus update topik ini dan notifikasi penting di Aplikasi KOMPAS.com.