Teknologi Masih Mahal, Pakar IPB Jelaskan Fakta di Balik Ambisi Jerami Jadi Energi Alternatif
Pakar Teknik Mesin dan Biosistem dari IPB University, Dr Leopold Oscar Nelwan, menyatakan bahwa jerami memiliki potensi besar untuk dimanfaatkan sebagai bahan bakar alternatif.
Pernyataan tersebut disampaikan dalam keterangan resmi IPB di Bogor, Jumat (21/11/2025), sebagai bagian dari penjelasan mengenai teknologi konversi biomassa lignoselulosa.
Menurut Leopold, beberapa sumber menunjukkan bahwa jerami dapat diperlakukan sebagai biomassa lignoselulosa yang mampu dikonversi menjadi bahan bakar.
"Yang dimaksud dengan bahan bakar adalah hidrokarbon, bukan etanol atau biodiesel, karena hanya hidrokarbon yang memenuhi standar komersial jika dipasarkan secara murni untuk mesin," ujarnya dikutip dari keterangan resmi IPB.
Hidrokarbon merupakan senyawa yang tersusun atas karbon dan hidrogen, yang diklasifikasikan ke dalam kelompok paraffin, isoparaffin, olefin, dan aromatik.
Jumlah atom karbon di dalamnya menentukan sifat fisik serta penggunaan bahan bakar tersebut, misalnya bensin berada pada rentang C5–C12 dan solar pada C12–C20.
Melalui Jalur Apa Jerami Dikonversi Menjadi Hidrokarbon?
Leopold menjelaskan bahwa terdapat berbagai jalur konversi biomassa lignoselulosa menjadi hidrokarbon. Sebagian besar jalur tersebut masih berada dalam tahap penelitian.
Beberapa yang populer mencakup proses termokimia seperti gasifikasi yang dilanjutkan dengan sintesis Fischer–Tropsch (FT), serta pirolisis cepat yang menghasilkan bio-oil kemudian diproses melalui hydrotreating.
Ia juga menerangkan proses konversi melalui hidrolisis monosakarida, baik melalui direct sugar to hydrocarbon conversion (DSHC) maupun melalui etanol dengan mekanisme alcohol to hydrocarbon.
"Dari seluruh proses tersebut, yang paling mendekati tahap komersialisasi adalah gasifikasi dan FT, karena prinsipnya telah diterapkan pada konversi batu bara," katanya.
Namun, Leopold menegaskan bahwa banyak tahap konversi, baik termokimia maupun hidrolisis, memerlukan katalis khusus serta kondisi operasi bersuhu dan bertekanan tinggi. Hal ini berkontribusi pada tingginya biaya produksi.
Mengapa Biaya Produksi Masih Menjadi Kendala?
Menurut Leopold, tantangan terbesar dari pengembangan bahan bakar hidrokarbon berbasis biomassa adalah biaya produksi yang masih tinggi.
"Beberapa literatur menyebutkan bahwa biaya menghasilkan satu liter bahan bakar melalui proses FT dari batu bara mencapai 0,8–1,6 dolar AS, bahkan biaya prosesnya bisa lebih dari empat kali harga batu bara," katanya.
Konversi limbah biomassa menjadi bahan bakar termasuk dalam kategori biofuel generasi kedua yang mendukung keberlanjutan lingkungan.
Meski demikian, teknologi ini belum banyak diterapkan karena membutuhkan investasi besar dan biaya operasional yang signifikan.
Teknologi ini baru akan memiliki daya saing lebih kuat apabila harga bahan bakar fosil meningkat atau pembatasannya diperketat.
Bagaimana Peran Jawa Barat dalam Inovasi Bahan Bakar Jerami?
Bobibos berbasis jerami diuji di Bogor, hasilnya mengejutkan: performa responsif, emisi nyaris nol, dan RON tembus 98,1.
Terpisah dari kajian ilmiah Leopold, Pemerintah Provinsi Jawa Barat mengambil langkah konkret dengan menjalin kerja sama untuk mengembangkan bahan bakar berbasis jerami.
Pada Sabtu (15/11/2025), Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi menandatangani nota kesepahaman dengan penemu Bahan Bakar Original Buatan Indonesia Bos (Bobibos), Muhammad Ikhlas Thamrin, di Lembur Pakuan, Kabupaten Subang.
"Kita sudah tanda tangan MoU. MoU-nya sudah ditandatangani antara saya dengan bosnya, Bobibos," ujar Dedi dalam rekaman video yang diterima Kompas.com.
Dedi menjelaskan bahwa produksi perdana bahan bakar nabati tersebut akan dilakukan dalam waktu dekat, dimulai dengan uji coba terbatas di lingkungan Lembur Pakuan.
"Nanti ke depannya adalah hal-hal yang bersifat teknisnya. Jadi minggu depan kita panen. Maka jeraminya akan segera dibuat produksi untuk bahan bakar nabati dan konsumsinya hanya untuk uji coba di lingkungan Lembur Pakuan dulu," katanya.
Apa Manfaat Ekonomi dan Lingkungan dari Pengembangan Ini?
Menurut Dedi, penggunaan bahan bakar nabati tidak hanya ramah lingkungan, tetapi juga diyakini mampu mengurangi beban subsidi BBM.
Ia menyebutkan bahwa jika uji coba berjalan baik, bahan bakar jerami akan diterapkan di seluruh Organisasi Perangkat Daerah (OPD) Jawa Barat.
"Minimal seluruh jajaran pemerintah Provinsi Jawa Barat ke depan menggunakan bahan bakar nabati sehingga APBD-nya efisien. APBD-nya efisien, subsidi negaranya terkurangi karena subsidi BBM sama tinggi," tuturnya.
Selain itu, penggunaan jerami sebagai bahan bakar dinilai dapat meningkatkan kesejahteraan petani. Selama ini jerami dianggap limbah tanpa nilai ekonomi.
Namun melalui inovasi ini, jerami dapat dijual sebagai bahan baku energi. "Dan kemudian alamnya terjaga. Kemudian petaninya sugih mukti. Kenapa? Karena nanti petani bukan hanya jual padi, nanti jual jerami. Pokoknya jerami diolah, negara pun berkah," pungkasnya.
Sebagian artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "".
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Ikuti terus update topik ini dan notifikasi penting di Aplikasi KOMPAS.com.