Harga Pangan Naik Imbas Perang, Ayam hingga Telur Makin Mahal!
Kenaikan biaya energi global mulai merambat ke kebutuhan pokok masyarakat di negara tetangga Indonesia, Thailand. Harga sejumlah bahan pangan seperti ayam, daging babi, hingga telur tercatat mengalami kenaikan dalam beberapa pekan terakhir, seiring meningkatnya biaya produksi akibat gejolak harga energi dunia.
Tekanan ini dipicu oleh ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang mendorong volatilitas harga energi, terutama minyak. Dampaknya mulai terasa pada sektor pangan karena produsen harus menanggung biaya logistik, pakan ternak, hingga operasional yang lebih mahal.
Data Kementerian Perdagangan Thailand menunjukkan tren kenaikan cukup jelas pada produk protein segar. Harga ayam menjadi salah satu yang paling mencolok. Paha bawah ayam (drumstick) yang sebelumnya dijual sekitar 80–85 baht per kilogram atau setara Rp40.000–Rp42.500 per kg, kini naik menjadi 92–95 baht atau sekitar Rp46.000–Rp47.500 per kg per 17 April 2026.
Sementara itu, harga paha ayam juga ikut meningkat dari sebelumnya 85–100 baht per kg atau sekitar Rp42.500–Rp50.000 menjadi 95–100 baht per kg atau sekitar Rp47.500–Rp50.000.
Kenaikan serupa juga terjadi pada daging babi. Potongan kaki babi tanpa trim kini dijual di kisaran 140–150 baht per kg atau sekitar Rp70.000–Rp75.000, naik dari posisi awal Maret yang berada di level 130–145 baht atau sekitar Rp65.000–Rp72.500 per kg.
Harga telur pun ikut terkerek. Telur ukuran tiga yang populer di masyarakat naik dari 3,5–3,6 baht per butir atau sekitar Rp1.750–Rp1.800 menjadi 3,9–4 baht atau sekitar Rp1.950–Rp2.000 per butir pada pertengahan April.
Kantor Kebijakan dan Strategi Perdagangan Thailand (TPSO) mencatat harga telur per tray naik dari 121 baht atau sekitar Rp60.500 menjadi 133 baht atau sekitar Rp66.500, atau melonjak hampir 10 persen. Ini menjadi salah satu kenaikan paling tajam di antara barang kebutuhan pokok.
Untuk komoditas sayuran, harga relatif masih stabil. Kale dan kangkung China masih berada di kisaran 35–40 baht per kg atau sekitar Rp17.500–Rp20.000, sementara ketumbar bertahan di rentang 90–100 baht atau sekitar Rp45.000–Rp50.000 per kg.
Namun jeruk nipis mengalami lonjakan signifikan karena faktor musiman. Harga yang sebelumnya hanya 3–4 baht per buah atau sekitar Rp1.500–Rp2.000 kini naik menjadi 6–8 baht atau sekitar Rp3.000–Rp4.000 per buah akibat cuaca panas yang mengurangi pasokan.
TPSO menyebut perbandingan harga ritel modern antara 17 Maret hingga 7 April menunjukkan pola kenaikan yang jelas, khususnya pada produk daging. Salah satu penyebabnya adalah pasokan yang semakin ketat.
Beberapa jenis daging babi bahkan mengalami kenaikan lebih tinggi. Pork loin di Big C naik dari 129 baht menjadi 135 baht per kg atau dari Rp64.500 menjadi Rp67.500. Pork shoulder naik dari 170 baht menjadi 184 baht per kg atau dari Rp85.000 menjadi Rp92.000.
Sementara trimmed tenderloin dari CP melonjak dari 143 baht menjadi 161 baht per kg atau dari Rp71.500 menjadi Rp80.500, naik 12,59 persen. Secara keseluruhan, harga daging babi naik antara 3 persen hingga 12,6 persen.
Meski demikian, beberapa barang konsumsi seperti minyak goreng, sampo, dan deterjen belum mengalami kenaikan harga resmi. Persaingan pasar yang ketat membuat produsen masih mengandalkan promosi untuk menjaga daya beli konsumen.
Sebagai contoh, minyak goreng kemasan 1 liter yang sebelumnya sering dijual promo di kisaran 43–45 baht atau Rp21.500–Rp22.500 kini umumnya hanya didiskon menjadi 48–50 baht atau sekitar Rp24.000–Rp25.000, mendekati harga normalnya.
Direktur Jenderal TPSO Nantapong Chiralerspong mengatakan Indeks Harga Produsen (PPI) diperkirakan akan terus naik dan tetap bergejolak pada kuartal II 2026. "Harga energi dan pergerakan nilai tukar menjadi faktor utama yang mendorong biaya produksi lebih tinggi," ujarnya sebagaimana dikutip dari The Straits Times, Senin, 20 April 2026.
Tekanan harga diperkirakan belum berhenti. Kementerian Perdagangan Thailand saat ini tengah meninjau permintaan kenaikan harga untuk tiga produk utama, yakni minyak sawit kemasan, sampo, dan sabun.
Wakil Perdana Menteri sekaligus Menteri Perdagangan Thailand Suphajee Suthumpun mengatakan pemerintah sedang mengevaluasi struktur biaya sebelum memberikan persetujuan. Keputusan diperkirakan keluar dalam 15 hari ke depan.
Untuk saat ini, belum ada izin resmi kenaikan harga. Namun arah pergerakan harga dinilai semakin jelas, yakni tekanan inflasi mulai menjalar dari sektor energi ke kebutuhan rumah tangga sehari-hari.