Mitos atau Fakta, Benarkah Konsumsi Kedelai Berbahaya bagi Hormon? Ini Penjelasan Pakar
Bicara soal kedelai, rasanya kita sering mendengar kabar yang simpang siur.
Di satu sisi, tempe dan tahu adalah primadona protein nabati murah bagi masyarakat di Indonesia.
Tapi di sisi lain, muncul kekhawatiran, katanya kedelai bisa mengganggu hormon, atau "Hati-hati, kedelai bisa memicu kanker!"
Keresahan ini sering membuat kita ragu untuk menikmati semangkuk susu kedelai atau sepiring tahu goreng.
Namun, benarkah kedelai seburuk itu bagi kesehatan hormon kita?
Mengutip dari Real Simple, para pakar gizi akhirnya angkat bicara untuk meluruskan mitos yang sudah lama beredar.
Mengapa Kedelai Sering Dianggap "Berbahaya"?
Akar dari ketakutan ini adalah kandungan isoflavon pada kedelai. Isoflavon adalah jenis fitoestrogen, senyawa nabati yang strukturnya mirip dengan hormon estrogen manusia.
Banyak orang khawatir jika kita mengonsumsi kedelai, isoflavon ini akan meniru kerja estrogen secara berlebihan, yang kemudian dianggap bisa memicu kanker payudara atau menyebabkan masalah kesuburan pada pria.
Namun, para ahli menegaskan bahwa tubuh manusia merespons fitoestrogen dengan cara yang jauh berbeda dari estrogen asli.
Menurut Maya Feller, MS, RD, CDN, seorang ahli gizi dari Maya Feller Nutrition yang dikutip oleh Real Simple, kedelai sebenarnya memiliki banyak manfaat yang sering terlupakan.
Ilustrasi tempe. Tempe didorong sebagai pilihan utama dalam Program Makan Bergizi Gratis untuk mendukung kesehatan anak sekolah dan pemberdayaan perajin lokal.
"Kedelai adalah protein lengkap yang mengandung sembilan asam lemak esensial yang tidak bisa diproduksi sendiri oleh tubuh. Selain itu, kedelai kaya akan serat, kalium, dan magnesium," ujar Feller.
Terkait isu hormon, Dr. Kristi Funk, seorang ahli bedah payudara dan penulis buku kesehatan, menjelaskan bahwa isoflavon justru bisa bersifat protektif.
Isoflavon akan berikatan dengan reseptor estrogen di sel tubuh, namun efeknya jauh lebih lemah, sekitar 1.000 hingga 10.000 kali lebih lemah dibanding estrogen alami kita.
Dalam banyak kasus, ini justru membantu menghalangi efek negatif dari estrogen berlebih dalam tubuh.
1. Kedelai dan Risiko Kanker
Banyak studi menunjukkan bahwa konsumsi kedelai dalam jumlah wajar justru berhubungan dengan penurunan risiko kanker payudara dan kanker prostat.
Hal ini dikarenakan sifat antioksidan dan anti-inflamasi yang terkandung di dalamnya.
2. Apakah Pria Boleh Makan Kedelai?
Salah satu mitos paling populer adalah kedelai bisa menurunkan kadar testosteron atau menyebabkan efek feminin pada pria.
Faktanya, riset klinis yang ekstensif menunjukkan bahwa asupan kedelai tidak memiliki efek pada kadar hormon pria atau kesuburan mereka.
Tidak Semua Produk Kedelai Sama
Meski para pakar setuju bahwa kedelai itu sehat, mereka memberikan catatan penting: kualitas itu nomor satu.
- Kedelai Utuh & Fermentasi: Tempe, tahu, edamame, dan miso adalah pilihan terbaik. Karena bentuknya yang masih utuh atau melalui proses fermentasi, nutrisinya tetap terjaga dan lebih mudah dicerna oleh usus.
- Produk Olahan (Ultra-Processed): Hindari mengonsumsi berlebihan suplemen protein kedelai yang diisolasi (soy protein isolate) atau daging tiruan yang mengandung banyak bahan kimia tambahan. Produk ini biasanya sudah kehilangan serat dan nutrisi alaminya.
Lantas bagaimana kesimpulannya, apakah aman mengonsumsi kedelai? Jawabannya sangat aman.
Mengonsumsi kedelai sebagai bagian dari diet seimbang justru memberikan perlindungan bagi jantung dan kepadatan tulang, terutama bagi wanita yang memasuki masa menopause.
Jadi, tidak perlu lagi takut makan tahu atau tempe. Selama kamu memilih produk kedelai yang minim proses pengolahan, justru akan memberikan manfaat bagi hormon kamu.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang