Ramai soal Kemunculan “Awan Kontainer” Bikin Cuaca Ekstrem, Ini Penjelasan Pakar IPB

awan kontainer, hujan asam, Ramai soal Kemunculan “Awan Kontainer” Bikin Cuaca Ekstrem, Ini Penjelasan Pakar IPB

Cuaca ekstrem yang terjadi di sejumlah wilayah Indonesia pada Januari 2026 ramai diperbincangkan warganet di media sosial. 

Salah satu isu yang mencuat adalah kemunculan istilah “awan kontainer”.

Sebagian pengguna media sosial mengaitkan hujan lebat dan cuaca tak menentu dengan dugaan konspirasi cuaca, mulai dari modifikasi oleh elite global hingga kerusakan lingkungan di berbagai negara.

Narasi tersebut memicu perdebatan publik, terutama karena istilah awan kontainer kerap digunakan tanpa penjelasan ilmiah yang jelas.

"Udah lewat di IG, katanya modifikasi cuaca something oleh elit global," cuit akun @ari****, Jumat (23/1/2026).

"bukan konspirasi, simple aja penjelasannya karena hutan yg rusak di banyak negara menyebabkan suhu semakin naik di musim panas kemaren,INGET KAN? lalu bikin air laut dan darat menguap lebih banyak menjadi awan hujan/salju di musim hujan/salju menjadi lebih banyak jadi banjir," tulis warganet lain.

Lantas, benarkah istilah awan kontainer berkaitan langsung dengan cuaca ekstrem yang terjadi?

Pakar IPB Tegaskan Tidak Ada Istilah Awan Kontainer

Pakar dari Departemen Geofisika dan Meteorologi Institut Pertanian Bogor (IPB) Sonni Setiawan menegaskan bahwa istilah awan kontainer tidak dikenal dalam kajian ilmiah meteorologi.

Ia juga menyebutkan, istilah awan kontainer merupakan kesalahpahaman dalam memahami fenomena atmosfer.

Terkait penggunaan istilah “awan kontainer” oleh sejumlah kreator konten, Sonni menilai hal tersebut lebih bersifat subjektif dan tidak memiliki rujukan ilmiah yang dapat dipertanggungjawabkan.

“Sampai saat ini, tidak ada istilah atau konsep dalam meteorologi yang menyebutkan keberadaan ‘awan kontainer’ seperti yang dimaksud,” ujarnya dalam keterangan resmi yang diterima Kompas.com, Rabu (28/1/2026).

“Kesimpulan saya, ada kekeliruan dalam memahami proses presipitasi, terutama pada tahap pengintian atau pembentukan inti kondensasi,” ujarnya.

Hujan Asam Sebabkan Masalah Kulit

Sonni menjelaskan, berbagai keluhan masyarakat yang muncul bersamaan dengan hujan, seperti kulit gatal, mata perih, hingga munculnya busa pada air hujan, kerap disalahartikan sebagai dampak jenis awan tertentu.

Padahal, keluhan kulit gatal hingga busa pada air hujan berkaitan dengan fenomena hujan asam.

“Hujan asam terjadi akibat gas-gas polutan di udara yang berperan sebagai inti kondensasi, kemudian larut dalam air hujan. Apalagi di wilayah dengan tingkat polusi udara tinggi, potensi terjadinya hujan asam memang lebih besar,” jelas Sonni.

Ia juga menepis anggapan bahwa awan dapat bersifat kaku atau tidak bergerak. 

Menurut Sonni, awan secara alami selalu mengalami perubahan bentuk dan pergerakan mengikuti dinamika atmosfer.

“Ketika awan disebut tidak bergerak atau tidak berubah bentuk, itu biasanya hanya berdasarkan pengamatan mata telanjang sesaat, padahal secara fisik awan terus mengalami perubahan,” ujarnya.

Selain itu, Sonni turut menanggapi klaim yang mengaitkan garis-garis lurus di langit dengan fenomena awan kontainer. 

Ia menjelaskan bahwa garis tersebut merupakan jejak kondensasi pesawat atau contrail.

Namun, contrail tidak bersifat menetap dan akan berubah bentuk seiring waktu.

“Itu adalah uap air hasil pembakaran bahan bakar pesawat. Ketika berada di lapisan udara yang dingin, uap air tersebut mendingin dan mengondensasi sehingga tampak sebagai garis lurus di langit,” jelasnya.

“Jika diamati dengan cermat, dalam beberapa menit bentuknya akan menyebar dan berubah menjadi tidak teratur. Ini menunjukkan adanya kekeliruan pengamatan yang bisa memicu kesimpulan yang salah,” tuturnya.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang